Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 15 Agu 2026 17:47 WIB ·

Menolak Punah di Samping Pabrik, Intip Arsitektur Rumah Sunda di Bekasi


					Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) menyampaikan sambutan pada Rapat Paripurna DPRD dalam rangka tasyakuran Hari Jadi ke-76 Kabupaten Bekasi di Gedung DPRD Kabupaten Bekasi, Kompleks Pemkab Bekasi, Cikarang Pusat, Sabtu (15/8/2026). Foto : Endar Raziq B/Diskominfosantik. Perbesar

Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) menyampaikan sambutan pada Rapat Paripurna DPRD dalam rangka tasyakuran Hari Jadi ke-76 Kabupaten Bekasi di Gedung DPRD Kabupaten Bekasi, Kompleks Pemkab Bekasi, Cikarang Pusat, Sabtu (15/8/2026). Foto : Endar Raziq B/Diskominfosantik.

Bekasi, Jawa Barat [DESA MERDEKA] Di balik riuh mesin pabrik dan kepulan asap kawasan industri terbesar Asia Tenggara, sebuah sudut senyap di perbatasan Kabupaten Bekasi justru sedang berbisik tentang masa lalu. Di Kecamatan Cibarusah dan Bojongmangu, deretan tiang kayu berlandaskan batu tatapakan masih berdiri kokoh. Bukan sebagai museum mati, melainkan sebagai rumah bagi kehidupan sehari-hari yang menolak tunduk pada kepungan beton semen.

Selama ini, jika kita berbicara tentang Kabupaten Bekasi, benak kita langsung menangkap citra lanskap masa kini: truk kontainer, buruh pabrik, kompleks ruko minimalis, dan kemacetan urban.

Namun, bergeraklah sekitar satu jam ke arah selatan menuju perbatasan Kabupaten Bogor, suasananya akan langsung berubah drastis. Angin sawah bertiup dingin menembus dinding-dinding bambu anyaman (gedek), membawa sisa-sisa peradaban Sunda yang selama ini terpinggirkan di sudut geografis metropolitan.

Kini, keheningan desa-desa tersebut bersiap menghadapi babak baru. Budaya lokal yang tadinya terjaga secara organik oleh para tetua di sudut kampung, pelan-pelan ditarik naik kelas menjadi fondasi jati diri provinsi.

Menjaga Sisa Jantung yang Berdegup
Menurut data dari Pemerintah Kabupaten Bekasi, sisa rumah panggung tradisional khas Sunda di kawasan tersebut kini berada di kisaran 20 persen. Angka yang kecil, namun berharga layaknya emas di tengah kawasan industri.

Salah seorang warga sepuh di Bojongmangu mengungkapkan bahwa merawat rumah panggung di era modern seperti saat ini tidaklah mudah. Tekanan ekonomi dan anggapan bahwa rumah tembok lebih “modern” sempat membuat banyak tetangga meruntuhkan bangunan kayu mereka.

Namun, esensi arsitektur ini sebenarnya sangat visioner. Struktur rumah panggung dengan pondasi batu yang fleksibel justru dirancang adaptif terhadap gempa dan menjaga sisa resapan air tanah tetap aman. Ketika tanah bergoyang, bangunan kayu ini bergeser secara lentur, bukannya retak lalu hancur layaknya beton semen.

Kesadaran komunal inilah yang kemudian memicu sebuah gerakan penataan. Alih-alih meratakan perkampungan asri tersebut demi memperluas zona industri baru, pemerintah daerah dan provinsi sepakat mengambil jalan sebaliknya: memugar wajah perdesaan tanpa menghilangkan nyawanya.

Sentuhan Kebijakan di Balik Layar
Langkah naik kelasnya kebudayaan akar rumput ini tidak terjadi di ruang hampa. Di latar belakang, kebijakan strategis pemerintah menjadi motor penggerak utamanya. Melalui gagasan yang dibawa oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) dalam Rapat Paripurna Hari Jadi ke-76 Kabupaten Bekasi, diputuskan bahwa lima desa di Cibarusah dan Bojongmangu akan ditata total menggunakan karakter Sunda asli.

Pendekatan regulasi hirarkis ini terasa berbeda. Pemerintah tidak meminta masyarakat desa berubah menjadi masyarakat modern perkotaan. Sebaliknya, identitas ekologis dan arsitektural mereka dipelihara, didanai lewat APBD, serta diintegrasikan dengan perbaikan infrastruktur jalan provinsi.

Bagian dalam rumah penduduk boleh saja mengadopsi fasilitas modern, mulai dari toilet bersih hingga jaringan internet. Namun secara visual dari luar, lansekap pepohonan, kolam ikan, sungai jernih, dan fasad bangunan tradisional dipertahankan sebagai benteng pelestarian budaya.

Budaya yang Aktif, Bukan Komoditas Mati
Strategi ini membalik cara pandang lama tentang pariwisata atau cagar budaya. Kampung adat tidak lagi diposisikan sebagai objek pajangan atau komoditas tontonan akhir pekan bagi orang kota. Dengan penataan ini, budaya desa bertransformasi menjadi sebuah ekosistem yang hidup berdampingan dengan industri modern.

Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Ade Syukron, sempat menekankan pentingnya ruang interaksi publik yang memiliki cerminan karakter lokal semacam ini. Bekasi membutuhkan penyeimbang agar pertumbuhan angka pendapatan daerah tidak mengorbankan harmoni alam dan manusia di dalamnya.

Pada akhirnya, apa yang terjadi di sudut Cibarusah dan Bojongmangu adalah pembuktian penting. Bahwa sebuah wilayah tidak harus mengubur masa lalunya untuk menyambut masa depan. Di tengah kepungan raksasa baja bernama industri, rumah-rumah panggung Sunda di sudut Bekasi itu memilih tegak berdiri, menunjukkan bahwa marwah kebudayaan desa bisa naik kelas dengan kepala tegak.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menjemput Damai Demang Kentol: Kisah Batik Sumberparang Malang

10 Agustus 2026 - 06:48 WIB

Simalakama di Kaki Bromo: Saat Penegak Adat Dibui Hukum Negara

8 Agustus 2026 - 06:26 WIB

Ironi Desa Budaya Bantul Antara Pelestarian Dan Birokrasi

7 Agustus 2026 - 16:11 WIB

Sengketa Lahan Lempuing Jaya dan Sengkarut Arsip Desa

31 Juli 2026 - 20:33 WIB

Nestapa Subari: Sisi Lain Keadilan Restoratif Desa Trangkil

31 Juli 2026 - 07:37 WIB

Minta Maaf Tak Cukup, Sanksi Adat Menanti di Kuranji

30 Juli 2026 - 09:35 WIB

Trending di SOSBUD