Surabaya, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Selama ini publik sering menganggap kucuran dana sebagai faktor tunggal kemajuan desa. Namun, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar, mematahkan stigma tersebut. Ia menegaskan bahwa nasib pembangunan desa justru berada di tangan kualitas para pelatih atau fasilitatornya.
Gus Halim—sapaan akrabnya—menyatakan bahwa infrastruktur yang hebat takkan berarti tanpa pemberdayaan manusia yang mumpuni. Hal ini ia sampaikan dalam pembukaan Training of Trainer (ToT) Peningkatan Partisipasi Pegiat Desa di Surabaya. Menurutnya, para fasilitator adalah ujung tombak yang akan mencetak kader-kader penggerak di pelosok negeri.
Mencetak 5 Kader Per Desa
Dalam skema besar Kemendes PDTT, setiap desa diproyeksikan memiliki lima kader pegiat desa yang akan dilatih secara intensif. Kader-kader inilah yang nantinya menjadi motor penggerak pembangunan di lapangan. Namun, kualitas bimbingan teknis bagi kader tersebut sepenuhnya bergantung pada kematangan para fasilitator yang saat ini sedang digembleng dalam ToT.
“Kualitas pelatihan salah satu kuncinya adalah kualitas dari pelatihnya. Makanya dilatih dulu melalui Training of Trainer. Syaratnya satu: serius mendalami dan mampu mengimplementasikan ilmu dengan baik,” tegas Gus Halim.
Jawa Timur Sebagai ‘Laboratorium’ Nasional
Pemilihan Jawa Timur sebagai lokasi ToT bukan tanpa alasan. Wilayah ini dijadikan laboratorium percontohan nasional untuk lima kabupaten strategis, yakni Gresik, Mojokerto, Sampang, Bojonegoro, dan Jember. Keberhasilan maupun kelemahan teknis dalam pelatihan di wilayah ini akan menjadi potret sekaligus rujukan bagi pelaksanaan bimbingan teknis di daerah-daerah lain di seluruh Indonesia.
Strategi “melatih sang pelatih” ini merupakan langkah out of the box kementerian untuk memastikan bahwa kebijakan pusat tidak hanya berhenti sebagai dokumen, melainkan berubah menjadi gerakan nyata yang partisipatif di level akar rumput.
Gus Halim berharap para Tenaga Pendamping Profesional (TPP) yang terpilih mampu melakukan yang terbaik. Sebab, mereka bukan sekadar bekerja sebagai staf administrasi, melainkan sebagai fasilitator yang sedang melakukan pengabdian besar untuk kedaulatan bangsa melalui kemandirian desa.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.