Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung [DESA MERDEKA] – Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, melakukan langkah berani dengan mengubah total strategi penanganan tengkes (stunting). Sadar bahwa angka prevalensi justru naik satu persen menjadi 21 persen pada tahun lalu, Sekretaris Daerah Bangka Tengah, Sugianto, menegaskan bahwa Pemkab kini tidak lagi mengedepankan sosialisasi, melainkan intervensi langsung ke akar masalah.
Pemkab menetapkan target ambisius untuk memangkas angka stunting sebesar 7 persen guna mencapai angka 14 persen pada tahun 2024, selaras dengan target minimal nasional. Pergeseran paradigma ini disampaikan dalam acara Rembuk Stunting bersama Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di Koba, Kamis (25/5/2023).
Fokus pada 13 Desa dan Masalah Sanitasi
Bukan tanpa alasan langkah “jemput bola” ini diambil. Data menunjukkan fluktuasi yang mengkhawatirkan: dari 20 persen pada 2021, naik menjadi 21 persen pada 2022. Untuk membalikkan keadaan, Pemkab telah mengunci 13 desa sebagai lokus prioritas, di antaranya Desa Kulur Ilir, Lubuk Pabrik, Belilik, hingga Desa Melabun.
Kecamatan Sungaiselan menjadi titik perhatian paling tajam. Sugianto menyoroti bahwa kondisi geografis dan buruknya akses sanitasi menjadi biang keladi tingginya prevalensi di wilayah tersebut. Pola hidup sehat yang masih rendah di sana menuntut kolaborasi lintas sektoral, bukan hanya tugas satu instansi kesehatan semata.
Memutus Rantai Gizi dari Hulu
Sudut pandang “out of the box” yang diusung Pemkab Bangka Tengah adalah dengan melakukan pengawasan ketat pada setiap fase kehidupan manusia di Negeri Selawang Segantang. Rantai stunting diputus mulai dari:
- Remaja Putri: Memastikan kecukupan gizi sejak usia produktif.
- Calon Pengantin (Catin): Edukasi kesiapan fisik sebelum kehamilan.
- Ibu Hamil & Posyandu: Pemantauan nutrisi harian secara berkala.
- Tingkat PAUD: Intervensi gizi pada masa emas pertumbuhan anak.
“Tugas kita saat ini tidak lagi berupa sosialisasi, namun langkah nyata yang langsung menyentuh ranah di mana stunting ini bermula,” tegas Sugianto.
Langkah kolaboratif ini melibatkan berbagai lembaga untuk memperbaiki infrastruktur sanitasi sekaligus mengubah perilaku masyarakat secara radikal. Dengan target sisa waktu yang ada, Bangka Tengah optimis transformasi dari pola pikir birokratis ke aksi lapangan ini mampu melahirkan generasi yang lebih sehat dan bebas tengkes.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.