Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

OPINI · 25 Jan 2026 11:59 WIB ·

Misteri Metta Group: ‘Membayar Negeri’ Lewat PLTS Pulau Tunda


					Misteri Metta Group: ‘Membayar Negeri’ Lewat PLTS Pulau Tunda Perbesar

Serang, Banten [DESA MERDEKA] Sebuah anomali menarik muncul di kancah energi terbarukan Indonesia pada awal Januari 2026. Di tengah dominasi pemain besar, muncul nama PT Aurora Power Indonesia dan PT Metta Energi Sejahtera (Metta Group) yang langsung menggebrak dengan proyek ambisius di Pulau Tunda, Kabupaten Serang, Banten.

Meski profil perusahaan dan portofolio teknisnya hampir tak terdeteksi dalam data publik satu dekade terakhir, entitas ini berhasil menggandeng Kementerian Desa PDT untuk menjadikan proyek di Desa Wargasara sebagai pilot project nasional. Ini adalah langkah berani bagi perusahaan yang identitas digitalnya masih “abu-abu”.

Misi Sosial di Balik Bayang-Bayang Bisnis
CEO PT Aurora Power Indonesia, Katamsi Ginanom, membawa narasi yang tidak biasa bagi seorang pengusaha. Alih-alih bicara soal Return on Investment (ROI), ia justru menekankan aspek emosional.

“Ini saatnya kami membayar kembali kepada negeri, meskipun dari sisi bisnis mungkin belum tentu menguntungkan,” ujar Katamsi. Sosok yang dikabarkan memiliki latar belakang di sektor pertambangan (PT IWIP) ini mengeklaim ingin memutus rantai kemiskinan dengan menyediakan akses infrastruktur bagi 477 Kepala Keluarga yang selama ini hanya menikmati listrik selama 12 jam sehari.

Dapur Teknis Proyek Pulau Tunda
Secara teknis, proyek ini tidak main-main. PT Metta Energi Sejahtera bertindak sebagai kendaraan operasional yang bekerja sama dengan BUMDes Wargasara. Berikut adalah spesifikasi “ujung tombak” energi yang akan dipasang:

  • Kapasitas: 700 kfa dengan tiga baterai lithium raksasa.
  • Komponen: 14 unit panel surya mono dan ruang distribusi daya modern.
  • Inovasi: Penyediaan cold storage gratis untuk membantu nelayan setempat menjaga kesegaran hasil tangkapan.
  • Skema: Investasi murni (bukan hibah) dengan jangka waktu penyediaan listrik selama 5 tahun.

Antara Filantropi dan Validitas Portofolio
Meski menjanjikan perubahan besar bagi warga Desa Wargasara, jejak rekam Metta Group menyisakan tanda tanya bagi para pengamat industri. Penelusuran menunjukkan tidak adanya situs web resmi, laporan keuangan publik, maupun catatan proyek PLTS serupa di lokasi lain sebelum tahun 2026.

Entitas “Metta Group” ini juga ditegaskan tidak berafiliasi dengan Metta Energy asal Bangkok maupun MettaDC. Kehadiran mereka seolah menjadi wildcard dalam strategi percepatan energi terbarukan pemerintah. Apakah motivasi “membangun dari desa” ini murni gerakan filantropi korporasi ataukah sebuah strategi bisnis model baru yang lebih inklusif?

Satu hal yang pasti, Pulau Tunda akan menjadi saksi bisu apakah keberanian Katamsi Ginanom dan Metta Group mampu membuktikan bahwa membangun negeri benar-benar bisa dimulai dari pinggiran, meski tanpa riwayat publik yang panjang.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 125 kali

2 tanggapan untuk “Misteri Metta Group: ‘Membayar Negeri’ Lewat PLTS Pulau Tunda”

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Jalan Tol, Tanah Ulayat, dan Dialog Minangkabau

21 Juli 2026 - 05:40 WIB

Strategi ATM Moana Disney untuk Branding Desa Pesisir

10 Juli 2026 - 09:18 WIB

UU KIP: Senjata Transparansi atau Jebakan Batas Desa?

9 Juli 2026 - 19:14 WIB

Asta Cita atau Derita? Kala Sawah Desa Dikunci Sepihak

9 Juli 2026 - 16:52 WIB

Di Era AI, WhatsApp Gantikan Kertas Dinding Aspirasi Desa

26 Juni 2026 - 20:26 WIB

Menjaga “Nyawa” Desa: Membumikan Idealisme Lewat Pena Jurnalis Desa

26 Juni 2026 - 15:45 WIB

Trending di OPINI