Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

BUMDes · 20 Jun 2026 21:27 WIB ·

Dari Darurat Sampah Menuju Desa Unicorn


					Dari Darurat Sampah Menuju Desa Unicorn Perbesar

 

Dari Darurat Sampah Menuju Desa Unicorn

Langkah Besar BUMDes BMR Banjararum Menata Masa Depan Ekonomi Desa

Banjararum, Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Desa yang besar tidak pernah lahir semata-mata karena melimpahnya anggaran. Desa besar tumbuh dari keberanian membaca masa depan, mengambil keputusan, dan menjaga konsistensi dalam mewujudkan cita-cita.

Semangat itulah yang kini menggerakkan Desa Banjararum, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bersama Rakyat Maju (BMR), pemerintah desa bersama masyarakat mulai menata langkah menuju kemandirian ekonomi.

Target yang mereka pasang memang terdengar ambisius. Namun, seluruh pengurus membangunnya melalui perencanaan yang matang, yakni menjadikan Banjararum sebagai Desa Unicorn yang mampu menghasilkan Pendapatan Asli Desa (PAD) hingga Rp1 miliar setiap tahun dari unit-unit usaha yang dikelola secara profesional.

Road Map Bisnis Menjadi Fondasi

Di tengah banyaknya BUMDes yang masih mencari bentuk usaha, BUMDes BMR memilih mengambil jalur yang berbeda. Pengurus tidak tergesa-gesa membuka banyak unit usaha. Sebaliknya, mereka menyusun road map bisnis berdasarkan hasil pemetaan potensi desa.

Tim BUMDes menghitung setiap investasi secara cermat. Mereka memetakan setiap peluang usaha berdasarkan potensi lokal. Selanjutnya, mereka merancang seluruh unit usaha agar saling mendukung dalam satu ekosistem ekonomi desa yang berkelanjutan.

Bagi pengelola BUMDes BMR, keberhasilan tidak ditentukan oleh banyaknya kegiatan atau program yang dijalankan. Mereka mengukur keberhasilan dari kemampuan setiap unit usaha menghasilkan keuntungan nyata yang kemudian kembali memperkuat Pendapatan Asli Desa sebagai sumber pembiayaan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Lebih dari itu, transformasi ekonomi yang sedang berlangsung tidak lahir dari satu pihak saja. Pemerintah Desa Banjararum, BUMDes Bersama Rakyat Maju, dan Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari terus membangun kolaborasi dalam menyusun perencanaan, memperkuat tata kelola, hingga mengembangkan model bisnis desa yang profesional, adaptif, dan berkelanjutan.

Direktur BUMDes Bersama Rakyat Maju, Clemen Hary Agus Sudibyo, menegaskan bahwa seluruh langkah tersebut tidak sekadar mengejar keuntungan.

“Siapa Sangka! Desa di Malang Ini Sulap Sampah Jadi Bisnis Hijau dan Dilirik Tol Nasional”

“Kami tidak sedang membangun banyak unit usaha. Kami sedang membangun masa depan Banjararum. Setiap sawah yang kami kelola, setiap kolam bioflok, setiap ternak, hingga setiap kilogram sampah organik yang kami olah menjadi eco enzyme merupakan investasi menuju desa yang mandiri. Target kami bukan hanya memperoleh keuntungan, tetapi menghadirkan Pendapatan Asli Desa yang mampu menggerakkan kesejahteraan masyarakat. Kami ingin membuktikan bahwa desa bisa menjadi pusat inovasi dan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Lima Pilar Usaha BUMDes BMR

Hasil pemetaan potensi desa kemudian melahirkan lima unit usaha strategis yang kini menjadi tulang punggung BUMDes BMR.

Sektor pertanian menjadi fondasi utama melalui pengelolaan Tanah Kas Desa (TKD) untuk budidaya padi. Pemerintah desa bersama BUMDes mulai mengoptimalkan aset desa yang selama ini belum tergarap maksimal agar mampu menghasilkan nilai ekonomi sekaligus memperkuat kas desa.

Selain sektor pertanian, BUMDes mengembangkan usaha perikanan dengan mengoperasikan 24 kolam bioflok untuk budidaya ikan air tawar. Pengurus memilih teknologi bioflok karena mampu meningkatkan produktivitas, menghemat penggunaan air, dan menjaga kelestarian lingkungan.

