Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan [DESA MERDEKA] — Puncak arus mudik Lebaran 2026 di Pelabuhan Bonerate, Kecamatan Pasimarannu, berubah menjadi potret pulang kampung yang penuh haru. Puncak mudik Lebaran Bonerate Selayar tahun ini terlihat dari lonjakan penumpang yang turun hampir bersamaan dari KM Maloli, membawa satu hal yang sama: rindu yang akhirnya menemukan jalannya pulang.
Kapal Motor (KM) Maloli yang berlayar dari Makassar dan Selayar sandar perlahan di dermaga, mengangkut 279 penumpang yang kembali ke kampung halaman untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga.
Di tengah hiruk-pikuk pelabuhan, suasana berubah menjadi emosional. Tangis haru pecah di antara pelukan keluarga yang telah lama berpisah. Seorang ibu terlihat memeluk anaknya erat di tepi dermaga, seolah menebus waktu yang terlewat selama berbulan-bulan.
Tak hanya manusia, kendaraan pun ikut “mudik”.
Ratusan sepeda motor memadati area pelabuhan, menjemput para pemudik dari berbagai penjuru desa di Kecamatan Pasimarannu. Kepadatan sempat terjadi di jalur keluar masuk dermaga, menciptakan antrean panjang yang tak terhindarkan pada momentum puncak arus mudik Lebaran 2026 di Pelabuhan Bonerate.

Lonjakan mudik Lebaran Bonerate Selayar membuat aktivitas pelabuhan meningkat signifikan, terutama pada jam kedatangan kapal.
Namun situasi tidak berlangsung kacau.
Puncak Mudik Lebaran Bonerate Selayar di Pelabuhan
Sinergi lintas sektor dalam Posko Angkutan Lebaran Pelabuhan Bonerate menjadi kunci utama. Unsur Pemerintah Kecamatan Pasimarannu, TNI–Polri, tenaga medis, Satpol PP, relawan PMI, hingga petugas Wilker pelabuhan bergerak cepat melakukan pengaturan arus kendaraan.

Petugas menerapkan pola pengaturan dinamis dengan mengurai titik kepadatan, mengarahkan kendaraan penjemput agar tidak menumpuk, serta menjaga ritme keluar masuk pelabuhan tetap stabil.
Hasilnya, arus kendaraan yang sempat padat perlahan kembali lancar, aman, dan tertib.
Di tengah upaya pengaturan tersebut, sempat muncul perbedaan pendapat dari sebagian masyarakat terkait metode pengalihan arus kendaraan. Namun petugas tetap mengedepankan pendekatan persuasif, memberikan pemahaman langsung di lapangan bahwa pengaturan dilakukan demi keselamatan dan kenyamanan bersama.
Pendekatan humanis ini terbukti efektif meredam potensi gesekan, sekaligus menjaga suasana tetap kondusif di tengah lonjakan pemudik.
Di balik kelancaran arus mudik ini, peran kru kapal menjadi fondasi utama keselamatan perjalanan laut.
Nakhoda KM Maloli, Martinus Laurensius, menegaskan bahwa seluruh prosedur keselamatan dijalankan secara ketat sejak sebelum keberangkatan hingga kapal sandar di Pelabuhan Bonerate.
“Kami memastikan seluruh prosedur keselamatan dijalankan secara ketat sejak sebelum keberangkatan hingga kapal sandar. Mulai dari pemeriksaan kondisi kapal, kelengkapan alat keselamatan, hingga pengaturan penumpang di dalam kapal. Selama pelayaran, kami juga terus memantau kondisi cuaca dan memastikan perjalanan berjalan aman hingga tiba di Pelabuhan Bonerate,” ujarnya.
Puncak arus mudik Lebaran 2026 di Pelabuhan Bonerate menjadi gambaran nyata bagaimana koordinasi yang solid mampu menjawab lonjakan mobilitas masyarakat.
Lebih dari sekadar angka dan pergerakan manusia, mudik adalah tentang pulang—tentang perjalanan panjang yang berujung pada satu pelukan hangat di kampung halaman.
Secara umum, mudik Lebaran Bonerate Selayar berjalan aman dan kondusif, berkat kerja sama semua pihak yang terlibat. Dan di dermaga Bonerate, ratusan cerita itu akhirnya berlabuh dengan selamat.

kontributor Desamerdeka.id wilayah Sulawesi Selatan. Aktif meliput isu-isu sosial, pemerintahan desa, dan dinamika pembangunan masyarakat pesisir.
















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.