Jombang, Jawa Timur [DESA MERDEKA]– Suasana di Desa Tunggorono, Kecamatan Jombang, mendadak riuh oleh langkah kaki para pejabat dan teknisi pada Jumat (24/7/2026). Hari itu, sebuah pertaruhan besar sedang diuji. Bukan sekadar tentang megahnya tembok pembatas atau kokohnya tiang beton, melainkan tentang masa depan anak-anak yang akan menggantungkan mimpi mereka di Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 Jombang.
Bagi Pemerintah Kabupaten Jombang, sebuah sekolah berasrama tidak boleh hanya menjadi tempat belajar yang dingin. Rumah baru bagi para siswa ini harus menjadi tempat yang paling aman. Aspek kemanusiaan dan keselamatan inilah yang menjadi roh dalam verifikasi lapangan serta Rapat Pleno Tim Transisi di kompleks Gedung Permanen Proyek Waskita/Kementerian Sosial tersebut.
Dari luar, tujuh gedung prioritas—mulai dari gedung SD, rusun guru, hingga asrama putra dan putri tingkat SMP-SMA—memang tampak gagah berdiri. Progres fisiknya sudah menyentuh angka 95 hingga 100 persen. Jaringan listrik, lampu penerangan, dan instalasi air mengalir tanpa sumbatan. Namun, Pemkab Jombang menolak menutup mata pada detail kecil yang berpotensi membawa bahaya.
“Fokus utama kita adalah percepatan penyelesaian tujuh gedung prioritas agar benar-benar siap dimanfaatkan saat MPLS tanggal 30 Juli mendatang,” ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Jombang, Agus Purnomo, dengan nada tegas. “Namun yang tak kalah penting adalah aspek keamanan dan kenyamanan siswa selama tinggal di asrama.”
Bagi Agus, kemegahan bangunan akan kehilangan maknanya jika orang tua siswa didera rasa cemas di rumah. Oleh karena itu, sisa waktu menjelang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dipacu untuk menyelesaikan hal-hal mikro yang krusial.
Petugas di lapangan kini berpacu dengan waktu. Mereka menyelesaikan sentuhan akhir pada toilet, memasang penutup pengaman pada setiap panel kelistrikan untuk mencegah korsleting, hingga menguji ulang distribusi air bersih. Alat Pemadam Api Ringan (APAR) juga mulai disebar di setiap sudut gedung untuk melengkapi sistem proteksi kebakaran utama yang sudah aktif.
Sisi emosional dari proyek ini bukan hanya terletak pada infrastruktur. Sekolah Rakyat ini dirancang untuk menyentuh hati para murid sejak hari pertama. Di balik tembok asrama, pola asuh dari para wali asrama dan wali asuh telah disiapkan matang demi menjaga psikologis anak-anak yang jauh dari orang tua.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jombang, Agung Hariadi, menegaskan bahwa sinergi lintas instansi terus bergulir setiap hari tanpa henti. Targetnya jelas dan tanpa kompromi.
“Target kami bukan hanya gedung selesai dibangun, tetapi seluruh fasilitas benar-benar siap digunakan secara aman dan nyaman oleh para siswa,” ucap Agung.
Saat matahari terbit pada 30 Juli 2026 nanti, gerbang Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Jombang akan terbuka lebar menyambut langkah kaki generasi penerus bangsa. Di sana, Pemkab Jombang tidak hanya menyerahkan kunci gedung baru, tetapi juga menyerahkan sebuah janji: sebuah ruang belajar yang aman, layak, dan penuh kehangatan layaknya rumah sendiri.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.