Di sisi lain, BUMDes juga mengembangkan peternakan kambing dan sapi sebagai investasi jangka panjang. Sementara itu, pengurus menyiapkan kolam pancing sebagai destinasi wisata keluarga yang diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus membuka peluang bagi tumbuhnya UMKM lokal.

Seluruh unit usaha tersebut saling terhubung dalam satu rantai nilai ekonomi desa. Setiap sektor memperkuat sektor lainnya sehingga membentuk ekosistem usaha yang berkelanjutan.

Direktur BUMDes Bersama Rakyat Maju, Clemen Hary Agus Sudibyo, menjelaskan bahwa pihaknya tidak membangun usaha secara terpisah.

“Kami menyusun seluruh unit usaha agar saling menguatkan. Pertanian mendukung perikanan, peternakan menghasilkan nilai tambah, wisata menggerakkan UMKM, sedangkan pengelolaan sampah melalui eco enzyme menjadi solusi lingkungan sekaligus sumber ekonomi baru. Itulah fondasi menuju Desa Unicorn yang sedang kami bangun,” jelasnya.

Di antara seluruh unit usaha tersebut, terdapat satu inovasi yang diproyeksikan menjadi wajah baru Banjararum sekaligus menjawab tantangan besar yang kini dihadapi Kecamatan Singosari.

Darurat Sampah yang Tidak Bisa Diabaikan

Kecamatan Singosari kini menghadapi tekanan serius dalam pengelolaan sampah. Volume sampah rumah tangga terus meningkat, sementara kapasitas pengolahan belum mampu mengimbanginya. Kondisi ini mulai memberi dampak pada kualitas lingkungan dan berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat jika tidak segera ditangani secara sistematis.

Situasi tersebut tidak membuat Desa Banjararum memilih menunggu. Sebaliknya, pemerintah desa bersama BUMDes Bersama Rakyat Maju (BMR) mengambil langkah lebih cepat dengan menjadikan persoalan sampah sebagai peluang ekonomi baru.

Dari Masalah Lingkungan Menjadi Peluang Ekonomi

BUMDes BMR mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Pengurus tidak lagi melihat limbah organik sebagai beban, tetapi sebagai sumber daya yang dapat menghasilkan nilai ekonomi.

Dari pemikiran tersebut, lahirlah unit usaha eco enzyme yang mengolah limbah organik menjadi berbagai produk bernilai jual. Proses ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat desa.

Pengelolaan ini berjalan dengan pendekatan ekonomi sirkular. Konsep lama kumpul–angkut–buang mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, BUMDes menerapkan pola baru yaitu pilah–olah–hasilkan nilai.

Limbah dapur dan organik diolah menjadi pupuk cair organik, sabun cuci piring, sabun cuci tangan, hingga cairan pembersih lantai. Produk-produk ini kemudian memiliki nilai jual dan menjadi sumber pendapatan baru bagi desa.

Selain itu, pendekatan ini mendorong masyarakat untuk ikut terlibat langsung dalam proses pengelolaan sampah sejak dari rumah tangga.

Lingkungan Bersih, Ekonomi Bergerak

Perubahan ini membawa dampak ganda. Di satu sisi, volume sampah yang dibuang ke lingkungan berkurang secara signifikan. Di sisi lain, desa mulai memiliki sumber pendapatan baru dari produk turunan eco enzyme.

Dengan cara ini, Banjararum membuktikan bahwa pengelolaan lingkungan tidak selalu identik dengan biaya besar. Jika dikelola dengan tepat, sampah justru dapat menjadi aset ekonomi yang berkelanjutan.

Transformasi ini juga memperkuat posisi BUMDes BMR sebagai pelaku ekonomi desa yang tidak hanya fokus pada keuntungan, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan.

“Inovasi Tak Terduga dari Desa: Sampah Diubah Jadi Produk Bernilai, Banjararum Menuju Unicorn Desa”

Kolaborasi Menuju Solusi Lebih Besar

Inovasi pengelolaan sampah ini mulai menarik perhatian dunia usaha. BUMDes BMR kemudian menjalin komunikasi dan kerja sama strategis dengan PT Jasamarga Transjawa Tol dan PT Jasamarga Pandaan Malang.

