Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

DESA · 1 Jun 2025 12:32 WIB ·

Warga Wayakuba Merana, Pemda Halsel dan BPBD Tutup Mata atas Nestapa Banjir Ratusan Juta Rupiah!


					Warga Wayakuba Merana, Pemda Halsel dan BPBD Tutup Mata atas Nestapa Banjir Ratusan Juta Rupiah! Perbesar

Wayakuba, Halmahera Selatan [DESA MERDEKA] Jerit pilu warga terdampak banjir di Desa Wayakuba, Kecamatan Bacan Timur Selatan, Halmahera Selatan, kian nyaring. Pasalnya, hingga kini, mereka belum juga menerima uluran tangan dari Pemerintah Daerah Halmahera Selatan (Pemda Halsel) maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Halsel, meskipun bencana banjir yang merendam puluhan rumah telah berlalu sejak 4 April 2025 lalu. Ketidakpekaan dan ketidakpedulian yang ditunjukkan oleh kedua instansi ini menimbulkan kerugian materiil yang ditaksir mencapai ratusan juta rupiah, serta memicu kekecewaan mendalam di tengah masyarakat.

Meskipun laporan telah dilayangkan, pihak BPBD Halsel seolah ‘lupa ingatan’ atas tragedi yang menimpa warga. Tidak ada sinyalemen sedikit pun yang menunjukkan adanya upaya serius untuk meringankan beban penderitaan korban. Padahal, warga di RT 03 dilaporkan mengalami kerugian material tidak sedikit akibat rumah-rumah mereka terendam total. Tidak hanya itu, sejumlah usaha warga pun gulung tikar lantaran stok pangan seperti beras dan kebutuhan pokok lainnya luluh lantak digenangi air.

Salah seorang warga korban banjir yang enggan disebutkan namanya, dengan nada getir mengungkapkan rasa frustrasinya. “BPBD terlalu abai atas apa yang sudah terjadi dan tidak peduli kepada warga yang terdampak,” ujarnya. Menurutnya, sikap ‘santai’ BPBD sangat kontras dengan skala bencana yang terjadi, di mana hampir setengah dari total penduduk Desa Wayakuba terdampak. “Banjir sudah sebesar itu, namun pihak BPBD beranggapan biasa saja, tidak ada keseriusan dalam mengambil tindakan untuk menuntaskan permasalahan tersebut. Masyarakat Desa Wayakuba beranggapan bahwa ini adalah salah satu tugas BPBD paling terburuk di Kabupaten Halmahera Selatan,” tambahnya penuh kekecewaan.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa sikap acuh tak acuh BPBD ini dapat mencoreng nama baik Bupati Halmahera Selatan. Oleh karena itu, ia mendesak agar Bupati segera bertindak dan mencopot Kepala BPBD yang dinilai tidak cakap dalam menjalankan tugasnya.

Sebagai informasi, Desa Wayakuba memang sempat dilanda banjir pada Jumat dini hari, 4 April 2025, sekitar pukul 02.15 WIT hingga pukul 09.00 WIT malam. Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur sejak Kamis pagi menyebabkan luapan air merendam 37 unit rumah hunian, melumpuhkan aktivitas 37 Kepala Keluarga (KK).

Pemerintah Desa Wayakuba melalui Sekretaris Desa, Usman Salamat, sebelumnya juga telah angkat bicara. Ia menyoroti akar permasalahan banjir berulang di wilayahnya, yakni sistem aliran air yang tidak memadai. Usman mendesak pemerintah kabupaten maupun provinsi untuk segera mengambil langkah konkret guna mencegah terulangnya bencana serupa. “Banjir ini bukan kali pertama terjadi. Jalur air yang tidak tertata menyebabkan air meluap hingga masuk ke rumah-rumah warga setiap kali hujan deras turun. Kami meminta pemerintah segera membangun bronjong penahan agar aliran air bisa dikendalikan,” tegas Usman Salamat.

Ironisnya, hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah daerah mengenai penanganan pascabencana di Desa Wayakuba. Warga berharap adanya respons cepat dan konkret, bukan hanya janji-janji kosong. Bahkan, salah seorang anggota BPBD Halsel yang ditemui kontributor media ini secara tersirat mengakui ketidakpedulian instansinya. Ia meminta agar pemberitaan terkait abainya BPBD terhadap kerugian warga Wayakuba lebih diperbanyak, dengan harapan Kepala BPBD memberikan respons dan Bupati Halmahera Selatan dapat mengetahui kondisi riil di lapangan. Kondisi ini kian memperparah luka warga yang terpaksa berjuang sendiri selepas bencana.

Kontributor/foto(s): Sardin Adam

Disclaimer Berita:
Berita ini disusun berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga terdampak dan pihak-pihak terkait di Desa Wayakuba. Kami berupaya menyajikan informasi seobjektif mungkin. Redaksi senantiasa membuka ruang bagi klarifikasi dan tanggapan dari pihak Pemerintah Daerah Halmahera Selatan dan BPBD Halsel terkait isu yang diberitakan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 255 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Demokrasi Bantarjaya: Daftar Pemilih BPD Resmi Ditetapkan hari ini

16 April 2026 - 10:58 WIB

Soreang Digital: Strategi Mandiri Lewat Ikan dan AI

11 April 2026 - 03:17 WIB

Sengketa Lapak Popoh: Saat Realitas Sosial Beradu Aturan

11 April 2026 - 01:56 WIB

Prestasi vs Preseden: Nasib Desa Sukojati di Ujung Prosedur

11 April 2026 - 00:06 WIB

Lapak Panas Desa Popoh: Sengketa Adat atau Intimidasi?

10 April 2026 - 21:11 WIB

Tenun Kakaniuk: Dari Desa Malaka Menuju Pasar Nasional

10 April 2026 - 15:13 WIB

Trending di DESA