Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

RAGAM · 28 Mei 2025 07:36 WIB ·

Polisi Ungkap Modus Premanisme Baru: Koperasi Desa ‘Paksa’ Kelola Limbah B3


					Brigjen Suhendri, Dirpamobvit Korsabhara Baharkam Polri, menjelaskan tentang modus premanisme gaya baru di Jakarta Selatan. Perbesar

Brigjen Suhendri, Dirpamobvit Korsabhara Baharkam Polri, menjelaskan tentang modus premanisme gaya baru di Jakarta Selatan.

Jakarta [DESA MERDEKA] Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kembali menyoroti evolusi modus premanisme di Tanah Air. Jika dulu aksi premanisme kerap berujung pada praktik pungutan liar (pungli), kini mereka cenderung “meminta proyek” tanpa memiliki kompetensi yang memadai. Fenomena ini terungkap dalam laporan yang diterima Polri dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengenai intervensi koperasi desa dalam pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di sebuah objek vital nasional.

“Aksinya itu berubah, minta proyek seperti kami pernah diundang oleh Kementerian Perindustrian terkait ada suatu koperasi desa minta ikut mengelola limbah B3 di suatu objek vital nasional,” ujar Dirpamobvit Korsabhara Baharkam Polri, Brigjen Suhendri, kepada awak media di Hotel Grandhika, Jakarta Selatan, Selasa (27/5) kemarin.

Brigjen Suhendri tidak merinci lokasi persis dari objek vital yang dimaksud. Namun, ia menegaskan bahwa secara aturan, koperasi desa tidak diperbolehkan untuk turut serta dalam pengelolaan limbah B3 yang notabene memerlukan penanganan khusus dan kompetensi tinggi. Kasus ini, menurut Suhendri, telah dilaporkan secara resmi oleh pihak Kemenperin kepada kepolisian.

“Mereka (koperasi desa) memaksakan untuk tetap dapat proyek itu sehingga dari pihak perusahaan melapor ke kita,” tambahnya.

Informasi ini menjadi penting dalam upaya Polri mencegah praktik premanisme gaya baru yang dapat mengganggu iklim investasi dan operasional industri, khususnya pada objek vital nasional. Sebelumnya, Ditpamobvit Korsabhara Baharkam Polri telah mengambil langkah proaktif dengan mengeluarkan sertifikat sistem manajemen pengamanan (SMP) untuk objek vital nasional. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat aspek keamanan perusahaan dan mencegah berbagai bentuk gangguan, termasuk premanisme.

Sejauh ini, dari total 1.997 objek vital nasional, baru sekitar 80 di antaranya yang sudah terverifikasi dan menjalin kerja sama dengan Polri dalam implementasi sistem manajemen pengamanan. Sebagai penegak hukum, Polri memiliki kewajiban untuk melakukan audit atas sistem pengamanan objek vital nasional, sebagaimana diatur dalam Pasal 5 Keputusan Presiden Nomor 63 Tahun 2004. Selain itu, Polri juga bertanggung jawab penuh atas pengamanan objek vital nasional demi menjaga stabilitas dan kelancaran operasionalnya. Modus premanisme gaya baru ini menjadi tantangan tersendiri bagi aparat penegak hukum untuk terus beradaptasi dan memastikan keamanan perusahaan tetap terjaga.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Loleo Membara: Empat Tahun Tanpa Audit, LSM-KANe Tantang Pemda Halsel Bongkar ‘Borok’ Dana Desa

9 Mei 2026 - 19:57 WIB

Etika Jurnalisme: Pilar Penjaga Marwah Pembangunan dari Desa

3 Mei 2026 - 12:13 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 27: Pariwisata Ramah Lingkungan

3 Mei 2026 - 09:57 WIB

Kepala Desa Jarang Ngantor Jadi Ancaman Serius Pembangunan

24 April 2026 - 22:13 WIB

Ekonomi Digital Desa: Koperasi Merah Putih Tembus Pasar Dunia

23 April 2026 - 09:32 WIB

Asa dari Kalaotoa: Saat Bupati Peluk Keluhan Warga

22 April 2026 - 10:54 WIB

Trending di RAGAM