Tulungagung, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Setahun sudah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Khusus Pesantren Al Azhaar Kedungwaru, Tulungagung, beroperasi. Di balik ratusan porsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tersaji setiap hari, tersimpan kisah keberanian luar biasa saat memulai program ini di tengah keraguan publik.
Anggota Komisi IX DPR RI, H. Nurhadi, yang hadir dalam tasyakuran satu tahun perjalanan SPPG Al Azhaar pada Minggu (4/1/2026), mengungkapkan bahwa pesantren ini merupakan pionir yang berani mengambil risiko. Pada awal program di tahun 2025, dapur ini harus beroperasi menggunakan dana mandiri sebelum adanya regulasi anggaran yang pasti dari pemerintah.
“Mbah Yai Imam (pengasuh pesantren) mengisahkan awal program ini harus menanggung seluruh biaya operasional sendiri. Namun, beliau tetap jalan dengan niat berkhidmat,” ujar Nurhadi di hadapan 150 undangan yang hadir di Gedung Dakwah Abi KH. M. Ihya Ulumiddin.
Ritual Tengah Malam dan Doa di Setiap Porsi
Sisi lain yang menarik adalah dedikasi para relawan yang bekerja saat dunia sedang terlelap. Kholiq, relawan bagian memasak nasi, menceritakan rutinitasnya yang harus memulai pekerjaan pada pukul 01.00 WIB dini hari. Kedisiplinan ini sering mengundang tanya dari tetangganya yang heran melihatnya berangkat kerja tengah malam.
“Ini adalah pengabdian untuk menciptakan generasi sehat,” tuturnya singkat namun bermakna. Tak hanya soal teknis memasak, Ibu Yeni Selamet, relawan lainnya, mengaku selalu menyisipkan doa pada setiap porsi makanan yang dikemas. Baginya, tugas ini bukan sekadar urusan perut, melainkan ibadah untuk memberikan asupan terbaik bagi anak-anak bangsa.
Sinergi dan Harapan di Tahun Kedua
Kepala SPPG Al Azhaar, Yanita, menjelaskan bahwa keberhasilan satu tahun ini tak lepas dari dukungan warga Desa Kedungwaru dan Rejoagung. Program yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto ini pun diakui pihak Koramil Kedungwaru, Edy Mulyono, sebagai program strategis yang manfaatnya langsung menyentuh rakyat di akar rumput.
Memasuki tahun kedua, Pengasuh Pesantren Al Azhaar, Abah Imam, memiliki visi yang lebih luas. Ia berharap kehadiran SPPG tidak hanya memberi manfaat bagi peserta didik, tetapi juga melahirkan program-program sosial baru yang lebih menyentuh masyarakat sekitar pesantren.
Acara yang berlangsung hangat ini ditutup dengan prosesi potong tumpeng sebagai simbol syukur atas ketahanan pangan dan gizi yang telah dibangun secara mandiri dan penuh pengabdian selama setahun terakhir.

jurnalis yang berusaha menjaga Marwah


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.