Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 22 Okt 2026 15:48 WIB ·

Menantang Ombak Pesisir Domas Lewat Racikan Probiotik Kampus


					Menantang Ombak Pesisir Domas Lewat Racikan Probiotik Kampus Perbesar

Serang, Banten [DESA MERDEKA] – Lanskap itu membentang biru kehijauan ditimpah terik pesisir utara Banten. Lebih dari 90 persen wilayah Desa Domas, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, didominasi oleh hamparan tambak dan empang. Air payau bergerak tenang di atas lahan seluas 785 hektare yang menjadi tumpuan hidup masyarakat setempat. Di sinilah jantung minapolitan Kabupaten Serang berdenyut kencang.

Desa pesisir ini dihuni oleh sekitar 6.000 jiwa. Mayoritas dari mereka menggantungkan dapur rumah tangga langsung pada ekosistem laut, mulai dari nelayan kecil hingga buruh tambak tradisional. Potensinya raksasa. Ada sekitar 450 hektare kolam budidaya yang produktif menghasilkan bandeng dan udang komoditas premium. Bahkan, wilayah strategis ini tengah didorong penuh oleh pemerintah daerah untuk bertransformasi menjadi proyek percontohan Kampung Nelayan Merah Putih demi menyokong swasembada pangan nasional.

Namun, realitas di lapangan tidak selalu mulus. Tantangan klasik selalu mengintai para petambak kecil di sana. Intrusi air laut saat musim kemarau panjang kerap mengacaukan stabilitas kualitas air tambak mereka. Biaya operasional pun membubung tinggi akibat ketergantungan pada pakan dan suplemen vitamin pabrikan yang mahal. Modal sering kali habis sebelum masa panen tiba.

Melihat problem struktural tersebut, tim Dosen Program Studi Ilmu Perikanan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) turun tangan langsung ke lapangan. Kampus membawa program Bina Desa yang dirancang dari bawah (bottom-up). Mereka tidak datang menyodorkan teori awang-awang atau sekadar membagikan bantuan instan yang cepat habis.

Dosen Untirta memilih menyasar dua aspek fundamental: kemandirian teknologi probiotik dan standardisasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). Langkah ini langsung menembak akar masalah efisiensi biaya dan mutu komoditas lokal.

Ketua Program Studi Ilmu Perikanan Untirta, Dr. Sakinah Haryati, S.Pi., M.Si., menegaskan bahwa kehadiran kampus ke wilayah pesisir ini membawa semangat kemitraan yang setara.

“Tujuan kegiatan ini adalah belajar bersama, khususnya dengan para pelaku budidaya udang,” kata Sakinah dalam laporannya.

Ia tidak ingin program ini berhenti sebagai seremoni satu hari. Ke depan, jika diizinkan oleh warga, Untirta berkomitmen mengawal langsung tambak-tambak warga.

“Diharapkan ke depan dapat dibangun kerja sama pemantauan tambak agar diperoleh strategi terbaik untuk meningkatkan produksi,” harap Sakinah optimistis.

Gayung bersambut. Kehadiran para akademisi ini dipandang sebagai angin segar bagi pemerintahan desa setempat. Kepala Desa Domas, Ukon Hidayat, yang membuka langsung acara di balai desa, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian kampus terhadap hajat hidup warganya.

“Kami menyampaikan terima kasih atas kehadiran Program Studi Ilmu Perikanan Untirta di Desa Domas,” tutur Ukon.

Bagi Ukon, kedatangan tim Untirta bukan sekadar transfer ilmu, melainkan gerbang awal bagi kemajuan desa pesisir tersebut. “Saya berharap kegiatan ini dapat menjalin silaturahmi dan membuka kerja sama ke depan.”

Intervensi teknologi tepat guna dari kampus Untirta ini menjadi jembatan krusial. Di lokasi, materi aplikasi praktis diulas mendalam oleh Saeful Ardi Wibowo dari BRPBATPP Bogor. Petambak diajarkan cara meracik probiotik mandiri dan mematuhi SNI CBIB guna memotong rantai penyakit udang yang kerap bikin rugi.

Antusiasme warga pesisir pun pecah. Suara-suara dari garis depan tambak terdengar nyaring. Salah satunya datang dari Hudari, seorang feeder atau petugas pemberi pakan tambak udang lokal. Baginya, nasib keluarga ditentukan oleh kesehatan udang yang dia beri makan setiap hari.

“Kami sangat senang dengan ilmu baru ini,” ujar Hudari di sela-sela diskusi kelompok.

Ia mengaku mendapat pencerahan tentang dosis probiotik yang pas untuk menjaga ekosistem air.

Selama sesi tanya jawab, para pekerja tambak aktif mengejar narasumber dengan berbagai persoalan riil, mulai dari taktik mematikan penyakit, hingga meminta dukungan teknis seperti alat ukur oksigen terlarut (dissolved oxygen) untuk menunjang kerja harian mereka.

Potensi alami geografis Domas kini memiliki senjata baru untuk bertahan dan berkembang. Lewat sinergi nyata ini, kegiatan pengabdian masyarakat tidak lagi menjadi sekadar formalitas pengisian borang akademik, melainkan sebuah gerakan konkret untuk menaikkan kelas ekonomi ribuan warga pesisir Pontang.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Gadai Bawah Tangan: Benturan Transaksi Informal dengan Hukum Formal

21 Oktober 2026 - 18:50 WIB

Tragedi Desa Sugi: Trauma Mafia Tanah dan Apatisme Nelayan Mangrove

12 Oktober 2026 - 21:28 WIB

Pasir Pantai Merah Putih Obi Dikeruk Ilegal, APH dan Pemda Didesak Bertindak

3 Oktober 2026 - 10:31 WIB

Bertahan di Ruas Kaputusan: Nestapa dan Resiliensi Warga

29 September 2026 - 16:06 WIB

Siasat Ekspor Mikro: Berhenti Berteori, Saatnya Menyambung Titik Cuan Desa

20 September 2026 - 16:09 WIB

Transportasi Desa Indari Disorot, Pemerintah Diminta Beri Solusi

17 September 2026 - 21:04 WIB

Trending di RAGAM