Kolaborasi ini dikembangkan melalui program Green Toll Road dan Zero Waste Management sebagai bagian dari implementasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR).

Berbeda dari pola CSR konvensional, kerja sama ini dibangun sebagai kemitraan jangka panjang. Pemerintah Desa Banjararum, BUMDes BMR, dan pihak Jasamarga duduk bersama untuk merancang sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru.

Produk eco enzyme dari Banjararum bahkan memiliki peluang untuk digunakan dalam operasional perawatan rest area dan fasilitas di sepanjang koridor Tol Pandaan–Malang.

Ekosistem Ekonomi Baru dari Desa

Jika kerja sama ini berjalan optimal, Banjararum tidak hanya akan dikenal sebagai desa inovatif, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem ekonomi hijau di jalur strategis nasional.

Model ini memperlihatkan bagaimana desa dapat masuk dalam rantai ekonomi modern tanpa kehilangan akar lokalnya. Desa tidak lagi berada di posisi pinggir, tetapi menjadi bagian dari sistem ekonomi yang lebih besar.

Direktur BUMDes Bersama Rakyat Maju, Clemen Hary Agus Sudibyo, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah penting dalam perjalanan desa menuju kemandirian ekonomi.

“Kami tidak hanya ingin menyelesaikan masalah sampah. Kami ingin menciptakan nilai dari setiap masalah yang ada. Ketika desa mampu mengubah tantangan menjadi peluang, di situlah kemandirian ekonomi benar-benar lahir,” ungkapnya.

Menuju Model Desa Berkelanjutan

Langkah Banjararum menunjukkan bahwa desa dapat menjadi aktor utama dalam pembangunan berkelanjutan. Dengan memadukan inovasi, kolaborasi, dan partisipasi masyarakat, desa mampu membangun sistem ekonomi yang tidak hanya produktif, tetapi juga ramah lingkungan.

Transformasi ini juga memperlihatkan bahwa pembangunan desa modern tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah desa, BUMDes, pendamping profesional, masyarakat, dan dunia usaha.

Di Banjararum, model itu mulai terbentuk secara nyata.

Banjararum di Panggung Kolaborasi Nasional

Momentum penting terjadi pada 20 Juni 2026 ketika PT Jasamarga Pandaan Malang menggelar kegiatan Safety Campaign and Customer Engagement dalam rangka ulang tahun ke-10 di Rest Area KM 66A Tol Pandaan–Malang.

Dalam kegiatan tersebut, BUMDes Bersama Rakyat Maju (BMR) tampil sebagai mitra binaan CSR. Pengurus menghadirkan berbagai produk unggulan hasil inovasi masyarakat dan UMKM Banjararum, termasuk produk turunan eco enzyme.

Pengunjung melihat stan tersebut sebagai pameran produk lokal. Namun di balik itu, tersimpan cerita yang lebih besar. Banjararum sedang memperkenalkan dirinya sebagai desa yang bergerak, bukan desa yang menunggu.

Desa ini menunjukkan bahwa inovasi tidak hanya lahir di kota besar. Inovasi juga tumbuh dari desa yang berani membaca peluang dan mengubah tantangan menjadi kekuatan ekonomi.

Ekosistem Desa yang Semakin Terhubung

Seluruh unit usaha di Banjararum kini bergerak dalam satu sistem yang saling terhubung. Pertanian, perikanan, peternakan, wisata desa, dan pengolahan sampah berbasis eco enzyme tidak lagi berdiri sendiri.

BUMDes BMR mengarahkan seluruh sektor itu agar saling memperkuat. Hasil dari satu unit usaha menjadi penguat bagi unit lainnya. Dengan cara ini, desa membangun ekosistem ekonomi yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Pendekatan ini juga memperkuat posisi Banjararum dalam peta pembangunan desa modern. Desa tidak lagi hanya menjadi penerima program, tetapi berubah menjadi pelaku ekonomi yang aktif.

Menuju Target Desa Berpenghasilan Rp1 Miliar

Seluruh langkah yang dijalankan BUMDes Bersama Rakyat Maju saat ini mengarah pada satu tujuan besar: meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD) hingga mencapai Rp1 miliar per tahun.

Target ini tidak berdiri sebagai slogan. Pengurus membangunnya melalui unit usaha nyata yang terus berkembang dan diperkuat dengan kolaborasi lintas sektor.

