Kebumen, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Garis takdir asmara bagi sebagian warga Desa Jladri, Kecamatan Buayan, Kebumen, ternyata tidak hanya ditentukan oleh perasaan, tetapi juga oleh peta wilayah. Di balik asrinya perbukitan karst pesisir selatan, masih hidup sebuah kepercayaan turun-temurun yang melarang pernikahan antar-dusun tertentu demi menghindari petaka rumah tangga.
Pantangan ini bukan sekadar isapan jempol bagi warga Dusun Londeng dan Dusun Jladri Tengah. Mereka meyakini bahwa melanggar garis batas jodoh ini bisa berujung pada musibah berat, mulai dari perceraian hingga kematian pasangan.
“Masyarakat masih memegang teguh kepercayaan itu sampai sekarang,” ungkap Kepala Desa Jladri, Marno. Menurutnya, meski tidak berlaku untuk seluruh desa, warga di dusun tertentu sangat patuh pada aturan tak tertulis ini.
Peta Larangan Jodoh: Londeng dan Jarakan
Berdasarkan tradisi lisan, warga Dusun Londeng dilarang memadu kasih hingga ke pelaminan dengan warga Dusun Karangwuni (Desa Wanadadi). Sementara itu, warga Dusun Jladri Tengah memiliki pantangan serupa dengan warga Dusun Jarakan (Desa Adiwarno).
Konon, dulunya Dusun Londeng dan Karangwuni berada dalam satu wilayah sebelum akhirnya terpisah oleh hutan lebat. Sejak pemisahan itu, muncul fenomena yang oleh masyarakat lokal disebut sebagai niteni—sebuah metode pengamatan titen berdasarkan kejadian berulang di masa lalu.
“Ada yang mengamati sejak dulu. Katanya kalau orang Londeng nekat menikah dengan orang Karangwuni, pasti ada musibah yang terjadi,” tambah Marno.
Memilih Mengalah Demi Keselamatan
Kekuatan mitos ini begitu nyata hingga mempengaruhi keputusan besar dalam hidup warga. Kimin Nurofiq (59), salah satu warga setempat, mengakui bahwa banyak pasangan yang terpaksa mengakhiri hubungan mereka secara sukarela jika mengetahui asal-usul dusun pasangan melanggar pantangan.
“Kalau sudah terlanjur dekat, biasanya memilih mengalah. Daripada melanggar risiko, lebih baik mencari pasangan dari tempat lain,” kata Kimin.
Hingga kini, Desa Jladri dengan penduduk sekitar 4.000 jiwa ini tetap tenang dalam balutan tradisinya. Benar atau tidaknya kutukan tersebut secara logika, bagi warga Jladri, menghormati titah leluhur adalah cara mereka menjaga harmoni dan keselamatan keluarga di tengah keheningan bukit batu karang Kebumen.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.