Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

JALAN JAJAN · 2 Mar 2025 13:45 WIB ·

Matinya Randuwana: Wisata Favorit Pasuruan Kini Jadi Hutan Beton


					Matinya Randuwana: Wisata Favorit Pasuruan Kini Jadi Hutan Beton Perbesar

Pasuruan, Jawa Timur [DESA MERDEKA] Apa jadinya jika sebuah destinasi wisata yang dulu digadang-gadang menjadi mesin ekonomi desa, kini justru berubah menjadi monumen kesunyian yang dipenuhi ilalang? Itulah potret pilu Desa Wisata Randuwana di Desa Kertosari, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan. Lahan camping ground yang dulunya ceria dan aula yang dulu riuh dengan kegiatan, kini mangkrak tanpa sentuhan perawatan sedikit pun.

Kondisi memprihatinkan ini memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat: mengapa aset yang pernah diresmikan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan dan sempat berjaya pada periode 2017-2018 ini dibiarkan mati perlahan?

Birokrasi Membisu dan Blokir Komunikasi
Keanehan mulai tercium saat upaya konfirmasi dilakukan kepada Pemerintah Desa Kertosari. Kepala Desa Kertosari, berinisial HM, tidak hanya bungkam saat dihubungi melalui pesan singkat, namun secara mengejutkan memblokir nomor telepon jurnalis yang mencoba mencari klarifikasi. Sikap antipati ini memperkuat dugaan adanya pengabaian sistematis terhadap fasilitas desa yang dibangun dengan uang rakyat.

Sikap tertutup ini sangat kontras dengan semangat transparansi desa yang seharusnya menjadi pilar pembangunan. Ketika komunikasi publik terputus, harapan masyarakat untuk menghidupkan kembali ekonomi lokal pun turut terkubur bersama bangunan aula yang kian rapuh.

Jeritan Warga: Harapan yang Sia-Sia
Eko Saputra, salah seorang warga Kertosari, mengenang masa-masa saat Randuwana dikelola secara mandiri oleh Karang Taruna. Baginya, terbengkalainya wisata ini bukan sekadar urusan fisik bangunan, melainkan hilangnya harapan bagi para pedagang dan pengelola lokal.

“Kurangnya anggaran untuk inovasi baru membuat wisata ini tidak lagi menarik. Harapan yang selama ini diperjuangkan oleh teman-teman pengelola seolah menjadi sia-sia karena tidak ada dukungan dari pemerintah desa,” keluh Eko.

Senada dengan Eko, Imron juga menyayangkan runtuhnya kembali Randuwana untuk kedua kalinya. Padahal, pada awal 2018, lokasi ini sempat menggeliat kembali setelah renovasi singkat. Kini, pemandangan yang tersisa hanyalah tanaman liar yang merambat di sela-sela tembok aula yang mulai retak.

Urgensi Revitalisasi dan Audit Inovasi
Terhentinya operasional Desa Wisata Randuwana bukan hanya masalah hilangnya tempat rekreasi, melainkan kegagalan manajemen potensi lokal. Di saat desa-desa lain di Pasuruan berlomba-lomba berinovasi menjadi desa mandiri, Kertosari justru terlihat berjalan mundur dengan membiarkan fasilitas publiknya hancur.

Masyarakat kini mendesak adanya tindakan nyata. Tidak hanya sekadar perbaikan fisik, tetapi juga audit komitmen dari pemerintah desa. Tanpa adanya keterbukaan dan keberanian untuk berinovasi, Randuwana hanya akan tetap menjadi “hutan beton” yang menjadi saksi bisu kegagalan tata kelola desa.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 142 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Terobosan Guru MGMP IPS: Ubah Benteng Tua Jadi Ruang Kelas

2 Mei 2026 - 08:19 WIB

Bandara Mentawai Diperpanjang Akses Wisata Desa Kian Terbuka

29 April 2026 - 20:40 WIB

Vila Bodong Menjamur, Desa Hanya Jadi Penonton?

26 April 2026 - 13:07 WIB

Racikan Rempah Belakang Rumah: Primadona Baru Wisata Ambarawa

13 April 2026 - 17:51 WIB

Racikan Empon-Empon Ambarawa: Warisan Simbah yang Menembus Benteng

13 April 2026 - 15:57 WIB

Kampung Tenun Samarinda: Magnet Budaya di Gerbang IKN

2 April 2026 - 14:04 WIB

Trending di JALAN JAJAN