Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 2 Mar 2026 14:48 WIB ·

Mitos Cinta Terlarang di Balik Bukit Karst Kebumen


					Mitos Cinta Terlarang di Balik Bukit Karst Kebumen Perbesar

Kebumen, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Garis takdir asmara bagi sebagian warga Desa Jladri, Kecamatan Buayan, Kebumen, ternyata tidak hanya ditentukan oleh perasaan, tetapi juga oleh peta wilayah. Di balik asrinya perbukitan karst pesisir selatan, masih hidup sebuah kepercayaan turun-temurun yang melarang pernikahan antar-dusun tertentu demi menghindari petaka rumah tangga.

Pantangan ini bukan sekadar isapan jempol bagi warga Dusun Londeng dan Dusun Jladri Tengah. Mereka meyakini bahwa melanggar garis batas jodoh ini bisa berujung pada musibah berat, mulai dari perceraian hingga kematian pasangan.

“Masyarakat masih memegang teguh kepercayaan itu sampai sekarang,” ungkap Kepala Desa Jladri, Marno. Menurutnya, meski tidak berlaku untuk seluruh desa, warga di dusun tertentu sangat patuh pada aturan tak tertulis ini.

Peta Larangan Jodoh: Londeng dan Jarakan
Berdasarkan tradisi lisan, warga Dusun Londeng dilarang memadu kasih hingga ke pelaminan dengan warga Dusun Karangwuni (Desa Wanadadi). Sementara itu, warga Dusun Jladri Tengah memiliki pantangan serupa dengan warga Dusun Jarakan (Desa Adiwarno).

Konon, dulunya Dusun Londeng dan Karangwuni berada dalam satu wilayah sebelum akhirnya terpisah oleh hutan lebat. Sejak pemisahan itu, muncul fenomena yang oleh masyarakat lokal disebut sebagai niteni—sebuah metode pengamatan titen berdasarkan kejadian berulang di masa lalu.

“Ada yang mengamati sejak dulu. Katanya kalau orang Londeng nekat menikah dengan orang Karangwuni, pasti ada musibah yang terjadi,” tambah Marno.

Memilih Mengalah Demi Keselamatan
Kekuatan mitos ini begitu nyata hingga mempengaruhi keputusan besar dalam hidup warga. Kimin Nurofiq (59), salah satu warga setempat, mengakui bahwa banyak pasangan yang terpaksa mengakhiri hubungan mereka secara sukarela jika mengetahui asal-usul dusun pasangan melanggar pantangan.

“Kalau sudah terlanjur dekat, biasanya memilih mengalah. Daripada melanggar risiko, lebih baik mencari pasangan dari tempat lain,” kata Kimin.

Hingga kini, Desa Jladri dengan penduduk sekitar 4.000 jiwa ini tetap tenang dalam balutan tradisinya. Benar atau tidaknya kutukan tersebut secara logika, bagi warga Jladri, menghormati titah leluhur adalah cara mereka menjaga harmoni dan keselamatan keluarga di tengah keheningan bukit batu karang Kebumen.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 52 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Jemu Menunggu Perbaikan, Warga dan Organda Swadaya Benahi Jalan Sakunde–Sambiki

1 Oktober 2026 - 19:56 WIB

Jalan Kaputusan-Indari Rusak Parah, Warga Desak Pemkab Halsel Turun Tangan

29 September 2026 - 16:06 WIB

Siasat Ekspor Mikro: Berhenti Berteori, Saatnya Menyambung Titik Cuan Desa

20 September 2026 - 16:09 WIB

Transportasi Desa Indari Disorot, Pemerintah Diminta Beri Solusi

17 September 2026 - 21:04 WIB

Ketika Mesin Digugat: Palagan Manusia di Pilkades Bantarjaya

17 September 2026 - 13:44 WIB

Tegaskan Bebas Tendensi Politik, LSM KANe Malut Buka Suara Soal Monitoring BLT dan Legalitas Organisasi

8 September 2026 - 06:13 WIB

Trending di RAGAM