Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

IPTEK · 28 Jul 2026 13:55 WIB ·

Padi Semi Organik Kemetul: Panen Melimpah, Petani Sumringah


					Padi Semi Organik Kemetul: Panen Melimpah, Petani Sumringah Perbesar

Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Langkah berani diambil oleh Kelompok Tani (Gapoktan) “Sido Mulyo” di Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. Mereka konsisten beralih dari pertanian konvensional menuju budidaya padi semi organik. Hasilnya tidak main-main, produktivitas lahan meroket sekaligus membawa berkah kesejahteraan bagi petani lokal.

Bupati Semarang, H. Ngesti Nugraha, menegaskan bahwa pertanian semi organik telah terbukti jauh lebih menguntungkan. Berdasarkan data di lapangan, hasil panen padi semi organik mampu menembus angka 9,2 ton per hektar dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP). Angka ini unggul telak dibanding pertanian non-organik yang rata-rata hanya menghasilkan 6,2 ton per hektar.

“Pertanian organik harus terus dikembangkan dan disosialisasikan. Jika setahun bisa panen dua kali, tentu pendapatan petani akan lebih meningkat,” ujar Ngesti Nugraha penuh optimisme.

Pernyataan tersebut disampaikan Bupati usai melakukan penanaman padi semi organik secara simbolis di lahan Demonstrasi Area (Dem Area) Gapoktan “Sido Mulyo”, Selasa (28/7/2026) pagi.

Aksi turun ke sawah ini juga didampingi oleh Sekda Valeanto Sukendro, Kepala Dinas Pertanian Moh Edy Sukarno, Kepala Pelaksana BPBD Alexander Gunawan Tribiantoro, serta Kepala Bakesbangpol Suyana.

Sentuhan Teknologi Modern di Sawah Desa
Selain formula pupuk yang lebih alami, kunci sukses petani Desa Kemetul juga terletak pada modernisasi alat mesin pertanian (alsintan). Pemkab Semarang terus mengebut penyediaan teknologi modern ini untuk menekan biaya produksi sawah.

Ngesti mencontohkan, penggunaan mesin penanam padi (transplanter) terbukti mampu menghemat biaya operasional hingga Rp1,1 juta per hektar. Efisiensi ini kian optimal dengan hadirnya drone untuk pemupukan serta mesin pemanen (combine harvester) mini.

“Saat ini sudah disiapkan Combine di sebelas kecamatan untuk mempercepat proses pemanenan,” tambah Bupati.

Penerapan teknologi ini juga menjadi strategi jitu pemerintah daerah dalam memikat generasi milenial. Alsintan modern diharapkan menjadi solusi atas merosotnya minat pemuda untuk terjun ke sektor pertanian. Guna mendukung hal tersebut, Pemkab Semarang menggelar pelatihan khusus bagi 240 petani muda pada tahun ini.

Konsistensi Tiga Tahun yang Berbuah Manis
Keberhasilan di Desa Kemetul tidak terjadi dalam semalam. Ketua Gapoktan “Sido Mulyo”, Marjuki, menceritakan bahwa saat ini ada 20 petani yang aktif mengelola 10 hektar lahan Dem Area semi organik tersebut.

“Kami sudah memulai sejak dua tahun lalu. Kali ini adalah tanam tahun ketiga. Hasil panen per hektar per tahun terus meningkat,” kenang Marjuki.

Pada tahun pertama, petani sempat mencatat hasil 5 ton per hektar. Berkat ketekunan, angka itu naik menjadi 6 ton di tahun kedua, hingga kini terus merangkak naik melampaui hasil padi konvensional.

Bukan hanya kuantitas panen yang melonjak, nilai jual komoditas pasca-giling (selep) juga ikut terangkat. Harga beras semi organik meroket dari yang semula Rp600 ribu per kuintal, kini laku terjual hingga Rp700 ribu per kuintal.

Kepala Desa Kemetul, Agus Sudibyo, menyatakan rasa bangganya atas kemandirian warganya. Menurut Agus, gerakan kembali ke alam ini bukan sekadar mengejar keuntungan materiil semata.

“Gerakan pertanian semi organik ini esensinya adalah untuk menyediakan beras yang lebih sehat dan aman dikonsumsi bagi seluruh masyarakat,” pungkas Agus tersenyum.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 21 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Sawah Krandegan Panen 3 Kali Lewat Pompa Surya

22 Mei 2026 - 14:16 WIB

Membongkar Birokrasi Lambat, Desa Sukaindah Bekasi Bersiap Digital

18 Mei 2026 - 22:21 WIB

Hilirisasi Daun Iboih Ubah Wajah Ekonomi Aneuk Batee

2 Mei 2026 - 06:18 WIB

Modal Dengkul Hasil Sawah: Rahasia Sukses Kandang Komunal Kadirejo

13 April 2026 - 17:47 WIB

Sitinjau Lauik Merdeka Sinyal: Mudik 2026 Makin Aman

20 Maret 2026 - 21:32 WIB

Algoritma Baru Google: Angin Segar Buat Berita Desa

19 Maret 2026 - 11:26 WIB

Trending di IPTEK