Yogyakarta [DESA MERDEKA] – Indonesia sedang membuktikan kepada dunia bahwa kunci penyelesaian krisis global tidak ditemukan di gedung pencakar langit, melainkan di gang-gang sempit pedesaan. Melalui mandat SDGs Desa, pemerintah optimistis target ambisius nol persen kemiskinan ekstrem pada 2024 bukan sekadar mimpi di atas kertas.
Dalam pembukaan Senior Official Meeting on Rural Development and Poverty Eradication (SOMRDPE) di Yogyakarta, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar, menegaskan bahwa pengalaman desa-desa di Indonesia kini menjadi rujukan optimisme global untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) pada 2030.
“Kemendes PDTT menginisiasi pelokalan tujuan pembangunan hingga ke level desa. Kami mengenalkannya sebagai SDGs Desa, sebuah desain pembangunan yang selaras dengan konteks budaya dan potensi lokal,” ujar menteri yang akrab disapa Gus Halim tersebut, Selasa (25/7/2023).
Kekuatan Data Mikro: Melawan Kemiskinan dengan Presisi
Berbeda dengan pendekatan pembangunan top-down yang sering meleset, SDGs Desa berbasis pada data mikro by name by address. Indonesia telah mengumpulkan data individu hingga lebih dari 104 juta jiwa dan 31 juta data keluarga di seluruh pelosok negeri.
Data presisi ini memungkinkan pemerintah melakukan intervensi kemiskinan dengan akurasi tinggi. Berkat strategi ini, Indonesia berhasil melompat 15 peringkat dalam capaian pembangunan berkelanjutan global, dari posisi 97 menjadi peringkat 82 dunia dalam setahun terakhir.
Kolaborasi Strategis: BPD sebagai “Jantung” Ekonomi Desa
Langkah out of the box lainnya adalah transformasi peran Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang kini tidak hanya menjadi tempat menyimpan uang, tetapi menjadi mitra strategis pembangunan. Gus Halim baru saja menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Asosiasi Bank Daerah (ASBANDA) untuk mempercepat daya ungkit ekonomi desa.
“Kerja sama ini adalah tonggak penting. Sinergi dengan bank daerah akan menciptakan peluang baru yang memberikan dampak langsung bagi kualitas hidup masyarakat desa,” tegas Gus Halim.
Pencapaian Riil di Lapangan
Hingga 2023, capaian SDGs Desa secara keseluruhan telah menyentuh angka 45,47 persen. Menariknya, skor tertinggi justru diraih pada sektor “Desa Berenergi Bersih dan Terbarukan” (SDGs ke-7), disusul oleh “Desa Damai dan Sejahtera” serta “Desa Tanpa Kemiskinan”.
Dengan capaian 69,16 persen dari seluruh tujuan pembangunan global, Indonesia kini menjadi pemimpin opini di ASEAN dalam hal pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat adat dan lokal. Desa tidak lagi menjadi beban negara, melainkan mesin penggerak utama kemajuan bangsa.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.