oleh: Suryokoco Suryoputro
“Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa…” demikian kutipan dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular yang menjadi pondasi filosofi bangsa ini: Bhinneka Tunggal Ika. Ungkapan itu menegaskan bahwa meskipun berbeda dalam bentuk dan nama—Buddha dan Siwa—keduanya sejatinya satu dalam hakikat kebenaran.
Falsafah ini relevan dalam konteks kekinian, terutama dalam membangun desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Koperasi Desa (KopDes). Keduanya sering kali diposisikan sebagai dua entitas yang terpisah, bahkan dianggap saling bersaing. Namun bila kita gali lebih dalam, semangat di balik keduanya adalah tunggal: memuliakan desa.
Dua Nama, Satu Tujuan: Membangun Kedaulatan Ekonomi Desa
Seperti halnya perbedaan simbolik antara Hindu dan Buddha yang dipersatukan oleh nilai spiritualitas, BUMDes dan KopDes adalah dua jalan yang berbeda menuju tujuan yang sama, yaitu kemandirian dan kesejahteraan desa.
- BUMDes lahir sebagai instrumen pemerintah desa untuk mengelola potensi lokal berbasis regulasi dan tata kelola publik.
- KopDes berangkat dari semangat gotong royong dan keanggotaan masyarakat desa untuk memperkuat usaha mikro, akses permodalan, dan ekonomi kolektif.
Mereka memiliki bentuk, struktur, bahkan tata kelola yang mungkin berbeda. Namun “tan hana dharma mangrwa” – tiada kebenaran yang mendua – karena keduanya sama-sama menumbuhkan akar ekonomi desa
Menghindari Polarisasi: Pelajaran dari Kakawin Sutasoma
Dalam masyarakat modern, kerap kali terjadi dualisme yang justru mengaburkan nilai inti pembangunan. Ada yang memihak BUMDes, ada yang mengusung KopDes, hingga tak jarang terjadi konflik ego sektoral dan tumpang tindih kewenangan.
Namun, bila kita menengok kebijaksanaan leluhur dalam Kakawin Sutasoma, perbedaan tidak dimaksudkan untuk dipertentangkan, melainkan dipertemukan.
“Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen?”
‘Memang berbeda, tetapi apa yang membuatnya layak dipertentangkan?’
Dengan semangat ini, BUMDes dan KopDes seharusnya tidak dipandang sebagai pesaing, melainkan mitra strategis yang saling melengkapi.
Sinergi Ideal: BUMDes sebagai Motor, KopDes sebagai Dinamo Sosial
Bayangkan bila BUMDes menjadi motor penggerak pengelolaan aset desa—penginapan wisata, pasar digital, distribusi produk lokal—sementara KopDes menjadi dinamo sosial yang mendistribusikan manfaat ekonomi itu melalui simpan pinjam, pelatihan kewirausahaan, atau koperasi petani.
Dengan demikian:
- BUMDes menjadi alat optimalisasi potensi.
- KopDes menjadi sarana pemerataan hasil.
Keduanya bekerja dalam satu irama, sebagaimana Jinatwa dan Sivatattwa yang tunggal dalam pengabdian pada kebenaran dan kesejahteraan umat.
Merawat Semangat Kebangsaan dari Desa
Indonesia bukan hanya dibangun oleh kota, tetapi oleh ruang-ruang peradaban kecil bernama desa. Desa adalah titik awal sekaligus fondasi peradaban Nusantara. Maka memuliakan desa berarti merawat keindonesiaan.
Menghidupkan BUMDes dan KopDes secara harmonis tidak hanya soal ekonomi, melainkan tentang merajut ulang makna gotong royong, musyawarah, dan semangat kolektif yang menjadi jati diri bangsa.
Sebagaimana harmoni antara Hindu dan Buddha pernah melahirkan kejayaan Nusantara, harmoni antara BUMDes dan KopDes adalah kunci menuju kejayaan desa di era modern.
Satu Jalan, Banyak Nama
Bila Mpu Tantular bisa melihat masa kini, ia mungkin tersenyum: semangat Bhinneka Tunggal Ika hidup bukan hanya dalam simbol negara, tetapi dalam denyut ekonomi desa.
Mari kita rawat semangat ini. Bukan dengan mempertentangkan BUMDes dan KopDes, tetapi dengan menyatukannya dalam visi besar: memuliakan desa sebagai fondasi masa depan Indonesia.
“Mangka ng Jinatwa kalawan Sivatattwa tunggal”
Sebab kebenaran Jina dan Siwa adalah satu
Begitu juga…
BUMDes dan KopDes adalah satu dalam pengabdian pada Desa.

Jurnalis dan Pegiat Pemberdayaan Masyarakat Peduli Desa. Saat ini adalah Ketua Komunitas Desa Indonesia dan Koordinator Mobile Journalist Desa


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.