Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, membuktikan bahwa keterbatasan modal bukan alasan untuk mandek berinovasi. Melalui model bisnis titip jual (consignment), lembaga ekonomi mikro ini sukses menyediakan hingga 275 jenis item produk makanan dan non-makanan di gerai sembakonya tanpa perlu mengeluarkan biaya belanja di muka.
Siasat ini dijalankan dengan memanfaatkan ekosistem pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal yang membutuhkan kepastian pasar. Dibandingkan dengan sistem kulakan konvensional yang menguras kas, KKMP Lodoyong membuka pintu gerainya sebagai wadah bagi warga untuk menaruh komoditas dagangan mereka secara gratis.
Ekonomi Gotong Royong: Menghidupkan Produk UMKM Lokal
Ketua KKMP Lodoyong, Tri Sasmiyarti, menjelaskan bahwa sistem konsinyasi ini menjadi salah satu pilar penopang variasi produk di koperasinya. Berbagai barang kebutuhan harian, mulai dari bawang merah hingga gula aren asli, murni berasal dari pasokan para pelaku UMKM sekitar daerah Ambarawa dan Banyu Biru yang menitipkan barangnya.
“Itu dari para UMKM yang ada yang jualan gula, jualan bawang. Berambang terus dititipkan di sini sehingga kami tidak modal,” ungkap Tri Sasmiyarti. Skema ini menciptakan hubungan timbal balik yang sehat; pelaku UMKM mendapatkan kepastian tempat pajang iklan produk, sementara koperasi bisa melengkapi stok barang harian tanpa risiko finansial.
Margin Tipis untuk Hidupkan Usaha Warga
Koperasi ini juga menerapkan prinsip keadilan dalam penentuan margin keuntungan demi menjaga keberlangsungan usaha warga. Sebagai contoh nyata pada komoditas gula aren asli asal Banyu Biru, koperasi mengambil barang dari perajin dengan harga Rp27.000 dan menjualnya ke konsumen senilai Rp29.000.
Margin sebesar Rp2.000 tersebut sengaja dipatok rendah agar harga di tingkat konsumen tetap kompetitif dan produk cepat berputar. Langkah mengalah dalam mengambil untung kecil ini terbukti efektif mendongkrak volume penjualan harian, sekaligus menjadi magnet bagi warga luar anggota untuk bebas berbelanja di gerai KKMP Lodoyong.
Melalui strategi digitalisasi sederhana, ketidakberadaan lokasi toko yang strategis disiasati dengan layanan pesan antar gratis lewat koordinasi grup WhatsApp. Perpaduan model titip jual tanpa modal dengan pemasaran digital ini terbukti mampu mengerek omset bulanan koperasi hingga menyentuh angka Rp90 juta pada pertengahan Mei 2026.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.