Pasuruan, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Di tengah gempuran kesibukan kurikulum, MTs Yayasan Gerbang Walisongo Desa Sumberejo, Pasuruan, memilih jalur berbeda untuk menjaga kewarasan dan kekompakan timnya. Melalui tradisi Anjangsana, para guru di madrasah ini rutin melakukan kunjungan keliling hingga lintas kabupaten guna menghapus sekat birokrasi dan mempererat persaudaraan.
Kegiatan periodik ini digagas langsung oleh Kepala Sekolah MTs Walisongo, Rofi’i, S.Pd.I. Tujuannya sederhana namun mendalam: memperkenalkan keluarga masing-masing guru dan memastikan kerukunan tetap terjaga di luar jam mengajar.
Menembus Sekat Jabatan dengan Senda Gurau
Menariknya, anjangsana ini tidak mengenal kasta. Kepala sekolah hingga guru honorer berbaur dalam satu mobil Elf saat menempuh perjalanan jauh ke Sidoarjo atau Kota Pasuruan. Bahkan, guru yang sudah purna tugas (pensiun) tetap menjadi tujuan kunjungan, sebuah tanda bahwa pengabdian di desa tidak pernah dilupakan.
“Hari ini kita menghilangkan pikiran-pikiran yang kurang segar dengan bersenda gurau dan tertawa bersama,” ujar Rofi’i. Baginya, anjangsana adalah momen untuk memulihkan energi setelah rutinitas mengajar yang padat.

Wisata Religi Sebagai Penutup Segar
Tidak hanya sekadar bertamu, rombongan guru dari Desa Sumberejo ini menutup rangkaian silaturahmi dengan ziarah religi ke makam Mbah Kiai H. Abd Khamid dan berwisata ke Payung Madina Pasuruan. Tradisi ini menjadi bukti bahwa pengelolaan sekolah di desa memerlukan sentuhan humanis, bukan sekadar administrasi kaku.
“Yo anjangsana yo seneng- seneng ( ya silahturohim ya bersenang- senang ) kita nikmati bersama,” pungkas Rofi’i. Semangat kekeluargaan inilah yang menjadi fondasi kuat bagi MTs Walisongo dalam mendidik anak-anak desa dengan hati yang segar.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.