Trawas, Mojokerto [DESA MERDEKA] – Di tengah hijaunya hamparan sawah Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, sebuah asa baru tumbuh subur seiring dengan panen padi yang melimpah. Pemerintah desa (pemdes) setempat mengambil langkah progresif untuk mengoptimalkan anugerah alam ini, tidak hanya sekadar menjual gabah, namun dengan memproduksi beras secara mandiri. Inisiatif ini diharapkan menjadi oase bagi perekonomian masyarakat, menumbuhkan kemandirian pangan, dan meningkatkan pendapatan asli desa (PADes).
Langkah awal yang visioner ini diwujudkan dengan pembangunan infrastruktur pendukung yang memadai. Pada tahun 2024, kucuran Dana Desa (DD) sebesar Rp 244 juta dimanfaatkan secara optimal untuk mendirikan dua unit bangunan penting. Bangunan pertama adalah gudang penggilingan padi seluas 60 meter persegi dengan investasi Rp 121 juta. Bangunan kedua adalah dua unit lantai jemur dengan total luas 140 meter persegi, menelan anggaran Rp 122 juta. “Untuk lantai jemur memang ada dua unit, masing-masing berukuran 10×14 meter. Sementara untuk penggilingan, kami masih memanfaatkan satu mesin yang sudah ada,” jelas Kepala Desa Tamiajeng, Warnoto, dengan nada optimis.
Nantinya, gudang penggilingan padi ini akan dikelola sepenuhnya oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Agung Pinayungan. Dengan pengelolaan yang profesional, gudang ini diproyeksikan mampu menyerap hasil panen gabah dari sekitar 70 hektare areal persawahan yang membentang di Desa Tamiajeng. Bahkan, tidak menutup kemungkinan untuk menerima pasokan gabah dari desa-desa tetangga demi memenuhi target produksi harian.
Warnoto tak menampik bahwa inisiatif penggilingan padi ini memiliki orientasi pada keuntungan ekonomi. BUMDes Agung Pinayungan akan berperan aktif dalam memasarkan beras hasil produksi petani dengan merek dagang kebanggaan desa sendiri. Keuntungan dari penjualan beras berlabel ini diharapkan menjadi suntikan dana segar bagi PADes, sekaligus meningkatkan pendapatan para petani. “Beras hasil penggilingan desa ini akan kami beri merek khusus dan dipasarkan sesuai dengan harga pasar yang berlaku. Selain itu, para petani juga tidak perlu lagi khawatir hasil panen padinya tidak terserap,” tandas Warnoto, menggambarkan sinergi yang saling menguntungkan antara pemerintah desa dan warganya.
Dengan semangat gotong royong dan pemanfaatan potensi lokal yang cerdas, Desa Tamiajeng kini menatap masa depan yang lebih cerah. Produksi beras mandiri bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, menjadikan desa ini sebagai contoh inspiratif bagi desa-desa lain dalam mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.