Agam, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Tradisi mudik lebaran di Sumatera Barat berevolusi menjadi mesin penggerak pembangunan. Dalam momentum “Pulang Basamo Magek Saondoh 2026“, Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah menegaskan bahwa kepulangan perantau ke Nagari Magek, Kabupaten Agam, Kamis (26/3/2026), adalah modal sosial besar untuk mengubah lahan tidur menjadi aset produktif melalui gerakan ekonomi hijau.
Gubernur menilai ikatan emosional perantau Minang yang tangguh dan adaptif harus dikonversi menjadi kontribusi nyata. Bukan sekadar silaturahmi, kepulangan tahun ini ditandai dengan aksi konkret “Magek Mananam”, sebuah gerakan pemanfaatan lahan terbengkalai untuk sektor pertanian dan penghijauan yang melibatkan langsung para perantau.
Investasi Nyata untuk Masa Depan Nagari
Sebagai dukungan stimulan, Gubernur menyerahkan 750 bibit matoa untuk menyukseskan gerakan menanam tersebut. Langkah ini dipandang strategis untuk menjawab tantangan optimalisasi lahan di Nagari Magek yang selama ini belum tergarap maksimal. “Kita ingin perantau berbagi jejaring dan pengalaman untuk mendorong potensi nagari secara berkelanjutan,” ujar Mahyeldi.
Selain sektor lingkungan, kolaborasi ini menyasar pembangunan infrastruktur pendidikan. Peletakan batu pertama pembangunan asrama serta bantuan 100 sak semen untuk Islamic Center Magek menjadi bukti bahwa dana perantau diarahkan pada investasi jangka panjang bagi generasi mendatang.
Sinergi Perantau: Jembatan Ekonomi Desa
Tema “Satu Hati Membangun Nagari” yang diusung menunjukkan pergeseran paradigma. Perantau tidak lagi hanya menjadi tamu setahun sekali, melainkan mitra strategis pemerintah nagari. Dengan membawa pengalaman dari perantauan, mereka diharapkan menjadi mentor bagi warga lokal dalam mengelola unit usaha desa atau sektor agribisnis.
Sinergi ini memastikan bahwa sirkulasi uang selama Idulfitri 1447 H tidak habis untuk konsumsi semata, namun tertanam dalam bentuk bibit pohon dan fondasi bangunan asrama. Inilah wajah baru pembangunan desa: mandiri, kolaboratif, dan berbasis kearifan lokal.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.