Blitar, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Selama hampir satu abad, buku sejarah mencekoki kita dengan narasi heroik Mbah Moedjair yang bolak-balik berjalan kaki sejauh 40 kilometer dari pusat Kota Blitar ke Pantai Serang demi menjinakkan ikan Afrika. Namun, sebuah analisis logistik dan ekologi terbaru menunjukkan bahwa cerita tersebut kemungkinan besar hanyalah “penyederhanaan” dari sebuah proses transfer teknologi yang jauh lebih canggih.
Skeptisisme muncul dari perhitungan jarak tempuh. Di era 1930-an, menempuh jarak 80 kilometer (pulang-pergi) melalui medan berat pesisir selatan Blitar dengan berjalan kaki atau gerobak bisa memakan waktu berhari-hari. Bagi Iwan Dalauk—nama asli Mbah Moedjair—seorang nelayan yang pernah mengalami kebangkrutan, pengulangan perjalanan ini sebanyak 11 kali secara rutin sangat tidak masuk akal secara ekonomi dan fisik.
Warisan Ilmu dari Sang “Mr. X”
Muncul teori alternatif yang lebih elegan: Iwan Dalauk tidak menemukan ikan itu di muara, melainkan menerimanya langsung dari seorang kolektor kaya atau pejabat Belanda terpelajar yang kita sebut sebagai “Mr. X”. Pengetahuan bahwa Oreochromis mossambicus (tilapia) adalah ikan air tawar yang toleran terhadap air payau merupakan pengetahuan sains tingkat tinggi pada masa itu.
Skenario yang paling masuk akal adalah Mr. X, seorang naturalis yang memiliki kolam hias di rumah mewahnya di Blitar, tidak bisa lagi merawat koleksinya karena harus kembali ke Eropa. Ia kemudian menunjuk Iwan Dalauk, yang dikenal ulet, untuk melestarikan ikan tersebut. Sejarah mencatat adanya “11 kali percobaan” yang gagal sebelum akhirnya sukses. Logikanya, kegagalan itu bukanlah akibat ikan mati di perjalanan dari muara, melainkan proses belajar adaptasi air di bawah bimbingan teknis dari Mr. X.
Domestikasi: Jasa Nyata yang Terlupakan
Meskipun narasi “penemuan di muara” mungkin hanyalah cara Mbah Moedjair untuk melindungi identitas donaturnya atau menyederhanakan cerita bagi pejabat kolonial, jasa Iwan Dalauk tetaplah abadi. Ia bukan sekadar penemu, melainkan Bapak Budidaya Ikan Mujair.
Sementara Mr. X hanya memandang ikan itu sebagai hobi estetis, Iwan Dalauk-lah yang bekerja keras melakukan domestikasi, memastikan ikan tersebut bisa hidup di kolam air tawar murni, dan menyebarkannya kepada rakyat kecil sebagai solusi pangan.
Pertemuan antara teknologi kolonial dan kegigihan rakyat jelata ini akhirnya divalidasi oleh ahli perikanan Belanda, W.H. Schuster, pada 1939. Nama “Mujair” pun diresmikan sebagai penghormatan kepada sang pelaksana, sementara sosok Mr. X yang menyediakan bibit dan ilmu pengetahuan selamanya tenggelam dalam kabut sejarah.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.