Boyolali, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Siapa sangka, dari kedalaman hutan Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, lahir produk kelas dunia yang mampu mencuri perhatian di Pulau Jawa. Kopi Baloi dan Nilam Organik, dua produk unggulan hasil kearifan lokal Borneo, sukses naik kelas setelah tampil memukau dalam ajang Hari Desa Nasional 2026 yang digelar di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (20/1).
Kehadiran dua produk desa binaan ini bukan sekadar pameran biasa, melainkan simbol perlawanan terhadap stigma bahwa desa pedalaman hanya bisa menjadi penonton ekonomi. Melalui narasi warisan alam yang kuat, Kopi Baloi dari Desa Tumbang Baloi dan minyak atsiri nilam dari Desa Batu Tojah membuktikan bahwa inovasi desa lingkar tambang mampu bersaing di panggung nasional.
Kopi Robusta Rasa Arabika: Legenda yang Bangkit
Kopi Baloi membawa cerita sejarah yang dramatis. Pernah berjaya di abad ke-19 sebagai penghasil kopi utama di Borneo, jejaknya sempat meredup sebelum akhirnya “dihidupkan” kembali oleh masyarakat setempat. Berdasarkan riset tim One Village One Product (OVOC) IPB pada 2022, kopi ini memiliki anomali yang luar biasa. Meski berjenis robusta, kopi ini memiliki aftertaste manis menyerupai karakter arabika—sebuah keajaiban adaptasi alam selama ratusan tahun di hutan Kalimantan.
Riawan Ma’ruf, perwakilan Manajemen PT AlamTri Minerals Indonesia yang melakukan pendampingan, menjelaskan bahwa fokus mereka adalah memperkuat “cerita” di balik produk. “Kami tidak hanya bicara soal kuantitas, tapi bagaimana kualitas dan narasi keberlanjutan produk desa ini memiliki daya saing yang nyata,” tegasnya.
Strategi Hilirisasi: Nilam Bukan Lagi Bahan Mentah
Bergeser ke Desa Batu Tojah, masyarakatnya melakukan lompatan inovasi melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Alih-alih menjual nilam dalam bentuk bahan mentah dengan harga rendah, mereka melakukan hilirisasi produk. Hasilnya? Lahirlah produk gaya hidup seperti lilin aromaterapi, sabun cair, hingga hand wash organik.
Produk-produk ini menggunakan campuran enzim dan active charcoal, menjadikannya sangat ramah lingkungan. Ini adalah bukti nyata bahwa desa di pedalaman Borneo telah memahami konsep ekonomi hijau: meningkatkan nilai tambah tanpa merusak ekosistem hutan.
Partisipasi dua desa ini di Boyolali adalah pesan kuat bagi seluruh desa di Indonesia. Dari aroma kopi yang legendaris hingga wangi nilam yang menenangkan, masa depan ekonomi Indonesia sebenarnya sedang tumbuh subur dari akar rumput pedalaman.
Redaksi Desa Merdeka

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.