Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

RAGAM · 13 Jun 2026 06:06 WIB ·

Jejak Sunyi di Lembah Pusako


					Jejak Sunyi di Lembah Pusako Perbesar

Episode 31: Pelestarian Seni Tradisi

Sari selalu percaya bahwa masa depan tidak pernah tumbuh dari ruang hampa. Ia tumbuh dari akar—akar yang kadang terlupakan, kadang diabaikan, tetapi tetap menyimpan kekuatan untuk membuat sebuah generasi berdiri lebih tegap. Dari keyakinan itulah ia menaruh perhatian besar pada seni tradisi Minangkabau: tari, dendang, gandang tabuik, rabab Pesisir, talempong pacik, dan segala yang pernah membuat sebuah nagari hidup bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai ruang bersama identitas.

Pada suatu sore yang tenang di lapangan sebuah sekolah, Sari memperhatikan sekitar dua puluh anak berdiri setengah lingkaran, sebagian masih memegang ponsel. Usia mereka sekitar 10 hingga 15 tahun. Mereka datang karena penasaran—atau mungkin karena ajakan guru—untuk mengikuti kelas tari Minang yang ia gagas bersama beberapa seniman lokal. Beberapa anak tampak canggung. Sari melihat salah seorang gadis kecil yang memakai jaket oversize dan earphone masih menggantung di leher. Gadis itu tampak ragu menggunakan selendang tari.

“Tak apa mencoba dulu,” ucap Sari sambil tersenyum. “Kalau tidak cocok, tinggal dilepas.”

Gadis itu mengangguk, pelan namun yakin. Momen kecil itu mengingatkan Sari bahwa pelestarian tradisi bukan perkara memaksa orang mencintai warisan leluhur, melainkan mengundang mereka untuk menyentuhnya, merasakannya, dan menemukan diri mereka di dalamnya.

Dia tahu bahwa seni tradisional sering menghadapi stigma: dianggap kuno, tidak relevan, atau kalah pamor dengan budaya populer yang bergulung-gulung masuk lewat layar ponsel. Tetapi ia juga tahu satu hal: ketika seseorang merasakan denyut ritme gandang atau melihat selembar kain songket menari bersama tubuh, ada sesuatu yang berubah di dalam diri. Sesuatu yang diam-diam membangun kebanggaan baru.

Sari tidak bekerja sendirian. Ia menggandeng beberapa maestro seni yang sudah sepuh tapi masih menyimpan api kecil di dada—api yang sejak lama menunggu dipindahkan kepada generasi berikutnya. Salah satunya adalah Pak Rajo, penabuh talempong yang sejak kecil tumbuh dalam keluarga pemain gandang. Meski tangannya mulai gemetar, ia masih mampu menghasilkan denting talempong yang memanggil memori kolektif nagari.

“Anak-anak sekarang cepat belajar, asal kita sabar,” kata Pak Rajo suatu hari. “Mereka merasa asing karena tidak pernah ada yang memperkenalkan. Kalau sudah kenal, mereka sendiri yang akan mencari.”

Kalimat itu mengiringi seluruh gerakan Sari dalam program pelestarian seni tradisi. Ia percaya bahwa seni tidak mati, hanya tertidur. Ia perlu dibangunkan—pelan, hormat, dan penuh kasih.

Beberapa bulan berjalan, kelas tari dan musik itu mulai menarik perhatian orang tua. Awalnya hanya lima atau enam orang tua yang datang mengantar, lalu bertambah menjadi belasan. Mereka duduk di balai pertemuan kecil di sisi lapangan, sebagian sibuk berbincang, sebagian lagi memperhatikan anak-anak berlatih. Kadang terdengar komentar lucu, “Ado ka jo mulok, anak den nan laki tu alah bisa saluang. Dulu ditanyo ndak mau!” atau “Barubah juo rupanya kalau dibimbing.”

Sari melihat perubahan itu sebagai tanda bahwa seni tradisi bukan hanya soal anak-anak mempelajari teknik tari atau nada talempong. Ia adalah jembatan antar-generasi. Ia mempertemukan orang tua yang pernah tumbuh dengannya, dengan anak-anak yang mencoba meraba masa depan lewat jejak-jejak masa silam. Di titik itu, seni menjadi bahasa pemersatu.

