Indragiri Hulu, Riau [DESA MERDEKA] – Di tengah kepungan perkebunan sawit modern di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), berdiri sebuah desa tua yang masih kokoh memegang teguh “kompas” adatnya. Desa Pelangko, yang terletak di Kecamatan Kelayang, bukan sekadar titik geografis di peta Riau, melainkan sebuah artefak hidup yang telah berusia hampir satu abad.
Lahir secara administratif pada 17 Desember 1927 melalui Bisluit (SK) Sultan Mahmud Sah dari Kerajaan Indragiri, desa ini kini menjadi saksi bisu transisi zaman. Uniknya, di usianya yang menginjak 97 tahun, Desa Pelangko justru dipimpin oleh seorang figur yang menggabungkan dua dunia: Zulhanafiah, S.P., M.M.A., seorang tokoh adat yang juga merupakan akademisi bergelar Magister.
Batang Sungai Pelangko: Ikon yang Tak Lekang Waktu
Sejarah desa seluas 6.814 hektare ini tak bisa dipisahkan dari Batang Sungai Pelangko. Bagi 1.605 jiwanya, sungai ini adalah sumber kehidupan sekaligus asal-usul nama desa yang dulunya disebut “Kampung Pelangko Baru”. Sejak zaman kolonial Belanda sekitar tahun 1915, sungai ini telah menjadi pusat aktivitas, mulai dari mencari ikan hingga pemenuhan kebutuhan harian masyarakat yang saat itu masih hidup berpencar di sepanjang aliran sungai.
Integritas “Buta Huruf” yang Menampar Modernitas
Ada sisi out of the box yang patut direnungkan dari sejarah desa ini. Para tetua Desa Pelangko bercerita bahwa dahulu mayoritas pendahulu mereka buta huruf, namun memiliki pemahaman hukum dan etika yang luar biasa.
Prinsip “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” bukan sekadar pepatah, melainkan aturan tak tertulis yang ditaati. Mereka sangat menghormati hak orang lain, mempertahankan kebenaran tanpa mau menang sendiri, dan menyelesaikan konflik melalui musyawarah yang bijaksana. Integritas organik inilah yang menjadi fondasi karakter masyarakat Pelangko hingga hari ini.
Kepemimpinan Akademisi Berjiwa Budayawan
Kini, estafet kepemimpinan berada di tangan Zulhanafiah, atau akrab disapa Bang Zul. Sosok PJ Kepala Desa ini menjadi simbol bahwa adat dan pendidikan tinggi tidak harus saling meniadakan. Sebagai dosen di ITB Indragiri, Bang Zul membawa angin segar intelektualitas ke dalam urusan desa.
Tak tanggung-tanggung, ia adalah penulis yang karyanya tercatat dalam Rekor MURI (Penulisan Gurindam Kalbu se-ASEAN 2022). Baginya, memimpin desa beradat harus dengan cara yang beradab dan berilmu. “Barang siapa semangat belajar, tentu hidup akan di jalan yang benar,” kutipnya dari salah satu gurindam karyanya.
Di bawah kepemimpinannya, Desa Pelangko terus berbenah dengan mengandalkan sektor perkebunan kelapa sawit, karet, dan penguatan UMKM sebagai motor ekonomi utama. Dengan dukungan 9 perangkat desa dan pengawasan BPD, Pelangko bukan hanya desa sejarah, melainkan desa yang siap menghadapi masa depan tanpa kehilangan jati dirinya.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.