Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 1 Mar 2025 15:37 WIB ·

Ekonomi Nagari Bergerak: Dharmasraya Pilih Desentralisasi Pasar Pabukoan


					Ekonomi Nagari Bergerak: Dharmasraya Pilih Desentralisasi Pasar Pabukoan Perbesar

Dharmasraya, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] Pemerintah Kabupaten Dharmasraya mengambil langkah berani dengan tidak memusatkan pasar pabukoan Ramadan di satu titik pusat kota. Strategi ini diambil untuk menghidupkan ekonomi mikro secara mandiri di setiap nagari, sekaligus memastikan akses menu berbuka puasa menjadi lebih dekat dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Kumperdag) Dharmasraya, Nofriadi Roni Puska, menegaskan bahwa fenomena pasar kaget selama Ramadan adalah milik masyarakat. Dengan membiarkan setiap nagari mengelola pasar pabukoannya sendiri, pemerintah daerah memberikan ruang bagi kreativitas kuliner lokal untuk tumbuh tanpa sekat birokrasi lokasi yang kaku.

“Pasar pabukoan di setiap nagari dilaksanakan secara mandiri oleh masyarakat. Momen Ramadan adalah waktu di mana perputaran uang di sektor kuliner sangat tinggi, dan kami ingin dampak ekonominya dirasakan langsung oleh warga di tingkat nagari,” jelas Nofriadi pada Jumat (28/2/2025).

Keamanan Pangan Jadi Prioritas Utama
Meskipun lokasi pasar tersebar dan bersifat mandiri, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya tidak lantas lepas tangan. Desentralisasi ini justru dibarengi dengan pengawasan kualitas pangan yang ketat. Dinas Kumperdag bersama instansi terkait telah menjadwalkan pemeriksaan mendadak ke pasar-pasar nagari untuk menjamin keamanan konsumsi masyarakat.

Nofriadi mengingatkan para pedagang agar menjunjung tinggi etika berdagang dengan tidak menggunakan bahan berbahaya seperti pengawet mayat (formalin), pewarna tekstil (rhodamin B), atau boraks. Langkah preventif ini bertujuan agar niat masyarakat berburu kuliner berbuka tidak berujung pada masalah kesehatan.

“Kami ingin masyarakat merasa aman. Jika dalam pemeriksaan terdeteksi adanya bahan berbahaya, kami tidak akan segan mengambil tindakan tegas sesuai aturan yang berlaku,” ujarnya.

Mendekatkan Layanan ke Depan Pintu Rumah
Keputusan “memecah” pusat keramaian ini juga dinilai efektif untuk mengurangi kemacetan yang biasanya menumpuk di pusat kabupaten menjelang waktu berbuka. Dengan adanya pasar pabukoan berkualitas di setiap nagari, mobilitas warga menjadi lebih singkat dan efisien.

Komitmen Pemkab Dharmasraya ini menunjukkan bahwa pengelolaan hari besar tidak selalu harus tentang kemegahan satu titik, melainkan tentang bagaimana setiap sudut wilayah bisa merasakan denyut ekonomi yang sama. Masyarakat kini bisa menikmati takjil berkualitas tanpa harus menempuh perjalanan jauh, sembari mendukung tetangga mereka yang sedang berwirausaha kuliner selama bulan suci.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 44 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Siasat Ekspor Mikro: Berhenti Berteori, Saatnya Menyambung Titik Cuan Desa

20 September 2026 - 16:09 WIB

Transportasi Desa Indari Disorot, Pemerintah Diminta Beri Solusi

17 September 2026 - 21:04 WIB

Ketika Mesin Digugat: Palagan Manusia di Pilkades Bantarjaya

17 September 2026 - 13:44 WIB

Tegaskan Bebas Tendensi Politik, LSM KANe Malut Buka Suara Soal Monitoring BLT dan Legalitas Organisasi

8 September 2026 - 06:13 WIB

LSM Tantang Inspektorat Halsel Audit Dana Desa Sengga Baru

4 September 2026 - 22:43 WIB

Jurus Baru 20 Desa Wisata Sumbar Pikat Dunia

3 September 2026 - 05:12 WIB

Trending di RAGAM