Tulungagung, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Malam di Desa Moyoketen tak seperti biasanya. Pelataran Joglo Sanggar Seni Pasopati mendadak hidup, diselimuti wangi janur kuning yang segar dan aroma gurih kuah lodeh ketupat yang menggoda selera. Di sela keriuhan itu, suara sayup-sayup gamelan mulai ditabuh, menciptakan simfoni pembuka yang magis di udara malam.
Di bawah pendar lampu hias yang temaram, Kepala Desa Moyoketen, Hari Purwanto, melangkah mantap menuju podium. Senyum hangatnya menyambut ribuan warga yang tumpah ruah, menciptakan suasana akrab yang melunturkan sekat-sekat sosial.
Acara malam itu bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah perayaan syukur ganda: Halal Bihalal untuk menyucikan hati pasca-Lebaran, dan Kupatan Massal sebagai wujud nyata pelestarian warisan leluhur yang tak lekang oleh waktu.
Filosofi Sepiring Kupat: Simbol Kebersamaan
Sebelum layar wayang dibentangkan, tradisi “Kupatan Massal” menjadi magnet utama yang menyatukan hati. Ratusan porsi ketupat tersaji rapi, dinikmati bersama oleh para pejabat, tokoh agama, hingga warga jelata.
Tampak hadir di tengah warga, Wakil Bupati Tulungagung, H. Ahmad Baharudin, SM., MM., bersama Santoso, MSI (Mantan Kadin LH Tulungagung), serta Kepala Desa Gedangsewu, Miswan. Kehadiran mereka di antara kepulan uap ketupat menjadi bukti bahwa di Moyoketen, kepemimpinan dan rakyat menyatu dalam satu rasa.
“Sesaji Rajasuya”: Saat Wayang Menjadi Cermin Kehidupan
Tepat pukul 21.00 WIB, suasana mencapai puncaknya. Hari Purwanto, yang juga menjabat sebagai Ketua Sanggar Seni Pasopati, menyerahkan Wayang Gunungan secara simbolis kepada Dalang Muda berbakat, Ki Suryo Purnomo. Penyerahan ini menandai dimulainya lakon “Sesaji Rajasuya”.
Begitu kotak wayang diketuk, keheningan menyergap. Cahaya lampu blencong mulai menari-nari di atas layar putih, menghidupkan bayang-bayang kisah tentang kepemimpinan, pengorbanan, dan kebijaksanaan.
“Malam ini, tidak ada sekat di antara kita. Semuanya kembali fitrah sembari menikmati warisan budaya kita,” ujar Pak Kades dalam sambutannya yang menggugah.
Bagi Hari Purwanto, wayang bukan sekadar hiburan semalam suntuk. Ia adalah media dakwah dan edukasi yang paling mujarab. Lewat lakon ini, terselip pesan mendalam tentang pentingnya gotong royong dan menjaga kerukunan desa di tengah arus zaman yang kian menderu.
Antara Tradisi dan Inovasi: Mistis Namun Jenaka
Ada yang unik dari pagelaran Ki Suryo Purnomo malam itu. Selain kepiawaian sabetannya, ia membawa kesegaran dengan menampilkan tokoh-tokoh “Demit” seperti Pocong, Kuntilanak, Genderuwo, hingga Tuyul. Alih-alih seram, kemunculan tokoh-tokoh ini bersama para Ponokawan justru memicu gelak tawa segar yang memecah kesunyian malam.
Wakil Bupati Tulungagung, H. Ahmad Baharudin, memberikan apresiasi setinggi langit. Beliau menegaskan bahwa Tulungagung adalah “gudang” budaya Jawa Timur yang harus terus dijaga.
“Wayang kulit tidak hanya harus di uri-uri (dilestarikan), melainkan juga di-uripi (dihidupkan). Ini tugas kita sebagai generasi penerus. Pemerintah Kabupaten siap mengakomodir agar Sanggar Seni Pasopati dan pelaku seni lainnya terus eksis,” tegas Baharudin pada Kamis malam 26 Maret 20226.
Saat fajar mulai mengintip, Moyoketen telah berhasil menuliskan satu babak penting dalam sejarah desanya. Melalui sabetan wayang dan legitnya ketupat, mereka membuktikan bahwa kemajuan zaman tak akan pernah mampu melunturkan jati diri masyarakat yang religius, berbudaya, dan menjunjung tinggi kekeluargaan.

jurnalis yang berusaha menjaga Marwah


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.