Bantaeng, Sulawesi Selatan [DESA MERDEKA] – Di balik rutinitas pengajian mingguan Majelis Taklim (MT) Rahmah Bungeng di Desa Pattaneteang, Kabupaten Bantaeng, tersimpan potensi besar yang melampaui sekadar silaturahmi. Forum ini kini bertransformasi menjadi wadah strategis untuk memperkuat ketahanan sosial sekaligus mengawal pembangunan desa berbasis kesejahteraan umat. Pertemuan rutin yang digelar setiap Jumat ini menjadi panggung sinergi antara penyuluh agama dan pendamping desa. Sudut pandang menarik muncul ketika urusan akhirat dikawinkan dengan isu pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Jumat: Hari Spesial bagi Perempuan Desa
Dalam tausiah terbarunya pada Jumat (8/9), Ustadz Saharuddin HL, S.Ag, membedah stereotipe bahwa kemuliaan hari Jumat hanya milik kaum pria. Meski perempuan tidak diwajibkan salat Jumat, mereka memiliki peluang pahala yang setara melalui amalan sunah seperti membersihkan diri, bersalawat, hingga tadabur Al-Qur’an. “Pahala kebaikan dilipatgandakan bagi siapa saja. Perempuan tetap bisa meraih keberkahan Jumat melalui zikir dan doa yang mustajab,” jelas Ustadz Saharuddin di hadapan puluhan jemaah. Sejarah pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa di Muzdalifah pun menjadi pengingat bahwa “Al Jumuah” berarti berkumpul—sebuah semangat yang menjadi fondasi gotong royong warga desa.

Mengaitkan Hadis dengan Kesejahteraan Desa
Hal yang membuat pengajian di Desa Pattaneteang menonjol adalah integrasi materi pembangunan. Pendamping Lokal Desa, Hasan Habibu, S.Pd, mendorong para penyuluh agama untuk menyisipkan pesan mengenai Indeks Desa Membangun (IDM) dan poin-poin SDGs Desa dalam ceramah mereka. Salah satu kaitan paling kuat adalah upaya penghapusan kemiskinan ekstrem. Hasan Habibu mengutip hadis populer, “Kaadal faqru ayyakuuna kufraa”, yang mengingatkan bahwa kemiskinan sering kali mendekatkan seseorang pada kekufuran. “Kementerian Desa menekankan agar Dana Desa benar-benar membawa perubahan nyata. Desa tanpa kemiskinan dan kelaparan adalah amaliah keagamaan yang konkret. Jika perut lapar, ibadah pun menjadi tidak tenang,” tegas Hasan.

Wadah Informasi Desa Tercepat
Di level akar rumput, majelis taklim terbukti lebih efektif dibandingkan papan pengumuman formal. Dengan empat titik pertemuan berbeda di tiap dusun setiap bulannya, informasi mengenai kebijakan desa terserap lebih cepat oleh ibu-ibu yang merupakan pilar komunikasi keluarga. Melalui pola ini, Desa Pattaneteang membuktikan bahwa pengajian bisa menjadi instrumen modern untuk mengedukasi masyarakat tentang pembangunan berkelanjutan, tanpa menghilangkan nilai-nilai spiritual yang telah mengakar.

Hasan Habibu Lahir di Bantaeng Sulawesi Selatan 1 Januari 1975.
Pendidikan S1 STAI Al-furqan Makasar / Jurusan Pendidikan Agama Islam. lulus tahun 2016
Selain sebagai Pendamping Lokal Desa beberapa Organisasipun terlibat di dalamnya, DA’I KAMTIBMAS POLRES BANTAENG bidang KOMUNIKASI ANTAR LEMBAGA, FORUM DA’I POLSEK TOMPOBULU SBG PENASEHAT, IKATAN PELAJAR MUHAMNADIYAH SBG ANGGOTA.
Beberapa penghargaan di raih seperti juara terbaik dua Tingkat Kabupaten Bantaeng Sebagai Tim Pengelolah Kegiatan / TPK 2011. Penghargaan Kapolres sebagai Relawan Covid-19 tahun 2020.
Penghargaan MPR RI dalam sosialisasi Pancasila dan UUD 45 Negara kesatuan RI dan bhinneka tunggal Ika tahun 2011. Dll


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.