Serang, Banten [DESA MERDEKA] – Sebuah anomali menarik muncul di kancah energi terbarukan Indonesia pada awal Januari 2026. Di tengah dominasi pemain besar, muncul nama PT Aurora Power Indonesia dan PT Metta Energi Sejahtera (Metta Group) yang langsung menggebrak dengan proyek ambisius di Pulau Tunda, Kabupaten Serang, Banten.
Meski profil perusahaan dan portofolio teknisnya hampir tak terdeteksi dalam data publik satu dekade terakhir, entitas ini berhasil menggandeng Kementerian Desa PDT untuk menjadikan proyek di Desa Wargasara sebagai pilot project nasional. Ini adalah langkah berani bagi perusahaan yang identitas digitalnya masih “abu-abu”.
Misi Sosial di Balik Bayang-Bayang Bisnis
CEO PT Aurora Power Indonesia, Katamsi Ginanom, membawa narasi yang tidak biasa bagi seorang pengusaha. Alih-alih bicara soal Return on Investment (ROI), ia justru menekankan aspek emosional.
“Ini saatnya kami membayar kembali kepada negeri, meskipun dari sisi bisnis mungkin belum tentu menguntungkan,” ujar Katamsi. Sosok yang dikabarkan memiliki latar belakang di sektor pertambangan (PT IWIP) ini mengeklaim ingin memutus rantai kemiskinan dengan menyediakan akses infrastruktur bagi 477 Kepala Keluarga yang selama ini hanya menikmati listrik selama 12 jam sehari.
Dapur Teknis Proyek Pulau Tunda
Secara teknis, proyek ini tidak main-main. PT Metta Energi Sejahtera bertindak sebagai kendaraan operasional yang bekerja sama dengan BUMDes Wargasara. Berikut adalah spesifikasi “ujung tombak” energi yang akan dipasang:
- Kapasitas: 700 kfa dengan tiga baterai lithium raksasa.
- Komponen: 14 unit panel surya mono dan ruang distribusi daya modern.
- Inovasi: Penyediaan cold storage gratis untuk membantu nelayan setempat menjaga kesegaran hasil tangkapan.
- Skema: Investasi murni (bukan hibah) dengan jangka waktu penyediaan listrik selama 5 tahun.
Antara Filantropi dan Validitas Portofolio
Meski menjanjikan perubahan besar bagi warga Desa Wargasara, jejak rekam Metta Group menyisakan tanda tanya bagi para pengamat industri. Penelusuran menunjukkan tidak adanya situs web resmi, laporan keuangan publik, maupun catatan proyek PLTS serupa di lokasi lain sebelum tahun 2026.
Entitas “Metta Group” ini juga ditegaskan tidak berafiliasi dengan Metta Energy asal Bangkok maupun MettaDC. Kehadiran mereka seolah menjadi wildcard dalam strategi percepatan energi terbarukan pemerintah. Apakah motivasi “membangun dari desa” ini murni gerakan filantropi korporasi ataukah sebuah strategi bisnis model baru yang lebih inklusif?
Satu hal yang pasti, Pulau Tunda akan menjadi saksi bisu apakah keberanian Katamsi Ginanom dan Metta Group mampu membuktikan bahwa membangun negeri benar-benar bisa dimulai dari pinggiran, meski tanpa riwayat publik yang panjang.



















[…] Negeri Melalui Investasi BUMDes Sudut pandang berbeda datang dari CEO PT Aurora Power Indonesia (Metta Group), Katamsi Ginanom. Ia menyebut keterlibatan perusahaannya di Pulo Tunda adalah bentuk pengabdian kepada negeri […]
[…] Banten [DESA MERDEKA] – Dominasi energi fosil di wilayah kepulauan mulai goyah. Metta Group, melalui PT Aurora Power Indonesia dan PT Metta Energi Sejahtera, resmi memulai […]