Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

OPINI · 27 Apr 2026 07:16 WIB ·

Stop Seremoni Mangrove: Jangan Jadikan Laut Desa Pemakaman Bibit


					Menanam hanyalah 10%. 90% sisanya adalah merawat apa yang tak terlihat di hari pertama. Perbesar

Menanam hanyalah 10%. 90% sisanya adalah merawat apa yang tak terlihat di hari pertama.

Opini [DESA MERDEKA] Semangat restorasi mangrove di desa-desa pesisir sering kali terjebak dalam jebakan “seremoni satu hari”. Slogan manis “tanam sekali, berdampak selamanya” ternyata menyimpan ancaman tersembunyi yang merusak masa depan ekosistem. Pola penanaman monokultur yang asal-asalan justru hanya menyisakan tumpukan bibit mati dan kekecewaan warga desa.

Hutan mangrove bukan sekadar barisan pohon di pinggir pantai, melainkan sistem rumit yang butuh kejujuran. Menanam bibit hanyalah 10% dari perjuangan, sementara 90% sisanya adalah soal perawatan dan pengetahuan akan zonasi alam yang sering kali diabaikan demi alasan praktis.

Ancaman Monokultur: Sawah di Tengah Laut
Banyak proyek di desa memaksakan jenis Rhizophora (bakau) di semua lokasi. Padahal, hutan monokultur sangat rentan terhadap hama dan penyakit. Jika seluruh hutan mati bersamaan karena satu jenis jamur, desa akan kehilangan pelindung abrasi dalam sekejap.

Keanekaragaman hayati adalah kunci utama. Desa membutuhkan perpaduan jenis seperti Avicennia di zona depan dan Bruguiera di zona belakang. Tanpa keragaman jenis akar, kepiting, kerang, dan ikan—sumber protein serta ekonomi warga—tidak akan memiliki tempat berlindung yang layak.

Berhenti Membohongi Alam dengan Slogan Dangkal
Slogan “sekali tanam, selesai” adalah miskonsepsi fatal. Realitanya, tingkat kematian bibit di lapangan menembus angka 60% setelah acara pejabat selesai. Mangrove butuh pendampingan minimal 2 hingga 3 tahun agar mampu bertahan hidup secara mandiri.

Literasi ekologis bagi masyarakat jauh lebih penting daripada jumlah batang yang ditanam. Warga harus memahami bahwa Avicennia bisa menghasilkan madu dan Sonneratia adalah pakan alami satwa. Edukasi manfaat nyata ini akan mengubah warga dari sekadar “peserta tanam” menjadi “penjaga hutan” yang militan.

Konservasi Sejati: Warisan untuk Anak Cucu
Sudah saatnya kita mengubah narasi. Jangan hanya mengejar foto estetik saat menanam, tapi banggalah ketika bibit tersebut tumbuh besar setelah tiga tahun dipantau. Konservasi sejati menuntut ketekunan: kenali jenis tanah, pilih bibit yang cocok, tanam secara beragam, dan lindungi selamanya.

Hutan mangrove yang sehat adalah warisan terbaik bagi anak cucu di desa pesisir. Mari berhenti menyederhanakan masalah rumit dengan slogan dangkal. Mulailah bekerja dengan ilmu pengetahuan dan hati, karena alam butuh kepedulian nyata, bukan sekadar janji manis di atas kertas.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 49 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Mbah Moedjair: Pahlawan Pangan yang “Seharusnya” Mengubah Sejarah Desa

8 Juni 2026 - 14:13 WIB

Jurnalisme Laporan ala Bhabin di Desa: Membunuh Karakter Polisi

8 Juni 2026 - 07:44 WIB

Gotong Royong Digital di Balik Lagu Mas Bahlil Ganteng

1 Juni 2026 - 20:35 WIB

Membongkar Lingkaran Setan Repetisi Berita Bhabinkamtibmas 

30 Mei 2026 - 15:26 WIB

Keadilan Kurban: Mengalirkan Berkah Hingga ke Pelosok Desa

29 Mei 2026 - 21:01 WIB

Kurban Negara: Antara Keadilan Sosial dan Ekonomi Desa

29 Mei 2026 - 15:32 WIB

Trending di OPINI