Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Deteksi dini keterlambatan bicara pada anak kini menjadi fokus utama pemberdayaan masyarakat di Desa Nogosaren, Getasan. Melalui inisiatif mahasiswa KKN Universitas Negeri Semarang (UNNES), para kader Posyandu dibekali pengetahuan teknis untuk mengenali ciri-ciri gangguan berbahasa sejak dini. Langkah ini diambil guna memastikan generasi penerus desa tumbuh optimal sesuai tahapan usianya.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Nogosaren ini membedah peran krusial stimulasi bahasa bagi anak usia dini. Mahasiswa KKN dari Program Studi Sastra Indonesia memaparkan faktor penyebab hingga langkah pencegahan yang bisa dipraktikkan langsung oleh orang tua di rumah.

Buku Panduan 51 Halaman di Meja Bidan Desa
Sebagai bentuk keberlanjutan program, sebuah buku panduan praktis setebal 51 halaman telah disusun oleh Zulfa Tsaabita, salah satu mahasiswa KKN. Buku ini mencakup definisi, jenis gangguan, contoh kasus, hingga tips stimulasi mandiri. Panduan tersebut kini ditempatkan di kantor Bidan Desa Nogosaren agar dapat diakses dan dimanfaatkan secara luas oleh seluruh warga desa.
“Stimulasi sejak dini sangat penting. Kader Posyandu berperan membantu orang tua mengenali perkembangan bahasa anak,” ujar Zulfa. Para kader diharapkan tidak hanya menjadi pengukur berat badan, tetapi juga mampu memberikan rujukan kapan seorang anak perlu dibawa ke dokter atau terapis wicara jika ditemukan tanda-tanda gangguan komunikasi.
Membangun Generasi Desa yang Lebih Cerdas
Antusiasme tinggi terlihat saat sesi kuis dan diskusi interaktif berlangsung. Kader Posyandu kini memiliki pemahaman dasar yang lebih memadai untuk mendampingi orang tua di wilayahnya masing-masing. Inisiatif sederhana ini diharapkan mampu menekan angka keterlambatan bicara (speech delay) dan menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang lebih sehat di Desa Nogosaren.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.