Pertanian menjadi basis produksi. Perikanan dan peternakan menjadi penguat ekonomi jangka panjang. Wisata desa membuka ruang perputaran ekonomi lokal. Sementara itu, eco enzyme menghadirkan model ekonomi sirkular yang sekaligus menjawab persoalan lingkungan.

Jika seluruh sektor ini berjalan konsisten, Banjararum memiliki peluang besar menjadi salah satu model transformasi BUMDes paling progresif di Indonesia.

Kolaborasi Pemerintah Desa, BUMDes, dan TPP

Keberhasilan yang mulai terlihat hari ini tidak lahir secara tunggal. Transformasi Banjararum tumbuh dari kolaborasi tiga kekuatan utama: Pemerintah Desa Banjararum, BUMDes Bersama Rakyat Maju, dan Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari.

Ketiganya bergerak dalam satu arah yang sama: membangun tata kelola desa yang lebih profesional, terukur, dan berkelanjutan.

Kolaborasi ini memastikan setiap langkah tidak hanya cepat, tetapi juga tepat sasaran. Pendampingan dari TPP memperkuat perencanaan, pemerintah desa menjaga arah kebijakan, sementara BUMDes menjalankan eksekusi bisnis di lapangan.

Desa Tidak Lagi di Pinggir Pembangunan

Transformasi yang terjadi di Banjararum menunjukkan perubahan paradigma yang penting. Desa tidak lagi berada di pinggir pembangunan nasional.

Desa kini mulai masuk ke dalam ruang ekonomi yang lebih luas. Bahkan, dalam beberapa aspek, desa mampu menjadi penggerak inovasi berbasis masyarakat.

Banjararum menjadi contoh bahwa desa dapat berdiri sejajar dengan pelaku usaha modern. Selama dikelola dengan tata kelola yang baik, desa mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Penegasan Visi Desa Unicorn

Direktur BUMDes Bersama Rakyat Maju, Clemen Hary Agus Sudibyo, menegaskan bahwa seluruh proses ini merupakan bagian dari perjalanan panjang membangun kemandirian desa.

“Kami tidak membangun program jangka pendek. Kami membangun sistem ekonomi desa yang berkelanjutan. Ketika desa mampu mengelola potensinya sendiri, maka kemandirian bukan lagi mimpi, tetapi kenyataan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa visi Desa Unicorn bukan sekadar istilah, tetapi arah gerakan ekonomi desa.

“Jika perusahaan bisa menjadi unicorn karena inovasi dan ekosistem bisnis, maka desa juga bisa. Banjararum sedang menuju ke sana dengan kerja nyata, bukan wacana,” tambahnya.

Penutup: Dari Desa Menuju Masa Depan Baru

Banjararum kini menapaki jalan panjang menuju transformasi ekonomi desa.

Dari sawah yang produktif, kolam bioflok yang berkembang, peternakan rakyat, wisata desa, hingga pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi, semuanya bergerak dalam satu visi besar: kemandirian desa.

Perjalanan ini masih terus berlangsung. Namun arah sudah jelas.

Banjararum tidak hanya sedang membangun ekonomi desa. Desa ini sedang membangun masa depan baru—masa depan di mana desa menjadi pusat inovasi, pusat produksi, dan pusat harapan.

Jika konsistensi ini terjaga, Banjararum tidak hanya akan dikenal sebagai desa yang berhasil, tetapi sebagai simbol bahwa perubahan besar Indonesia bisa dimulai dari desa.

 

 

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

BUMDes Sumba Timur Berbenah Raih Legalitas dan Kualitas

8 Juni 2026 - 05:47 WIB

Panen 1,3 Ton, BUMDesa Golo Kembangkan Jamur Kuping

29 Mei 2026 - 17:07 WIB

Mengail PAD Lewat Omzet Bisnis Gantangan Burung BUMDes

28 Mei 2026 - 11:16 WIB

Siasat Gagal BUMDes Lubuk Cuik Berujung Gadaikan Aset

18 Mei 2026 - 18:07 WIB

Siasat Kemendes Kepung Rentenir Lewat Koperasi Desa di NTT

17 Mei 2026 - 11:07 WIB

Embung Kampung Jadi Mesin Uang Desa Tanjung Meranti

16 Mei 2026 - 14:40 WIB

Trending di BUMDes