Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Sebanyak 87 pelajar dari Satuan Kerja Pendidikan Non-Formal (SKB) Semarang bersama 18 pendamping berpartisipasi dalam program edukasi kreatif yang mengubah eceng gondok, limbah dominan di Rawapening, menjadi souvenir bernilai jual. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kolaboratif untuk menghidupkan ekonomi kreatif di Kabupaten Semarang sekaligus mendorong wisata edukasi berbasis pemanfaatan limbah.
Kegiatan pembuatan gantungan kunci berbahan eceng gondok ini dipusatkan di pendopo inggil Wisata Bukit Cinta (Bukit tepi rawa Banyubiru) Kabupaten Semarang. Lokasi ini dipilih karena letaknya yang strategis, memungkinkan peserta melihat langsung panorama Rawapening, hamparan eceng gondok, serta aktivitas petani di sekitarnya.
Salah satu inisiator kegiatan mengungkapkan bahwa kerja sama dengan objek wisata ini bertujuan agar kawasan Bukit Cinta, Rawapening, tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga tempat belajar. “Kita memang bekerja sama dengan salah satu objek wisata. Kluster kami berada di sekitar Rawapening. Jadi kita kerja sama karena memang kita ingin agar wisata Bukit Cinta bisa menjadi tempat wisata yang tidak hanya berwisata, tapi bisa belajar beredukasi memanfaatkan apa yang ada di sekitar, yaitu eceng gondok,” jelasnya.
Dorong Kreasi, Hidupkan Potensi Lokal
Para pelajar diajari membuat dua jenis gantungan kunci, yakni berbentuk menara dan ikan. Meskipun waktu pelatihan hanya dua jam, tujuannya adalah memastikan setiap peserta dapat membawa pulang produk yang mereka buat sendiri. Keahlian ini diharapkan menjadi bekal hidup yang bermanfaat di kemudian hari.
Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang yang akan berkantor di ekor naga, menyambut baik kolaborasi ini. Ia berharap inisiatif ini menjadi sinergi yang kuat untuk membangkitkan Bukit Cinta, terutama terkait edukasi pemanfaatan eceng gondok.
Meskipun pemanfaatan eceng gondok oleh masyarakat sekitar telah dimulai sejak tahun 1995-an, pengolahan menjadi kerajinan baru dirintis secara serius sekitar tahun 1997-1998. Sebelumnya, warga hanya menjual eceng gondok dalam kondisi basah atau kering kepada pengusaha besar di luar daerah, seperti Pekalongan atau Jogja. Upaya rintisan ini berhasil mengubah status eceng gondok dari sekadar limbah menjadi komoditas kerajinan bernilai.
Proses Cepat, Prospek Cerah
Peserta pelajar mengaku proses pembuatan kerajinan, terutama gantungan kunci ikan, cukup menantang namun menarik. Seorang pelajar menyebut, jika sudah mahir, gantungan kunci ikan bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari lima menit. Bahkan, para pengrajin profesional bisa memproduksi 30 hingga 40 gantungan kunci ikan per hari, meskipun masih membutuhkan proses finishing.
“Kami berharap anak-anak mempunyai keterampilan, terutama dari anyam-anyaman eceng gondok, sehingga nantinya anak-anak bisa mengembangkan tidak hanya dari eceng gondok, tapi juga dari pita atau dari apa, sehingga mendapatkan ilmu untuk bekal hidup di kemudian hari,” tutup pendamping sekolah, menegaskan pentingnya program keterampilan ini bagi masa depan para pelajar.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.