Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Pertimbangkan Gapura Batas Wilayah Mirip Candi Bentar
Bandung, Jawa Barat [DESA MERDEKA] – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkapkan rencana ambisiusnya untuk membangun gapura serupa dengan desain kontroversial Gapura Gedung Sate sebagai penanda batas-batas wilayah di seluruh Jawa Barat. Rencana ini muncul di tengah sorotan publik yang membandingkan desain Gapura Gedung Sate di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, dengan arsitektur Candi Bentar, serta menyoroti total anggaran pembangunan yang mencapai Rp3,9 miliar.
Melalui video yang diunggah di kanal YouTube resminya, Kang Dedi Mulyadi Channel, Gubernur Dedi Mulyadi memberikan penjelasan komprehensif mengenai filosofi, makna, dan rincian anggaran proyek tersebut. Penyelenggara teknis proyek menjelaskan bahwa anggaran sebesar Rp3,9 miliar tersebut tidak hanya dialokasikan untuk satu gapura besar di depan Gedung Sate, melainkan mencakup pembangunan di empat titik kecil dan dua titik gapura besar lainnya, selain gerbang utama.
Penegasan Kualitas dan Nilai Seni Tinggi
Menanggapi kritik atas besarnya anggaran, Dedi Mulyadi secara tegas membela kualitas dan nilai seni bahan baku yang digunakan. Ia menjelaskan bahwa bahan baku yang didatangkan, termasuk batu dari Madura, memiliki harga yang lebih tinggi karena mengusung arsitektur high class dan nilai seni tinggi.
“Karya-karya yang berarsitekturkan high class seni tinggi pasti harganya beda. Kalau ingin murah, tentu bisa menggunakan hebel. Tapi, pagar Gedung Sate tidak mungkin pakai hebel,” tegas Gubernur Dedi Mulyadi, menggarisbawahi komitmennya pada kualitas dan nilai estetika bangunan bersejarah tersebut.
Rencana Masif: Membangkitkan Ekonomi Lokal
Dalam kesempatan tersebut, Dedi Mulyadi juga berdiskusi dengan arsitek dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Sigit, mengenai rencana perluasan konsep gapura ke batas-batas administrasi wilayah.
“Nanti kan ini akan berkembang, kita akan membuat batas desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten, dan provinsi yang tentunya merupakan turunan dari gapura ini di berbagai tempat,” kata Dedi Mulyadi, mengindikasikan bahwa desain gapura ini akan menjadi identitas visual baru Jawa Barat.
Namun, untuk pembangunan gapura batas wilayah secara masif ini, Dedi Mulyadi berharap dapat menggunakan bahan baku yang berasal dari Jawa Barat sendiri. Strategi ini dirancang tidak hanya untuk efisiensi, tetapi juga untuk menggerakkan perekonomian masyarakat lokal.
“Saat ini industri genteng dan bata sedang menurun. Mereka bisa bangkit nanti. Kita teliti tanahnya, strukturnya kuat atau tidak. Mereka bisa mengerjakan ini secara masif se-Jawa Barat, berapa ratus miliar nanti. Desa-desa mengadopsi konsep yang sama, ekonominya pasti akan berputar,” jelasnya penuh harap.
Meskipun rencana pengembangan konsep gapura ini telah disampaikan secara terbuka, Gubernur belum merinci waktu pelaksanaan dan detail teknisnya. Ia menekankan perlunya penelitian lebih lanjut terkait bahan baku lokal dari Jawa Barat yang ideal untuk digunakan sebagai material gapura yang kuat dan berestetika tinggi, serupa dengan Gapura Gedung Sate.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.