Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

NGOBROL DESA · 20 Agu 2024 09:46 WIB ·

Solusi Sampah: Inovasi Integrated Farming Desa Klaten


					Solusi Sampah: Inovasi Integrated Farming Desa Klaten Perbesar

Jakarta [DESA MERDEKA] Masyarakat desa di Kabupaten Klaten membuktikan bahwa sampah organik rumah tangga bukan lagi musuh lingkungan, melainkan ladang cuan baru. Lewat adopsi teknologi tepat guna, mereka sukses memutus rantai limbah sekaligus menciptakan kemandirian pangan secara mandiri.

Inovasi ini digerakkan oleh Posyantek (Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna) Desa melalui sistem integrated farming (pertanian terpadu). Alurnya sederhana namun cerdas: sampah organik dapur warga dikumpulkan untuk media budidaya maggot (larva lalat Black Soldier Fly). Maggot yang kaya protein kemudian dipanen menjadi pakan utama ayam dan ikan. Tidak berhenti di situ, kotoran dari hewan ternak tersebut dialirkan kembali sebagai pupuk alami untuk menyuburkan tanaman hidroponik, termasuk padi.

Siklus tanpa limbah ini dibedah secara daring dalam program Cakap SDGs Desa edisi 357.

“Dari sampah yang selama ini dianggap masalah, kita bisa menghasilkan berbagai produk pertanian, mulai dari telur ayam, ikan, hingga padi organik,” ujar Samsul Ma’arif, Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Klaten.

Benturan Realita: SDM dan Akses Pasar
Meski terdengar sempurna di atas kertas, Samsul tidak menampik bahwa membumikan konsep integrated farming desa butuh napas panjang. Tantangan terbesar justru ada pada faktor manusia dan ujung tombak komersial.

Pertama, penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM). Mengubah kebiasaan masyarakat agar konsisten memilah sampah dan merawat ekosistem pertanian terpadu membutuhkan pendampingan yang intensif dan berkelanjutan. Tanpa edukasi yang kuat, sistem ini rawan mangkrak di tengah jalan.

Kedua, urusan isi dompet petani alias pemasaran. Walau tren gaya hidup sehat melonjak, para petani lokal masih sering membentur dinding tebal saat mencoba menembus pasar organik yang lebih luas dan premium.

Namun, di balik hambatan tersebut, potensi ekonomi dan kelestarian lingkungan yang ditawarkan jauh lebih besar. Pertanian terpadu ini menjadi jawaban nyata atas isu ketahanan pangan tingkat lokal yang mandiri dan inklusif, asalkan mendapat sokongan penuh dari pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 101 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Hanya 0,15 Persen Korupsi, Netizen Desa Tantang Bukti Presiden

16 Februari 2026 - 09:14 WIB

Dana Desa Dipangkas Rp75 Juta: Beban Berat Koperasi Pusat

16 Februari 2026 - 08:58 WIB

Aksi “Buzzer” Desa: Lawan Stigma dengan Banjir Bukti Medsos

16 Februari 2026 - 08:47 WIB

Statistik Membuktikan Dana Desa Efektif: Bantahan untuk Presiden

16 Februari 2026 - 08:06 WIB

Transparansi Radikal Desa: 95 Persen Baliho Anggaran Jadi Bukti

16 Februari 2026 - 07:39 WIB

Hanya 0,15 Persen Korupsi: Data Patahkan Stigma Negatif Desa

16 Februari 2026 - 07:28 WIB

Trending di NGOBROL DESA