Opini [DESA MERDEKA] – Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa saat membuka televisi atau membaca berita online, desa selalu digambarkan sebagai tempat yang muram? Isinya kalau bukan tentang kemiskinan ekstrem, pasti soal sengketa lahan, korupsi dana desa, atau bencana alam yang menyedihkan. Seolah-olah, desa adalah kumpulan masalah yang tidak punya daya untuk menolong dirinya sendiri.
Masalahnya bukan sekadar pada wartawannya, melainkan pada sebuah sistem yang oleh filsuf Antonio Gramsci disebut sebagai hegemoni.
Desa dalam Cengkeraman Hegemoni
Bagi Gramsci, penguasaan terhadap kelompok lain tidak selalu dilakukan dengan kekerasan. Ia bekerja halus melalui “kepemimpinan moral dan intelektual”. Dalam konteks ini, kelompok kota yang terdidik dan pemilik media besar secara tidak sadar memaksakan cara pandang mereka kepada warga desa.
Media massa menjadi alat utama untuk membentuk apa yang dianggap sebagai “akal sehat” (common sense). Akhirnya, warga desa mulai percaya bahwa standar hidup orang kota adalah yang paling benar, dan cara hidup mereka sendiri adalah sebuah ketertinggalan.
Menanamkan “Kesadaran Palsu”
Dampaknya sangat serius, yaitu lahirnya false consciousness atau kesadaran palsu. Ini adalah kondisi di mana warga desa merasa bahwa sudut pandang orang luar—seperti wartawan kota atau birokrat—jauh lebih objektif dan “benar” ketimbang suara mereka sendiri.
Ada empat cara halus bagaimana hal ini terjadi:
Repetisi Narasi Buruk: Karena setiap hari disuguhi berita bahwa desa itu miskin dan tertinggal, warga desa lama-kelamaan mengamini hal tersebut. Mereka jadi ragu menceritakan keberhasilan panen atau kearifan lokalnya karena merasa cerita itu “tidak penting” dibanding berita korupsi.
Standar Berita yang Urban-Sentris: Media mencari hal yang sensasional atau menyedihkan. Akibatnya, warga desa sering kali “mengedit” cerita mereka agar terlihat lebih menderita demi menarik perhatian media atau mendapatkan bantuan. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap realitas demi memenuhi ekspektasi orang luar.
Suara Lokal yang Dianggap Tidak Sah: Ada anggapan bahwa wartawan luar lebih netral, sedangkan warga desa dianggap subjektif atau “bias”. Ironisnya, orang yang seumur hidup tinggal di desa dianggap tidak tahu apa-apa, sementara orang luar yang datang sehari dianggap paling ahli.
Rasa Malu terhadap Identitas: Puncaknya, warga desa mulai malu dengan budayanya sendiri. Bahasa daerah dianggap kampungan, dan tradisi lokal dianggap tidak rasional. Mereka lebih bangga muncul di berita sebagai “korban” yang butuh bantuan daripada sebagai penjaga kearifan lokal.
“Orang desa seolah-olah menjadi tamu di rumahnya sendiri, di mana orang luar yang memegang kendali atas ruang tamu dan menentukan cerita apa yang pantas diceritakan.”
Mematahkan Belenggu
Tentu tidak semua desa menyerah. Gramsci menyebut adanya peran intelektual organik—seperti guru, pemuda kreatif, atau tokoh agama setempat—yang mulai sadar dan melawan.
Untuk mematahkan hegemoni ini, kita tidak bisa hanya menunggu media besar datang. Warga desa harus memulai “perang posisi” dengan membangun media komunitas sendiri, baik melalui radio desa maupun kanal media sosial. Suara desa harus murni datang dari rahim desa, bukan hasil “bungkus” sudut pandang orang kota.
Selama desa hanya menjadi objek berita, mereka akan terus menjadi tawanan narasi orang lain. Saatnya warga desa kembali percaya bahwa cerita mereka berharga, unik, dan yang paling penting: berdaulat.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.