PADANG, Sumatera Barat ( DESA MERDEKA) Buku Ortologi Ecoprint Minangkabau: Menemukan Kembali Warna dan Motif Mode dari Akar Budaya karya Dr. Yandri, M.Sn. hadir sebagai sebuah karya intelektual yang penting dan tepat waktu.
Di tengah gencarnya diskursus global tentang keberlanjutan (sustainability), buku ini menawarkan sebuah kontribusi teoretis yang orisinal dengan merumuskan sebuah “ortologi,” yakni seperangkat prinsip dasar untuk pengembangan ecoprint yang berakar pada lingkungan dan budaya lokal, dalam hal ini budaya Minangkabau.
Dr. Yandri, yang menamatkan pendidikan doktoral di Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas Negeri Padang, berhasil mengintegrasikan keahliannya di bidang seni dan desain dengan bidang ilmu lingkungan melalui pendekatan ilmiah yang ketat. Buku ini bukan sekadar panduan praktis, tetapi juga sebuah riset mendalam yang menggunakan model pengembangan 4D (Define, Design, Develop, Disseminate) dan metodologi campuran (kualitatif dan kuantitatif). Hal ini terlihat dari isi buku ini, yang tidak hanya mendeskripsikan, tetapi juga menguji dan memvalidasi setiap temuannya.
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah sistematisasi pengetahuan tentang tumbuhan lokal Sumatera Barat sebagai sumber pewarna alami. Dr. Yandri dan timnya berhasil menginventarisasi 17 jenis tumbuhan, mulai dari jambu biji, manggis, hingga nangka dan alpukat, dan mendokumentasikan 68 variasi warna yang dapat dihasilkan. Bagi seorang peneliti atau akademisi, ini adalah sebuah database berharga yang dapat menjadi pijakan bagi penelitian-penelitian lanjutan.
Lebih dari itu, analisis kimiawi dan uji ketahanan luntur yang dilakukan menambahkan dimensi saintifik yang jarang ditemukan dalam buku-buku seni rupa pada umumnya.
Kebaruan (novelty) lain yang ditawarkan melalui buku ini adalah proses adaptasi motif ragam hias Minangkabau ke dalam teknik ecoprint. Dari sekitar 90 motif yang didokumentasikan, Dr. Yandri secara cerdas memilih 10 motif andalan seperti pucuak rabuang, siriah gadang, dan ombak-ombak. Ia tidak hanya mentransformasikan bentuk visualnya, tetapi juga menggali dan menghadirkan kembali makna filosofis di balik setiap motif. Ini adalah sebuah langkah berani yang mengangkat ecoprint dari sekadar teknik tekstil menjadi sebuah medium pelestarian budaya (cultural sustainability).
Buku yang ditulis Dr. Yandri ini juga secara konsisten menghubungkan praktik ecoprint dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dan poin 15 (Ekosistem Darat). Ia dengan jelas menunjukkan bahwa ecoprint adalah jawaban konkret atas permasalahan limbah tekstil sintetis, sekaligus sebuah model ekonomi kreatif yang etis dan ramah lingkungan.
Secara keseluruhan, Ortologi Ecoprint Minangkabau adalah sebuah karya yang memperkaya khazanah ilmu desain dan ilmu lingkungan di Indonesia. Buku ini layak menjadi rujukan bagi para peneliti, dosen, dan mahasiswa yang tertarik pada persimpangan antara seni, budaya, dan keberlanjutan. Ia adalah bukti bahwa inovasi tidak harus selalu berwujud teknologi tinggi; kadang, ia lahir dari kemampuan kita untuk kembali ke akar budaya dan belajar dari alam semesta.( H)
Oleh
Ficki Tri Sahputra















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.