Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur [DESA MERDEKA] – Desa Tanjung Harapan di Kecamatan Sebulu, Kutai Kartanegara, mendadak berubah menjadi magnet wisata dadakan. Bukan karena mal atau destinasi buatan, melainkan berkat melimpahnya populasi Jukut Puyu (ikan pepuyu/betok) di kawasan rawa setempat. Fenomena ini memicu gelombang kedatangan pemancing dari Tenggarong hingga Samarinda yang rela menempuh puluhan kilometer demi sensasi tarikan “ikan pemberani” tersebut.
Pasca-banjir beberapa waktu lalu, perairan rawa Tanjung Harapan menjadi habitat subur bagi ikan bernama latin Anabas testudineus ini. Alhasil, setiap akhir pekan, desa yang biasanya tenang kini riuh oleh para pemancing mania yang datang sejak fajar menyingsing.
Berkah di Atas Atas Perahu Penyeberangan
Sudut pandang menarik dari fenomena ini adalah dampaknya yang langsung menyentuh “nadi” ekonomi rakyat. Layanan feri tradisional yang melintasi Sungai Mahakam menjadi sektor yang paling pertama mencicipi keuntungan. Para operator perahu melaporkan kenaikan pendapatan yang signifikan berkat arus kendaraan roda dua milik pemancing yang ingin menyeberang menuju spot utama.
Tak hanya jasa transportasi, warung-warung lokal dan penyedia logistik di sekitar desa turut merasakan dampak positif dari kehadiran para pelancong hobi ini. Fenomena “demam puyu” ini membuktikan bahwa potensi perikanan darat yang dikelola secara alami mampu menjadi mesin ekonomi kreatif tanpa perlu pembangunan infrastruktur mewah.
Pesan dari Sang Legenda: Jangan Racun Habitatnya
Di tengah euforia ini, kesadaran ekologi menjadi isu sentral. Eko Tempe, pemancing legendaris asal Mangkurawang, mengingatkan bahwa kelestarian rawa adalah harga mati agar “tambang emas” ini tidak sirna.
“Populasi ikan akan terjaga asalkan tidak ada yang curang dengan cara meracun atau menyetrum. Jangan buang sampah sembarangan ke rawa. Kita harus jaga bersama agar jukut puyu di sini tetap eksis untuk anak cucu,” tegas Eko.
Kesadaran warga dan pengunjung untuk tidak mengeksploitasi rawa secara destruktif menjadi kunci keberlanjutan ekonomi desa. Kini, masyarakat menantikan sentuhan pemerintah daerah agar tren wisata pancing di Sebulu ini bisa dikelola secara profesional tanpa merusak keseimbangan alam yang sudah memberi berkah.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.