Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KABAR PEMDA · 18 Jun 2026 18:05 WIB ·

Penguatan BPBD: Perisai Baru Ketangguhan Nagari di Sumbar


					Plh. Asisten Administrasi Umum Setdaprov Sumbar, Dina Febrianti, saat membuka Rapat Koordinasi Penguatan Kelembagaan BPBD Kabupaten/Kota se-Sumbar Tahun 2026 di Aula Kantor Gubernur Sumbar, Kamis (18/6/2026). Perbesar

Plh. Asisten Administrasi Umum Setdaprov Sumbar, Dina Febrianti, saat membuka Rapat Koordinasi Penguatan Kelembagaan BPBD Kabupaten/Kota se-Sumbar Tahun 2026 di Aula Kantor Gubernur Sumbar, Kamis (18/6/2026).

Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] Nagari Selaras Air di Agam pernah menjadi saksi bisu bagaimana lumpur menelan harapan. Begitu pula di Pesisir Selatan, di mana empat ribu jiwa sempat terputus dari dunia luar selama berhari-hari. Bencana akhir November 2025 lalu meninggalkan luka dalam dengan kerugian mencapai Rp33,5 triliun. Namun, tragedi itu kini menjadi pemantik perubahan besar: Sumatera Barat tidak lagi ingin sekadar menanti bencana, melainkan bersiap melawannya melalui transformasi kelembagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Sejalan dengan Permendagri Nomor 18 Tahun 2025, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mendorong penataan ulang BPBD di setiap kabupaten/kota. Ini bukan sekadar perombakan birokrasi. Status kelembagaan BPBD kini ditingkatkan; kepala BPBD menjadi perangkat daerah definitif dengan kewenangan dan anggaran yang lebih kuat. Perubahan ini krusial karena selama ini, desa-desa di lereng Bukit Barisan dan pesisir pantai sering kali menjadi pihak yang paling terlambat tersentuh bantuan saat sinyal komunikasi hilang dan akses jalan terputus.

Sumatera Barat, dengan topografi yang unik—dari garis pantai yang rawan tsunami hingga punggung perbukitan yang rawan longsor—menuntut strategi yang berbeda di setiap nagari. Dengan tipologi BPBD yang kini disesuaikan (tipe A, B, dan C), setiap daerah tidak lagi “dipukul rata”. Daerah dengan risiko tinggi, seperti wilayah dengan zona megathrust di Mentawai atau lereng curam di Pasaman Barat, akan mendapatkan perhatian dan porsi organisasi yang lebih besar.

Transformasi ini adalah janji bagi warga nagari. Plh. Asisten Administrasi Umum Setdaprov Sumbar, Dina Febrianti, menegaskan bahwa lembaga penanggulangan bencana yang kuat adalah garda depan perlindungan masyarakat. Harapannya, bencana tidak lagi menjadi siklus tahunan yang melumpuhkan ekonomi desa, melainkan tantangan yang bisa dikelola dengan mitigasi yang presisi.

Di aula gubernuran, Kamis (18/6/2026), forum rakor lintas sektor telah menyamakan frekuensi. Transformasi ini menjadi titik balik: bencana bukan lagi sekadar urusan orang kota atau kantor pusat, melainkan urusan nagari yang harus diurus dengan serius dari tingkat desa. Jika BPBD kuat, desa pun tangguh. Harapannya, tidak ada lagi rumah yang terbenam lumpur tanpa peringatan, dan tidak ada lagi nagari yang terisolir tanpa jangkauan. Inilah ikhtiar Sumatera Barat untuk memastikan tanah Minang tidak hanya indah dipandang, tetapi aman untuk dihuni.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 26 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Alarm Kematian Mental Anak Membayangi Sumbar Emas 2045

29 Juli 2026 - 15:01 WIB

Jembatan Bailey Rp4,9 Miliar: Sambungan Hidup yang Sempat Putus

29 Juli 2026 - 10:03 WIB

ASN Pulang Kampung: Berkah atau Bencana Pelayanan Desa?

29 Juli 2026 - 09:52 WIB

Aturan Baru Pilkades Purworejo Antisipasi Fenomena Kotak Kosong

27 Juli 2026 - 16:05 WIB

Warga Sumbar Diajak Aktif Jaga Ketertiban Lingkungan

25 Juli 2026 - 19:19 WIB

Ombudsman Evaluasi Pelayanan Publik Sumbar, OPD Diwajibkan Berinovasi

24 Juli 2026 - 22:20 WIB

Trending di KABAR