Bantaeng, Sulawesi Selatan [DESA MERDEKA] – Selama puluhan tahun, gema Proklamasi 17 Agustus sering kali hanya terdengar sayup-sayup di pelosok Desa Pattaneteang, Kabupaten Bantaeng. Namun, di usia Republik yang ke-78, narasi itu berubah total. Desa yang dulunya sunyi kini pecah dalam kemeriahan “Pesta Merdeka Pattaneteang”, sebuah gerakan akar rumput yang digerakkan oleh tangan dingin seorang sarjana muda. Pesta rakyat ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya warga dari empat dusun berkumpul di satu titik, yakni di Sport Centre Pattaneteang—sebuah fasilitas yang lahir dari aspirasi anak-anak desa tiga tahun silam.

Isma: Sang Pemantik di Balik Layar
Keberhasilan acara ini tidak lepas dari sosok Ismatul Khaerat, S.Sos. Remaja putri kelahiran 2001 ini baru saja menanggalkan status mahasiswanya di Makassar bulan lalu. Alih-alih menetap di kota, ia pulang untuk “mendesain” ulang semangat nasionalisme di tanah kelahirannya. “Saya berpikir bagaimana cara menyatukan potensi teman-teman di desa. Tanpa kolaborasi, ini mustahil,” ujar Isma. Melalui grup WhatsApp “Pelaksanaan Pattaneteang HUT RI” dan aksi door-to-door mendatangi pemuda setempat, Isma berhasil membentuk tim kerja beranggotakan 41 orang yang solid.

Lomba yang Mengedukasi, Bukan Sekadar Hadiah
Pemerintah Desa Pattaneteang menyambut inisiatif ini dengan mengucurkan anggaran sekitar Rp20 juta (setelah pajak). Anggaran tersebut dialokasikan secara transparan untuk seragam panitia, konsumsi, hingga hadiah bagi para juara. Berbeda dengan lomba konvensional, Pesta Merdeka ini menyisipkan misi edukasi. Selain lomba makan kerupuk yang menghibur, terdapat kompetisi menulis esai bertajuk “Generasi Indonesia di Masa Kini” untuk anak-anak. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap kekhawatiran memudarnya wawasan kebangsaan di tingkat desa. Kepala Desa Pattaneteang, Lukman, SKM, dalam sambutannya menekankan pentingnya persatuan. “Mari saling bergandeng tangan, bukan saling memukul. Saling mengajak, bukan mengejek. Ini adalah wujud syukur kita sebagai bangsa yang berdaulat,” tegasnya di hadapan ratusan ibu-ibu majelis taklim dan kader PKK yang memadati lokasi.

Memulihkan Karakter Bangsa dari Desa
Kegiatan yang berlangsung selama empat hari sejak Sabtu (19/8) ini menjadi oase di tengah fenomena menurunnya pemahaman nilai-nilai Pancasila di era digital. Pattaneteang membuktikan bahwa pendidikan wawasan kebangsaan paling efektif bukan lewat ceramah kaku, melainkan melalui kegembiraan kolektif yang mendidik. Melalui gerakan yang dipelopori pemuda seperti Isma, Desa Pattaneteang kini tidak lagi hanya menjadi penonton upacara di layar kaca, tetapi pelaku aktif dalam merawat kemerdekaan yang telah ditebus dengan darah dan air mata para pahlawan.

Hasan Habibu Lahir di Bantaeng Sulawesi Selatan 1 Januari 1975.
Pendidikan S1 STAI Al-furqan Makasar / Jurusan Pendidikan Agama Islam. lulus tahun 2016
Selain sebagai Pendamping Lokal Desa beberapa Organisasipun terlibat di dalamnya, DA’I KAMTIBMAS POLRES BANTAENG bidang KOMUNIKASI ANTAR LEMBAGA, FORUM DA’I POLSEK TOMPOBULU SBG PENASEHAT, IKATAN PELAJAR MUHAMNADIYAH SBG ANGGOTA.
Beberapa penghargaan di raih seperti juara terbaik dua Tingkat Kabupaten Bantaeng Sebagai Tim Pengelolah Kegiatan / TPK 2011. Penghargaan Kapolres sebagai Relawan Covid-19 tahun 2020.
Penghargaan MPR RI dalam sosialisasi Pancasila dan UUD 45 Negara kesatuan RI dan bhinneka tunggal Ika tahun 2011. Dll

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.