Suatu hari, Sari mengusulkan sebuah pertunjukan kecil untuk memperlihatkan proses belajar anak-anak. Tidak harus sempurna, tidak harus megah; yang penting adalah pengalaman tampil, pengalaman berbagi. Ia yakin bahwa ketika karya dilihat oleh mata lain, nilai sebuah proses akan menjadi lebih kuat.

Persiapan berlangsung sekitar dua minggu. Ruangan sekolah mendadak hidup dengan suara langkah tari yang menghentak-hentak, tabuhan gandang yang membuat jendela bergetar, dan tawa cerewet anak-anak yang baru menemukan ritme kebersamaan. Para orang tua ikut membantu membuat pakaian sederhana dari kain-kain yang ada. Ibu-ibu di nagari berembuk membuat tatakan kepala, selendang, dan aksesori kecil yang menghidupkan suasana Minang dalam pertunjukan itu.

Ketika hari tampil tiba, Sari berjalan ke panggung kecil yang mereka buat dari papan sederhana. Ia memandang anak-anak yang telah berdandan: gadis-gadis dengan suntiang mungil, para bocah lelaki dengan celana galembong dan baju gonta. Mereka tersenyum gugup, tetapi mata mereka berbinar.

“Anggap saja ini permainan,” kata Sari lembut. “Tari itu bukan tentang sempurna. Tari adalah tentang merasakan dan menghidupkan apa yang kita cintai.”

Pertunjukan dimulai dengan talempong pacik. Suara dentingnya memecah udara petang. Kehangatan muncul di wajah para penonton; beberapa orang tua terlihat bernostalgia. Setelah itu, tari Galombang tampil memukau—meski beberapa gerakan masih goyah, namun energi yang terpancar membuat semua penonton terpikat.

Puncak acara adalah kolaborasi antara anak-anak dengan para maestro. Pak Rajo memainkan talempong dengan cucunya, anak lelaki berusia sembilan tahun yang sebelumnya lebih gemar bermain gim. Namun di panggung itu, ia menabuh talempong dengan antusias. Sari melihat Pak Rajo berkali-kali menahan haru.

Setelah pertunjukan, seorang ibu menghampiri Sari sambil membawa anak perempuannya yang masih mengenakan selendang. “Bu Sari, anak saya tidak pernah mau ikut kegiatan apa pun sebelumnya. Tapi sekarang dia bilang ingin belajar rabab juga. Saya terkejut.”

Sari tersenyum. “Kalau sudah jatuh hati, seni akan menemani mereka sampai tua.”

Namun perjalanan pelestarian tidak selalu mulus. Tantangan muncul ketika para remaja mulai meminta variasi. Mereka ingin memasukkan unsur modern: beat elektronik, koreografi yang lebih dinamis, atau kolaborasi dengan gerakan kontemporer. Sebagian seniman senior sempat keberatan. “Jangan sampai hilang aslinya,” kata mereka.

Sari berada di tengah pusaran itu. Baginya, seni tradisi harus hidup, bukan dikurung. Tapi ia juga paham bahwa bentuk asli punya nilai sakral yang wajib dihormati. Ia mencoba merangkai dialog antara dua dunia—yang tua dan yang muda.

“Apa salahnya mencoba format ganda?” kata Sari pada suatu rapat kecil. “Satu versi tradisi murni, satu versi inovasi. Kita ajarkan keduanya, supaya anak-anak tahu nilai dasar sekaligus ruang kreasi.”

Usulan itu diterima setelah diskusi panjang. Dan ternyata, hasilnya menakjubkan. Anak-anak justru semakin mencintai bentuk asli setelah diberi ruang untuk bereksperimen. Mereka mengakui bahwa versi tradisi punya keanggunan yang sulit ditandingi. Sedangkan versi inovasi menjadi sarana bermain, jembatan menuju ketertarikan yang lebih dalam.

Perlahan, program pelestarian seni tradisi ini berkembang. Tidak hanya di sekolah itu, tetapi di beberapa nagari sekitar yang mendengar keberhasilannya. Guru-guru diundang untuk mengikuti pelatihan singkat, mempelajari metode partisipatif yang digagas Sari. Bahkan beberapa mahasiswa dari perguruan tinggi di kota datang melakukan penelitian kecil mengenai revitalisasi seni lokal.

