Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

LINGKUNGAN · 19 Jan 2026 13:21 WIB ·

Sawah Adat Sukabumi Terancam, Warga Tolak Proyek Panas Bumi


					Warga Desa Sirnarasa saat mendatangi Kantor Desa. Senin, (19012026). Perbesar

Warga Desa Sirnarasa saat mendatangi Kantor Desa. Senin, (19012026).

Sukabumi, Jawa Barat [DESA MERDEKA] – Ambisi pemerintah pusat dalam mengejar kemandirian energi melalui proyek panas bumi (geothermal) membentur tembok kokoh kearifan lokal di kaki Gunung Halimun Salak. Ratusan warga Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, menggeruduk kantor desa mereka pada Senin (19/01/2026). Mereka membawa satu pesan tegas: keselamatan nyawa dan kelestarian sawah adat tidak bisa ditukar dengan megaproyek energi.

Aksi ini bukan sekadar penolakan tanpa dasar. Warga mengkhawatirkan lokasi pengeboran di kawasan Pasir Sikabayan justru akan menjadi “bom waktu” bencana. Mengingat struktur tanah di Desa Sirnarasa yang labil dan rawan longsor, intervensi alat berat dalam skala besar dikhawatirkan akan memicu ketidakseimbangan ekosistem pegunungan yang selama ini menjaga desa mereka.

Lebih dari Sekadar Pembangunan
Tokoh agama setempat, Ustaz Embang, yang memimpin pergerakan ini menjelaskan bahwa yang dipertaruhkan warga adalah ruang hidup. Bagi warga Sirnarasa, sawah bukan hanya soal urusan perut, melainkan warisan leluhur yang memiliki nilai sakral dan sosial tinggi.

“Kami bukan anti pembangunan. Namun, kami ingin hidup aman. Kami punya kewajiban menjaga warisan alam dan sawah adat yang sudah dijaga leluhur kami secara turun-temurun,” tegas Ustaz Embang di tengah kerumunan warga.

Sudut pandang warga ini menyoroti tren global di mana proyek energi terbarukan sering kali mengabaikan aspek sosiologis masyarakat lokal. Geothermal memang dianggap “energi bersih”, namun bagi warga Cikakak, energi tersebut menjadi “kotor” jika harus mengorbankan lahan pertanian produktif yang menjadi tumpuan hidup harian.

Transparansi Jadi Harga Mati
Kepala Desa Sirnarasa, Okih Suryadi, berada di posisi yang cukup sulit. Di satu sisi, ia menyadari bahwa geothermal adalah program strategis nasional. Di sisi lain, ia tidak bisa mengabaikan keresahan warganya sendiri. Ia pun menegaskan bahwa kenyamanan dan keselamatan penduduk adalah prioritas yang tidak bisa ditawar.

Sebagai jalan tengah, pemerintah desa mendesak pihak pengembang untuk menghentikan langkah sementara dan melakukan sosialisasi ulang secara terbuka. Warga menuntut transparansi total, termasuk analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) yang benar-benar independen dan mempertimbangkan struktur tanah pegunungan yang rawan bencana.

Hingga berita ini diturunkan, warga mengancam akan melakukan aksi yang lebih besar jika aspirasi mereka untuk mempertahankan ekosistem Pasir Sikabayan tidak didengarkan oleh pemerintah maupun pihak pengembang.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 56 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menagih Janji Dam di Rumah Warga Sungai Duo

6 Agustus 2026 - 15:27 WIB

Nestapa Karangsegar: Siklus Abadi Banjir dan Krisis Air

30 Juli 2026 - 15:16 WIB

Dari Sampah Menjadi Berkah di Akar Rumput Singosari

24 Juli 2026 - 07:32 WIB

Camat Singosari menerima penghargaan Kecamatan Inovatif pada Innovative Government Award (IGA) Kabupaten Malang 2026 melalui inovasi Sanggar Lingkungan Singosari.

Puting Beliung Terjang Talun Rejo, Warga Menanti Bantuan Pemerintah

5 Juli 2026 - 20:33 WIB

Bumi Butuh Healing: Warga Batu Busuak Belajar Rawat Tanah

25 Juni 2026 - 05:31 WIB

Darurat Sampah: Desa di Pati Wajib Miliki Perdes Kebersihan

18 Juni 2026 - 06:08 WIB

Trending di LINGKUNGAN