Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

OPINI · 21 Mei 2025 11:14 WIB ·

Mengharumkan Gayo di Negeri Sakura: Perjalanan Ekspor Kopi Milenial Indonesia


					Mengharumkan Gayo di Negeri Sakura: Perjalanan Ekspor Kopi Milenial Indonesia Perbesar

Dalam sebuah era ketika anak muda banyak berpaling dari dunia pertanian, muncul satu nama yang memberikan harapan baru: Reza Kenara, seorang milenial asal Takengon, Aceh. Dengan latar belakang pendidikan teknologi hasil pertanian dan semangat wirausaha, ia berhasil membawa kopi Gayo ke Jepang. Cerita inspiratif ini mengemuka dalam webinar ke-159 Program Intanitor (Inspirasi Bisnis Intani) yang diadakan oleh Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (INTANI) bekerja sama dengan PT Pegadaian.

Awal Perjalanan: Dari Magang ke Misi Dagang
Segalanya berawal dari program magang pertanian ke Jepang yang difasilitasi pemerintah pada tahun 2019. Meski program tersebut terhenti akibat pandemi COVID-19, komunikasi Reza dengan pihak Jepang tetap terjalin secara daring. Setelah melalui berbagai pertemuan virtual dan eksperimen produk, mereka sepakat untuk membangun bisnis kopi yang menghubungkan Aceh dan Jepang. Reza pun memulai pengiriman green bean kopi arabika dari petani lokal ke Jepang.

Kunci Sukses: Kejujuran dan Keaslian Produk
Kepercayaan menjadi kunci utama menembus pasar Jepang. Reza mengedepankan prinsip transparansi, menunjukkan secara apa adanya bagaimana kopi Gayo diproduksi—tanpa manipulasi informasi. Ketika ditanya tentang kopi organik, ia jujur menyampaikan keterbatasan ketersediaan dan konsistensi bahan baku organik di daerahnya. Justru dari kejujuran inilah kepercayaan tumbuh dan bisnis berjalan.

Kualitas dan Konsistensi: Tuntutan Pasar Jepang
Pasar Jepang dikenal ketat terhadap standar mutu dan konsistensi rasa. Untuk menjawab tantangan ini, Reza mengikuti pelatihan cupping test guna menjamin kualitas kopi yang diekspor. Green bean yang dikirim dipilih dari panen dengan kematangan optimal dan diproses dengan berbagai metode seperti full washed, natural, dan honey process.

Tantangan Logistik dan Skala Produksi
Dalam satu tahun, volume pengiriman kopi Reza ke Jepang masih berkisar satu ton—terlalu kecil untuk mengisi kontainer penuh. Solusinya adalah ‘nebeng’ di kontainer pengusaha lain. Ia juga menyoroti tantangan biaya logistik dan kebutuhan sertifikasi ekspor, yang menyulitkan petani kecil atau koperasi lokal yang belum profesional.

Model Bisnis yang Efisien dan Terintegrasi
Reza menjalankan model bisnis terintegrasi: ia bertindak sebagai petani, pemroses, pengumpul, hingga mitra buyer internasional. Pendekatan ini tidak hanya efisien, tetapi juga mempersingkat rantai distribusi. Dalam paparannya, ia menyampaikan bahwa sebagian besar kopi Gayo saat ini sudah terserap pasar luar negeri seperti Jepang, Eropa, dan Amerika, meski masih didominasi oleh brand besar.

Strategi Pemasaran dan Arah Ekspansi
Selain menjual secara langsung, Reza dan mitranya di Jepang mulai membangun kehadiran digital dengan membuat website dan strategi promosi kopi specialty secara online. Mereka juga aktif mengikuti pameran internasional seperti Specialty Coffee Exhibition di Tokyo, dengan tujuan mengenalkan cita rasa kopi Gayo ke konsumen yang lebih luas. Dalam waktu dekat, mereka membuka skema pre-order sebagai cara memperluas basis pelanggan sebelum pengiriman.

Pesan untuk Generasi Muda
Dalam sesi tanya jawab, Reza membagikan pesan penting bagi petani dan generasi muda yang ingin menekuni ekspor pertanian: “Jangan make up produk, tunjukkan apa adanya. Dari sanalah kita bisa tahu apa yang perlu diperbaiki.” Ia juga mendorong kolaborasi antara petani, koperasi, dan trader untuk mempermudah akses pasar.

Respon dan Dukungan INTANI
Ketua INTANI, Guntur Subagja, mengapresiasi kiprah Reza sebagai contoh konkret model pertanian milenial berbasis ekosistem. Ia menekankan pentingnya pergeseran dari budidaya ke hilirisasi agar nilai tambah produk dinikmati oleh petani. Dalam konteks pembangunan ekonomi nasional, cerita Reza menunjukkan bahwa sektor pertanian bisa menarik dan menguntungkan bila dikelola dengan inovasi dan semangat muda.

Penutup
Kisah Reza Kenara bukan sekadar tentang ekspor kopi, melainkan tentang semangat, kolaborasi, dan keberanian generasi muda dalam membangun jembatan antara desa dan dunia. Dengan ketekunan, transparansi, dan inovasi, petani muda Indonesia bisa mengharumkan nama bangsa di pentas global. Gayo telah berbicara melalui cangkir kopi, kini giliran petani lain untuk mengangkat rasa lokal ke selera dunia.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 84 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ekonomi Kicau Mania Desa Gerakkan Triliunan Rupiah

23 Mei 2026 - 16:48 WIB

Jaga Jakarta Bersih dan Asri: Langkah Kecil untuk Masa Depan Kota

23 Mei 2026 - 13:18 WIB

Jurnalis Mendirikan Yayasan: Begini Cara Aman Hindari Konflik Kepentingan

19 Mei 2026 - 18:46 WIB

Desa Tak Pakai Dolar, Tapi Impor Membebani?

18 Mei 2026 - 21:06 WIB

Sengketa Plasma Tana Tidung: Masyarakat Desa Terjepit Bagi Hasil

10 Mei 2026 - 23:56 WIB

Senjakala Etalase Ekonomi Jombang: Dibalik Gemerlap Digital dan Ancaman Kemiskinan

10 Mei 2026 - 15:31 WIB

Trending di OPINI