Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Sumatera Barat sedang menghadapi anomali kesehatan yang mengkhawatirkan. Di balik gedung-gedung rumah sakit kota yang megah, terdapat ribuan warga di pelosok yang harus bertaruh nyawa karena ketiadaan tenaga medis. Data terbaru menunjukkan Sumatera Barat masih defisit 743 dokter untuk mencapai rasio ideal yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, mengungkapkan fakta pahit ini saat menghadiri HUT ke-73 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Padang. Dengan populasi mencapai 5,6 juta jiwa, idealnya Sumbar memiliki 5.640 dokter. Namun, kenyataannya hanya ada 4.897 tenaga medis yang tersedia, dan mayoritas menumpuk di wilayah perkotaan.
Ironi Puskesmas Tanpa Dokter
Kesenjangan ini menciptakan potret kelam di daerah terpencil. Bayangkan, institusi pelayanan kesehatan primer seperti Puskesmas Air Amo di Sijunjung dan Puskesmas Bosua di Kepulauan Mentawai saat ini beroperasi tanpa kehadiran satu dokter pun. Bagi warga setempat, mendapatkan penanganan medis dasar kini menjadi kemewahan yang sulit dijangkau.
Masalah utama bukan sekadar angka kekurangan, melainkan distribusi yang “pincang”. Wilayah perkotaan mengalami saturasi tenaga medis, sementara daerah kepulauan seperti Mentawai harus berjuang keras hanya untuk mendatangkan dokter spesialis.
Membedah Solusi Kolaboratif
Gubernur Mahyeldi menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam membedah sengkarut ini. Beliau menyerukan “operasi besar” melalui kolaborasi antara IDI, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK Unand), dan pemerintah kabupaten/kota.
“Kita perlu mencari solusi bersama untuk mendorong pemerataan distribusi dokter ke seluruh pelosok, terutama wilayah yang selama ini terabaikan,” ujar Mahyeldi.
Strategi yang diusulkan mencakup insentif bagi dokter yang bersedia mengabdi di zona merah kesehatan serta penguatan kurikulum pengabdian. Transformasi sistem kesehatan di Sumbar tidak akan pernah tuntas jika akses berkualitas hanya dinikmati oleh warga kota, sementara warga desa hanya menjadi penonton dalam statistik pembangunan.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.