Suatu malam, setelah sebuah sesi latihan yang melelahkan, Sari duduk di beranda balai nagari. Dari kejauhan ia mendengar suara anak-anak berlatih talempong. Suaranya tidak terlalu nyaring, tapi cukup untuk membuat dada terasa lapang.

Pak Rajo duduk di sampingnya. “Dulu kami takut seni ini hilang,” katanya pelan. “Anak-anak pergi merantau, yang tinggal sibuk dengan hidup masing-masing. Tapi melihat mereka sekarang… rasanya talempong akan tetap bernapas lama.”

Sari memandang langit yang mulai gelap. “Seni tradisi tidak butuh panggung besar,” katanya. “Ia hanya butuh tempat untuk pulang.”

Di suatu titik, Sari menyadari bahwa pelestarian bukanlah kerja sehari atau setahun. Ia adalah perjalanan panjang, perjalanan generasi. Tapi yang lebih penting, ia adalah perjalanan hati. Selama masih ada yang mencintai, mengajarkan, dan memainkannya, seni tradisi akan tetap hidup.

Beberapa bulan kemudian, pemerintah daerah mengetahui program tersebut dan menawarkan dukungan: ruang sanggar, dana kostum, serta program tahunan festival seni nagari. Namun Sari menolak jika program itu ingin diambil alih sepenuhnya. Ia mengajukan syarat: komunitas harus tetap menjadi pusat kegiatan, bukan birokrasi.

“Kami hanya ingin membantu,” kata perwakilan pemerintah itu.

“Bantuannya kami terima,” jawab Sari. “Tapi semangatnya, biarkan tetap milik masyarakat.”

Akhirnya, kesepakatan dicapai. Pemerintah mendukung, tapi komunitas tetap memimpin. Itu membuat program semakin kuat. Festival kecil-kecilan mulai digelar setiap tahun, menampilkan karya anak-anak, kolaborasi maestro–pelajar, serta inovasi yang mereka kembangkan.

Di festival tahun berikutnya, ribuan orang datang. Mulai dari warga nagari hingga wisatawan. Wartawan lokal meliput acara itu, menyebutnya sebagai “kebangkitan seni nagari.” Sari merasa terharu, bukan karena namanya disebut, tetapi karena talempong, rabab, dan tari Minang kembali berdiri di tanahnya sendiri.

Festival itu ditutup dengan tarian massal. Ratusan anak-anak menari bersama di lapangan luas, di bawah cahaya lampu sorot yang sederhana. Iringan gandang dan talempong membuat langit seolah ikut berdetak. Ada yang gerakannya tepat, ada yang terlambat setengah detik—tetapi tidak ada yang salah. Semuanya adalah bagian dari perjalanan.

Sari berdiri jauh di belakang, tidak naik panggung, tidak berkata apa-apa. Ia hanya menyaksikan, menikmati, dan meresapi bahwa usahanya telah menjelma menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.

Ketika musik berhenti dan tepuk tangan membahana, Sari membisikkan sesuatu pada dirinya sendiri:

“Apa pun bentuk dunia nanti, selama anak-anak ini masih mengenal irama leluhur, masa depan tidak akan kehilangan arah.”

Begitulah ia menjaga seni: bukan sebagai benda lama yang harus diam, tetapi sebagai denyut hidup yang terus bergerak, menari, bermain, dan diwariskan dari satu hati ke hati berikutnya. Seni tradisi bukan sekadar kenangan, melainkan keberlanjutan sebuah identitas.

Dan Sari tahu, perjalanan itu baru dimulai. (DA)

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Strategi Kalteng: Kepala Desa Garda Terdepan Kartu Huma Betang

11 Juni 2026 - 22:09 WIB

20 Desa Luwu Timur Tuntaskan Ujian Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

11 Juni 2026 - 21:28 WIB

Skandal Desa Loleo: Tanda Tangan Orang Mati Menuju Penjara

11 Juni 2026 - 19:24 WIB

Rayakan HUT ke-23 Halmahera Selatan, Desa Balitata Gelar Doa Bersama

10 Juni 2026 - 23:59 WIB

Desa Atue, Menjadi Percontohan Desa Produktif Ramah Lingkungan

9 Juni 2026 - 21:09 WIB

Pilkades Pasir Mayang: Tiga Calon Berebut Kursi Desa

9 Juni 2026 - 12:24 WIB

Trending di RAGAM