Ungaran, Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Ruang literasi di tingkat lokal tidak boleh sekadar menjadi gudang penitipan buku. Tempat tersebut harus bertransformasi menjadi laboratorium kreativitas yang hidup dan menghidupkan masyarakat di sekitarnya.
Pesan kuat itulah yang dibawa oleh Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, saat menyambangi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Warung Pasinaon di Ungaran, Kabupaten Semarang. Dalam diskusi lesehan bertajuk “Literasi Kita, Kini dan Nanti”, pemilik nama asli Heri Hendrayana Harris ini menantang para penulis lokal untuk lebih produktif melahirkan karya nyata, bahkan yang bernilai ekonomi.
“Silakan menuliskan puisi dan resensi film atau buku ke golagongkreatif.com. Untuk cerpen dan puisi, saya beri honor,” ujar Gol A Gong di hadapan sekitar 30 pegiat literasi yang hadir. Tidak hanya itu, ia membuka jalur kolaborasi bersama SIP Publishing untuk menggelar pelatihan menulis fiksi mini yang nantinya akan dibukukan.

Langkah konkret ini menjadi angin segar bagi pembangunan SDM di daerah. Pria yang akrab disapa Kang Gong ini mengapresiasi penuh TBM Warung Pasinaon di bawah nakhoda Tirta Nursari. Baginya, TBM tersebut berhasil keluar dari pakem konvensional. Warung Pasinaon tidak an-sich melayani aktivitas baca dan pinjam buku, melainkan aktif menyelenggarakan workshop kepenulisan, kegiatan seni budaya, hingga diskusi berkala.
Suasana diskusi yang digelar secara sederhana tersebut justru melahirkan pemikiran-pemikiran out-of-the-box untuk masa depan literasi. Ruang diskusi menghangat dengan adanya parade baca puisi, donasi buku, hingga aksi melukis cepat oleh seniman Bambang Iss Wirya.
Momentum kunjungan ini juga ditandai dengan peluncuran buku antologi puisi berjudul “Andai Boleh Kupinta”. Menariknya, buku ini merupakan karya kolaborasi antara Tirta Nursari dan putranya, Taj Abbad Abdullah, yang saat ini masih duduk di bangku SMA. Kehadiran karya ini menjadi bukti hidup bahwa literasi yang digerakkan dari rumah dan komunitas mampu melahirkan generasi yang literat.

Bagi Tirta Nursari, yang juga menjabat sebagai Ketua Pengurus Daerah TBM Kabupaten Semarang, kedatangan Duta Baca Indonesia ke ruang kreatifnya terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Sebelumnya, komunitasnya baru saja mematangkan ekosistem lokal melalui diskusi tentang pentingnya riset.
“Ini seperti gayung bersambut dan menjadi mood booster bagi kami. Kehadiran Duta Baca Indonesia ke sini tentu sangat menyemangati kami untuk terus bergerak,” pungkas Tirta. Kunjungan ini menegaskan bahwa penguatan literasi masyarakat tidak melulu soal fasilitas mewah, melainkan tentang konsistensi merawat ruang gerak kreatif di tingkat akar rumput.
(SetyoH)


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.