Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

EKBIS Β· 16 Sep 2025 05:46 WIB Β·

Tangan Ajaib Warga Semarang: Limbah Jadi Ladang Dolar


					Tangan Ajaib Warga Semarang: Limbah Jadi Ladang Dolar Perbesar

Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Siapa sangka, di tangan kreatif warga Kabupaten Semarang, tumpukan limbah dan barang bekas yang sering dianggap tak berguna bisa disulap menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Bukan sekadar iseng, kerajinan ramah lingkungan ini telah menembus pasar internasional dan menghasilkan devisa.

Fenomena ini membuktikan bahwa dengan sentuhan inovasi, limbah seperti batok kelapa dan celana denim bekas bisa menjadi komoditas berharga. Berbekal konsep EDAN (Ethnic, Different, Authentic, Natural), para perajin lokal menciptakan produk kerajinan yang tidak hanya unik, tetapi juga mencerminkan identitas budaya lokal. Sandal, kalung, hingga aksesori lainnya dibuat secara manual, bebas polusi udara maupun suara, bahkan tanpa listrik jika dikerjakan di luar ruangan.

Salah satu perajin yang menginspirasi adalah Mas W, yang akrab disapa Mas Kokos. Ia mengolah celana jeans bekas yang dibelinya dengan harga Rp10.000 menjadi produk sandal bernilai jual tinggi. “Satu celana jeans bisa jadi 10 pasang sandal,” ungkapnya.

Selain denim, Mas Kokos juga memanfaatkan limbah kain endek Bali serta ban bekas untuk bahan sol. Keunikan dari produknya terletak pada sentuhan kearifan lokal, yakni penggunaan eceng gondok sebagai salah satu ornamen.

Bahan limbah lainnya, batok kelapa, juga disulap menjadi kalung etnik yang memikat. Batok dihaluskan, diberi warna akrilik, dan dirajut menggunakan benang aneka warna. Keaslian batok kelapa di bagian belakang sengaja dibiarkan untuk mempertahankan keunikan dan daya tarik produk.

Kreativitas ini terbukti berhasil menarik perhatian pasar global. Mas Kokos bercerita, produk sandalnya telah dikirim ke Jerman setelah seorang turis asing membelinya saat pameran di Bali. Pembeli tersebut bahkan memesan 20 pasang sekaligus setelah produk pertamanya disukai oleh keluarga di Jerman.

Inisiatif ini tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memberikan pesan penting tentang keberlanjutan. Mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai, memberdayakan diri sendiri, dan menciptakan lapangan kerja adalah fondasi ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Ini adalah bukti nyata bahwa semangat kreativitas dan kegigihan masyarakat dapat mengubah masalah lingkungan menjadi solusi ekonomi, dan pada akhirnya, menginspirasi banyak orang untuk berbuat hal serupa.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 44 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kisah Sukses Marno Kembangkan Bakso Lewat Bimtek

25 Juni 2026 - 15:53 WIB

Bukan Cuma Berburu Turis, Ini Wajah Baru Pariwisata Masa Depan!

31 Mei 2026 - 01:38 WIB

Internet Rakyat: Senjata Baru BUMDesa Sragen Mandiri Digital

30 Mei 2026 - 18:42 WIB

Perangkat Internet Rakyat di Acara GAS 2026

Samsat Budiman: BUMDesa Gesit Amankan Pajak Desa

30 Mei 2026 - 12:22 WIB

Pelayanan Pembayaran Pajak Kendaraan Samsat Budiman

Strategi GAS Sragen 2026 Dongkrak Pendapatan Daerah

29 Mei 2026 - 16:44 WIB

Government Auto Show 2026 di Gedung Sasana Manggala Sukowati Sragen

Hilirisasi Pinang Lima Puluh Kota Menembus Pasar Ekspor

29 Mei 2026 - 10:45 WIB

Trending di EKBIS