Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

PENDIDIKAN · 7 Mei 2026 13:03 WIB ·

Rumus Kepercayaan Anies Baswedan: Senjata Pemuda Membangun Desa


					Rumus Kepercayaan Anies Baswedan: Senjata Pemuda Membangun Desa Perbesar

Jakarta [DESA MERDEKA] – Menghadapi ledakan teknologi Artificial Intelligence (AI) di tahun 2026, generasi muda dituntut tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas yang melampaui sekadar kejujuran. Hal ini menjadi kunci utama bagi mereka yang ingin pulang dan membangun daerah, agar tidak tergerus oleh kepentingan pribadi yang merusak tatanan sosial.

Tokoh pendidikan Anies Baswedan menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah membangun kepercayaan publik (trust). Dalam forum di Universitas Paramadina (6/5), ia membedah rumus integritas yang relevan bagi calon pemimpin masa depan, termasuk penggerak di tingkat desa: kepercayaan lahir dari kompetensi, integritas, dan kedekatan, namun akan hancur jika kepentingan pribadi (self-interest) terlalu mendominasi.

AI Sebagai Asisten, Bukan Pengganti Nalar
Di tengah transformasi digital, Anies mengingatkan pelajar agar memposisikan AI sebagai asisten yang melipatgandakan kecerdasan, bukan pengganti kemampuan berpikir kritis. Bagi pemuda yang bergerak di sektor pembangunan lokal, AI harus digunakan untuk membedah solusi baru atas persoalan lama yang selama ini menghambat kemajuan.

“Inovasi itu solusi baru atas persoalan lama,” ujar Anies. Sudut pandang ini mendesak generasi muda untuk memiliki keberanian bertanya dan berpikir kreatif. Tanpa daya kritis, teknologi hanya akan menjadi alat yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaan dan etika.

Kuliah Bukan Sekadar Persiapan Kerja
Anies juga menggeser paradigma lama tentang pendidikan formal. Kuliah seharusnya menjadi wadah pengembangan potensi diri dan pengasahan entrepreneurial skill—kemampuan adaptasi yang membuat seseorang menjadi pembelajar sepanjang hayat. Bekal inilah yang dibutuhkan untuk menghadapi fase kehidupan “tanpa ujung” setelah lulus.

Khusus bagi para pendidik, kehadiran teknologi digital tidak seharusnya menjadi ancaman. Menurutnya, guru yang menghadirkan nilai, inspirasi, dan hati tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin mana pun. Pendidikan karakter tetap menjadi benteng terakhir dalam menjaga martabat bangsa di era automatisasi.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 42 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Guru Samarinda Dilatih Menangkal Penipuan Finansial Digital

23 September 2026 - 23:37 WIB

Lepas 340 Penerima Beasiswa Sawit, Gubernur Mahyeldi : Jangan Sia-siakan Kesempatan

22 September 2026 - 10:45 WIB

Di Tengah Demam AI, Guru Sumbar Butuh Perlindungan

5 September 2026 - 14:24 WIB

Bangkit dari Bawah: Pemulihan Gempa Ngada Berbasis Desa

4 September 2026 - 21:07 WIB

Kelurahan Cipayung dan Paramadina Buka Ruang Kolaborasi Global

1 September 2026 - 14:21 WIB

Renovasi Kelas, Siswa SMA Cendana Boas Malaka Belajar di Luar

31 Agustus 2026 - 19:32 WIB

Trending di PENDIDIKAN