Ponorogo, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Siapa sangka dari dapur sederhana di Desa Jebeng, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, lahir sebuah produk inovatif yang kini menjadi primadona di Malaysia, Singapura, hingga Hong Kong. Adalah Tempe Sagu Berkah, usaha milik Ahmad Roup yang membuktikan bahwa jarak 25 kilometer dari pusat kota bukanlah penghalang untuk mendunia.
Meski telah merambah pasar mancanegara sejak dirintis pada 2022, potensi Tempe Sagu Berkah kini memasuki babak baru melalui sentuhan digitalisasi. Mahasiswa KKN Tematik ke-36 Kelompok 35 Universitas Darussalam (Unida) Gontor hadir melakukan pendampingan intensif selama satu bulan untuk memperkuat ekosistem digital dan manajemen usaha produk unggulan tersebut.
Rahasia di Balik Omzet Rp20 Juta Per Bulan
Keunikan produk ini terletak pada penggunaan kedelai impor berkualitas tinggi yang dipadukan dengan sagu melalui proses produksi tradisional yang tetap terjaga. Kombinasi ini menghasilkan tekstur dan cita rasa khas yang diminati pasar internasional. Saat ini, kapasitas produksi mencapai 50 hingga 75 kilogram per hari dengan omzet bulanan yang stabil di angka Rp15-20 juta.
Untuk meningkatkan nilai jual dan daya saing, tim KKN Unida Gontor melakukan perombakan pada sisi visual dan operasional, antara lain:
- Rebranding Visual: Perancangan logo baru dan penggunaan kemasan vacuum yang lebih higienis agar produk memiliki masa simpan lebih lama untuk pengiriman jarak jauh.
- Media Sosial: Peluncuran akun Instagram resmi @tempesagu_berkah36 sebagai etalase digital yang informatif.
- Manajemen Modern: Pelatihan pencatatan keuangan digital dan manajemen stok agar arus kas usaha lebih terukur.
Inovasi Akademik untuk Ekonomi Lokal
Ketua Tim KKN, Qalbi Zidane, menegaskan bahwa digitalisasi adalah kunci bagi UMKM desa untuk “naik kelas”. “Tempe Sagu Berkah memiliki potensi besar untuk tidak hanya bertahan di pasar global, tapi juga semakin dikenal di level nasional,” ujarnya.
Langkah ini bukan sekadar tugas kuliah, melainkan bentuk nyata kolaborasi akademik dalam menjawab tantangan ekonomi kreatif di pedesaan. Transformasi dari kemasan konvensional ke teknologi vacuum serta pemasaran digital diharapkan menjadi motor penggerak bagi UMKM lain di Ponorogo untuk berani berinovasi.
Keberhasilan Tempe Sagu Berkah menunjukkan bahwa dengan strategi pemasaran yang tepat dan kemasan yang profesional, produk kearifan lokal mampu bersaing di pasar modern tanpa kehilangan jati dirinya.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.