Sleman, Yogyakarta [DESA MERDEKA] – Di bawah guyuran gerimis yang syahdu di kawasan Tebing Breksi, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menegaskan posisinya sebagai pionir kedaulatan desa. Pada Kamis (15/1/2026) pagi, ratusan pamong desa dari seluruh penjuru DIY berkumpul dalam Apel Hari Desa Nasional 2026. Momentum ini bukan sekadar seremoni, melainkan proklamasi ulang bahwa desa adalah “akar” yang menentukan kokohnya batang nasional.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, hadir langsung memimpin apel yang dihadiri 392 lurah serta ratusan dukuh, carik, dan perangkat desa lainnya. Pemilihan Tebing Breksi sebagai lokasi acara memberikan pesan kuat: sebuah bekas tambang yang kini menjadi destinasi wisata dunia adalah bukti nyata bagaimana kreativitas warga desa bisa mengubah “batu” menjadi “emas”.

Lebih dari Sekadar Administrasi
Dalam amanatnya, Sri Sultan melontarkan pemikiran yang melampaui urusan birokrasi. Ia menegaskan bahwa pamong desa adalah penjaga gawang kohesi sosial dan keberlanjutan budaya. Di tangan mereka, desa tidak boleh hanya dilihat sebagai unit administratif terkecil, melainkan sebagai ruang hidup yang dinamis.
“Pamong desa harus menjadi teladan integritas. Desa adalah ruang hidup masyarakat yang harus dikelola dengan kebijaksanaan dan empan papan,” tegas Ngarsa Dalem. Pesan ini menjadi pengingat bahwa di tengah arus digitalisasi yang kian kencang, perangkat desa wajib beradaptasi tanpa harus mencerabut akar budaya gotong royong yang menjadi identitas asli nusantara.
Digitalisasi yang Berbasis Budaya
Sultan secara khusus menyoroti tantangan modernisasi. Ia mendorong akuntabilitas dana desa dan keterbukaan informasi publik. Namun, modernisasi tersebut harus berjalan beriringan dengan nilai lokal. Digitalisasi layanan desa di DIY diharapkan tidak hanya mempercepat urusan surat-menyurat, tetapi juga memperkuat transparansi yang jujur dan bertanggung jawab kepada rakyat.
Etalase Ekonomi dari Akar Rumput
Kemeriahan Hari Desa Nasional ini semakin terasa dengan hadirnya lebih dari 150 stan UMKM yang mengepung area tebing. Mulai dari kerajinan tangan, produk herbal, hingga olahan pangan lokal dipamerkan sebagai bukti ketahanan ekonomi desa. Gelaran ini menjadi bukti bahwa desa-desa di Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunungkidul, hingga Kota Yogyakarta memiliki daya saing yang tak bisa dipandang sebelah mata.
Langkah ini dipuji sebagai upaya memperkuat jejaring ekonomi antardesa. Dengan saling terkoneksi, produk lokal diharapkan mampu menembus pasar yang lebih luas tanpa kehilangan sentuhan khas pedesaan. Apel ini ditutup dengan dialog hangat antara Sultan, pamong, dan para pelaku usaha, menyisakan optimisme bahwa masa depan Indonesia memang benar-benar bermula dari desa.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.