Jakarta [DESA MERDEKA] –Hubungan persahabatan internasional kini tidak lagi hanya menjadi urusan formal diplomat di pemerintahan pusat, melainkan mulai tumbuh secara organik dari tingkat akar rumput dan komunitas lokal. Fenomena ini terlihat jelas dalam ruang diskusi bertajuk “Bridges Beyond Borders: Strengthening Friendship Through Cultural Understanding and Global Collaboration” yang digelar di Aula TP Rachmat, Universitas Paramadina Kampus Cipayung, Senin (31/8/2026).
Menariknya, kegiatan kolaborasi antara Universitas Paramadina, Nagasaki Women’s Junior College, dan AWINA ini tidak hanya mempertemukan para akademisi lintas negara, tetapi juga merangkul elemen pemerintah tingkat tapak dengan kehadiran Lurah Cipayung, Yulian Fathinah, S.STP. Sinergi ini menegaskan bahwa penguatan wawasan global bagi generasi muda justru harus dimulai dari kedekatan komunitas di wilayah kelurahan atau pedesaan.
Akar Rumput sebagai Fondasi Hubungan Antarnegara
Keterlibatan aktif masyarakat lokal tersebut sejalan dengan pandangan Ketua Program Studi Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Dr. Rizki Damayanti. Ia menegaskan bahwa fondasi terkuat dari diplomasi internasional sebenarnya lahir dari interaksi langsung antarmasyarakat atau people-to-people connections.
“Hubungan antarnegara tidak hanya dibangun melalui hubungan diplomatik dan kerja sama antarpemerintah, tetapi juga melalui people-to-people connections—melalui pertemanan, pendidikan, kebudayaan, dan pengalaman yang kita bagikan bersama,” ujar Rizki.
Menurutnya, pemuda di tingkat lokal adalah jembatan terbaik untuk membangun mutual understanding atau sikap saling menghargai cara berpikir dan budaya bangsa lain.

Relasi kultural yang membumi ini bukanlah hal baru, melainkan sebuah proses panjang yang terus dirawat. Dosen HI Universitas Paramadina, Asriana Issa Sofia, MA, mengulas bagaimana relasi kedua negara ini tumbuh secara historis dari masa konflik menuju rekonsiliasi. Salah satu momentum penting yang ia soroti adalah lahirnya Doktrin Fukuda pada tahun 1977, sebuah kebijakan yang menjadi peletak dasar hubungan setara yang berbasis pada pertukaran budaya dan penguatan ikatan antarmasyarakat.
Manisnya Sejarah: Jejak Gula Nusantara di Nagasaki
Ikatan sejarah yang berbasis pada pertukaran budaya tersebut terasa semakin nyata ketika Iwamoto Yoshinori dari Nagasaki Women’s Junior College membagikan perspektif personalnya. Dari kisah kebangkitan ibunya yang selamat dari tragedi bom atom Nagasaki tahun 1945, Iwamoto kemudian menarik benang merah yang mengejutkan tentang bagaimana hasil bumi Nusantara telah lama membentuk kebudayaan di Jepang.
Ia mengungkapkan bahwa hubungan perdagangan antara Nagasaki dan Indonesia sebenarnya telah mengakar sejak masa Edo beberapa abad silam.
Pada era tersebut, gula dari Indonesia menjadi salah satu komoditas utama yang masuk ke Nagasaki melalui perdagangan internasional. Komoditas manis inilah yang kemudian memengaruhi budaya pangan lokal di sana, termasuk menjadi asal-usul lahirnya Castella, kue tradisional yang hingga kini sangat identik dengan kota Nagasaki.
Fakta sejarah ini menjadi bukti autentik bahwa hasil bumi dari wilayah-wilayah lokal kita memiliki daya pengaruh yang melintasi batas negara.
“Saya sangat senang Universitas Paramadina dan Nagasaki Women’s Junior College dapat bersatu, melintasi batas negara, dan menyelenggarakan kegiatan seperti ini,” ungkap Iwamoto hangat.
Menjadi Kampus Peradaban yang Membumi
Adanya keterhubungan sejarah dan budaya inilah yang membuat ruang dialog lintas generasi menjadi sangat krusial bagi masa depan komunitas. Direktur Marketing dan Beasiswa Universitas Paramadina, Dr. Peni Hanggarini, menekankan bahwa esensi utama dari program Bridges Beyond Borders adalah membangun jembatan peradaban yang inklusif dan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat.
“Bagi Universitas Paramadina, Bridges Beyond Borders bukan sekadar tentang memperkenalkan budaya Indonesia dan Jepang, tetapi tentang membangun jembatan—jembatan persahabatan antara Indonesia dan Jepang, antara masyarakat dan generasi muda, serta antara dua budaya yang mungkin berbeda, tetapi memiliki banyak hal untuk dipelajari dan dibagikan bersama,” pungkas Peni.
Melalui kegiatan yang membumi ini, Universitas Paramadina membuktikan perannya sebagai kampus peradaban global yang tidak melupakan akar lokal. Diskusi ini menjadi pemantik penting bagi masyarakat dan generasi muda di tingkat komunitas untuk tidak hanya bangga pada kearifan lokalnya, tetapi juga berani melangkah dan berdialog di panggung dunia internasional.
Team Redaksi Untuk Kiriman Rilis Berita
Email : mydesamerdeka@gmail.com


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.