Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Anggapan bahwa jamu hanya konsumsi generasi tua mulai dipatahkan di Kabupaten Semarang. Sebanyak 138 siswa SDN 01 Asinan, Bawen, justru terjun langsung mempelajari rahasia dapur rempah Nusantara di edu wisata Yodesia, Bergas. Bukan sekadar mencicipi, para siswa ini diajarkan mengolah hingga mengemas minuman herbal dengan standar modern layaknya pengusaha muda.
Melalui program tahunan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS), para siswa tidak hanya duduk di kelas, tetapi praktik langsung bersama Rumah Edukasi Rempah AIG Bunda Nisa dan tim ChemImpact dari Departemen Kimia Universitas Diponegoro (Undip). Mereka belajar bahwa jahe, kunyit, dan sereh bukan sekadar bumbu dapur, melainkan aset kesehatan dan ekonomi yang bernilai tinggi.

Rebranding Jamu di Mata Generasi Alpha
Pendekatan yang dilakukan tergolong unik. Owner AIG Bunda Nisa, Susmulyati, bersama tim ahli dari Undip, tidak menggunakan istilah medis yang rumit. Para siswa diajak memahami bahwa rasa lezat pada nasi kuning, rendang, dan soto yang mereka konsumsi sehari-hari berasal dari kekuatan rempah yang sedang mereka pelajari.
Prof. Dr. Bambang Cahyono, Ketua tim pengabdian Undip, menekankan pentingnya literasi sains terapan sejak dini. Untuk menarik perhatian generasi Alpha yang visual, edukasi diperkuat dengan enam video animasi durasi pendek yang menjelaskan khasiat bunga telang, kayu secang, hingga umbi-umbian secara interaktif.

Simulasi Produksi: Dari Geprek Hingga Branding
Daya tarik utama kegiatan ini adalah sesi praktik lapangan yang dipandu Budi Prasetyawan. Siswa tidak hanya menonton, mereka belajar:
- Teknis Pengolahan: Mencuci, menggeprek kunyit, hingga memeras lemon dengan rasio yang tepat.
- Higiene & Kemasan: Mempelajari pentingnya kebersihan dan estetika kemasan, termasuk memasang stiker branding pada botol minuman.
- Filosofi Konsumsi: Menikmati hasil racikan sendiri sebagai bentuk apresiasi terhadap karya lokal.
Kepala SDN 01 Asinan, Sri Rahayu, mengapresiasi pola pendidikan luar ruang ini. Menurutnya, menanamkan pola hidup sehat berbasis kearifan lokal jauh lebih efektif dilakukan melalui praktik langsung daripada sekadar teori di buku pelajaran.
Dengan kolaborasi antara akademisi, praktisi rempah, dan sekolah, diharapkan muncul generasi baru yang tidak hanya bangga mengonsumsi jamu, tetapi juga mampu mengolah kekayaan hayati Indonesia menjadi produk yang kompetitif di masa depan.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.