Karawang, Jawa Barat [DESA MERDEKA] – Siapa sangka, tumpukan kulit buah dan sisa sayuran yang biasanya berakhir di tempat sampah atau dibakar, kini berubah menjadi aset berharga bagi warga Desa Sumurlaban. Lewat inisiasi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), limbah dapur yang kerap memicu bau tak sedap dan polusi tersebut disulap menjadi eco-enzyme—cairan “ajaib” kaya manfaat.
Langkah ini diambil sebagai jawaban atas keresahan lingkungan di Kecamatan Tirtajaya. Selama ini, pembakaran sampah organik masih menjadi kebiasaan yang memicu emisi gas rumah kaca. Padahal, dengan sentuhan fermentasi sederhana, limbah tersebut bisa bertransformasi menjadi pupuk organik cair, pembersih lantai alami, hingga deterjen ramah lingkungan.

Rumus Sederhana: 3:1:10
Dalam pelatihan yang digelar di Balai Desa Sumurlaban pada Minggu (1/2/2026), masyarakat diperkenalkan pada formula emas pembuatan eco-enzyme yang ditemukan oleh Dr. Rosukon Poompanvong. Kuncinya terletak pada perbandingan 3:1:10, yaitu:
- 3 bagian bahan organik (kulit buah dan sisa sayuran segar).
- 1 bagian gula (molase atau gula merah).
- 10 bagian air.
Narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karawang, Usep Saepul Mikdar, mempraktikkan langsung cara meracik kulit naga, pisang, dan mangga ke dalam wadah tertutup. Campuran ini kemudian harus didiamkan selama tiga bulan untuk proses fermentasi sempurna hingga menghasilkan cairan asam penuh nutrisi.

Ekonomi Sirkular dari Meja Makan
Sudut pandang menarik dari gerakan ini adalah terciptanya ekonomi sirkular di tingkat desa. Dengan membuat eco-enzyme mandiri, warga tidak hanya mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga menghemat pengeluaran rumah tangga.
“Masyarakat kini paham bahwa sampah bukan musuh, melainkan sumber daya. Eco-enzyme adalah solusi murah untuk mendapatkan pupuk dan pembersih tanpa bahan kimia sintetis,” ujar perwakilan tim KKN Unsika. Antusiasme warga terlihat saat sesi demonstrasi; mereka mulai menyadari bahwa sisa potongan dapur yang selama ini dibuang secara cuma-cuma ternyata memiliki nilai ekonomi tinggi.
Warisan untuk Lingkungan Desa
Bagi mahasiswa Unsika, program ini bukan sekadar tugas akademis, melainkan investasi kesadaran. Dokumentasi berupa foto dan video pelatihan diunggah ke media sosial (@kkndesasumurlaban2026) agar inovasi ini bisa direplikasi oleh desa-desa lain di Karawang.
Harapannya, Desa Sumurlaban dapat menjadi pelopor desa mandiri sampah. Dengan semangat gotong royong, limbah organik tak lagi menyumbat saluran air atau memicu penyakit, melainkan kembali ke tanah sebagai nutrisi yang menghidupkan.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.