Pasuruan, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Kabupaten Pasuruan Tahun 2027 di Kecamatan Pandaan tampil beda. Jika biasanya forum perencanaan wilayah didominasi oleh deretan angka dan proyek fisik, pembukaan Musrenbang pada Rabu (28/1/2026) ini justru menaruh sorotan pada pesan inklusivitas melalui penampilan tari siswa tunarungu.
Tiga penari dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Pandaan tampil memukau di hadapan jajaran DPRD Kabupaten Pasuruan dan muspika setempat. Penampilan ini bukan sekadar hiburan, melainkan tamparan halus bagi para pemangku kebijakan agar tidak melupakan kelompok disabilitas dalam menyusun rencana pembangunan masa depan.
Camat Pandaan, Timbul Wijoyo, menegaskan bahwa kehadiran mereka adalah pernyataan sikap bahwa penyandang disabilitas adalah bagian tak terpisahkan dari warga Pandaan yang memiliki potensi besar.
“Sengaja kami melibatkan SLB Pandaan. Kami ingin menggugah kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat kita. Mereka punya kemampuan luar biasa meski bersekolah dengan fasilitas yang sangat terbatas,” tegas Timbul.
Infrastruktur Sosial di Tengah Dominasi Proyek Fisik
Sudut pandang ini menekankan bahwa pembangunan bukan hanya soal aspal dan semen, melainkan keberpihakan pada SDM yang terpinggirkan. Melalui momen ini, pihak kecamatan berupaya menggeser paradigma Musrenbang agar lebih peka terhadap kebutuhan kelompok rentan.
Salah satu tantangan nyata yang mencuat adalah kondisi fasilitas pendidikan SLB. Meskipun secara regulasi kewenangan SLB berada di bawah Pemerintah Provinsi, Timbul berkomitmen bahwa Pemerintah Kecamatan Pandaan tidak akan berpangku tangan.
“Kalau mengandalkan Pemkab memang sulit karena kendala kewenangan provinsi. Namun, kami akan mencarikan jalan lain atau skema bantuan alternatif demi perbaikan fasilitas sekolah mereka,” tambahnya.
Pesan Kuat di Balik Gerakan Tari
Apresiasi luar biasa diberikan oleh Ketua Komisi IV dan Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Pasuruan yang hadir. Kehadiran mereka di forum ini diharapkan mampu membawa aspirasi peningkatan fasilitas publik yang ramah disabilitas ke tingkat kabupaten.
Penampilan tarian tunarungu ini menjadi pengingat bagi seluruh peserta Musrenbang bahwa setiap usulan pembangunan yang dibahas hari itu harus bisa dirasakan manfaatnya oleh semua kalangan, tanpa terkecuali. Transformasi Musrenbang Pandaan ini diharapkan menjadi pemantik bagi kecamatan lain untuk mulai memanusiakan perencanaan pembangunan sejak dalam pikiran.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.