Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] – Di sebuah sudut Desa Teba, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), sinyal seluler adalah barang langka dan paket data dianggap kemewahan. Namun, bagi Jose Fulgencio Amuna (15), yang akrab disapa Jensi, pagar geografis dan keterbatasan teknologi tidak pernah cukup kuat untuk memenjarakan mimpinya. Bermodalkan film kartun hasil unduhan sang ibu dan tekad baja, remaja Oenopu ini kini fasih berbahasa Inggris dan bersiap menaklukkan dunia.
Jensi adalah bukti hidup bahwa pendidikan berkualitas bisa dimulai dari layar ponsel sederhana di ruang tamu desa. Sejak usia empat tahun, sang ibu, Alriyanti C. Rodrigues, “memaksa” indra pendengaran Jensi untuk akrab dengan bahasa negeri Ratu Elizabeth. Tanpa pusing dengan grammar yang kaku, Jensi menyerap kosakata dari film kartun hingga ia mampu berbicara secara natural sebelum ia bahkan bisa mengeja.
Diplomasi Pangan Lokal di Alun-Alun
Kefasihan Jensi mencuri perhatian saat peringatan Hardiknas di alun-alun kantor Bupati TTU, Sabtu (2/5/2026). Tanpa canggung, Jensi menyapa Bupati Yosep Falentinus Dellasale Kebo dalam bahasa Inggris yang lancar. “If you like all the traditional food, you can eat for free,” ujarnya saat mempersilakan sang kepala daerah mencicipi pangan lokal desa.
Bupati Falent yang terkesan sempat bertanya berapa lama Jensi belajar. Jawaban Jensi sederhana namun bermakna: ia sudah belajar sejak bayi melalui film. Di sekolahnya, SMP Negeri Oenupu, Jensi bukan sekadar siswa; ia adalah jembatan bagi teman-temannya, seringkali didapuk menjadi penerjemah untuk memperlancar proses belajar-mengajar di kelas.
Mimpi London dan Jaket Kedokteran
Ambisi Jensi tidak berhenti di bangku sekolah desa. Ia bertekad menyusul pamannya yang telah menetap di London. Baginya, pendidikan adalah tiket satu arah untuk melihat dunia. “Batas negara boleh jadi pagar, tapi mimpi tidak boleh dipagari,” tegasnya penuh keyakinan.
Rencana besar telah disusun. Sang ayah, Yulianus Sikone, seorang jurnalis, berharap Jensi bisa menembus Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang dan kelak meraih beasiswa LPDP. Beasiswa penuh dari Kemenkeu tersebut dipandang sebagai satu-satunya “jembatan emas” bagi keluarga dengan ekonomi terbatas untuk mewujudkan mimpi Jensi kuliah di luar negeri.
Kisah Jensi adalah pesan kuat bagi seluruh anak desa di pelosok Nusantara: bahwa keterbatasan akses digital bukanlah akhir dari sebuah prestasi. Dengan kreativitas orang tua dan ketekunan diri, anak desa mampu memiliki lidah internasional tanpa harus kehilangan jati diri Timor-nya.
Redaksi Desa Merdeka

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.